Bubuy Sampeu dan Bugis

Kampung saya pernah tertimpa bencana paceklik, kesulitan sandang pangan. Ini terjadi sekitar tahun 1980-an, dan tentu saja ketika saya masih kecil. Pada masa-masa sulit tersebut, sawah dan ladang mengalami kekeringan sehingga penduduk tidak dapat menikmati hasil panen. Walhasil, untuk makan sehari-hari pun sulitnya bukan main.

Para orang tua terpaksa menggunakan jurus hemat agar bisa bertahan hidup, apalagi mereka yang punya banyak anak. Bayangkan saja, sepiring nasi harus cukup untuk berlima, tanpa lauk pauk.

Dari sanalah saya mulai mengenal sangu gaplek sebagai pengganti beras. Gaplek adalah ubi singkong yang dikupas, kemudian dijemur sampai kering. Cara memasaknya seperti menanak nasi, yaitu disimpan dalam aseupan sampai hipu. Setelah matang, kemudian ditaburi sedikit garam.

Dari kesulitan makanan seperti itu, muncullah berbagai kreativitas. Apapun yang bisa dikonsumsi, diolah sedemikian rupa. Pagi-pagi sudah ngabubuy sampeu, dimakan bersama dengan gula kawung. Siangnya kukuluban, seperti kulub hui, kulub ganyong, kulub taleus, dsb.

Selama hidup di kampung, saya mengenal puluhan jenis makanan Sunda made in nenekku. Mulai dari makanan “berat” (yang banyak mengandung karbohidrat) sampai makanan ringan. Dan seperti yang dikatakan oleh H. Unus Suriawiria (alm), ternyata sebagian makanan Sunda itu berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Dilihat dari pengolahannya, makanan Sunda itu ada yang dibeuleum, dikulub, diseupan, dipais, digoréng atau dimakan mentah-mentah seperti lalab-lalaban. Ngomong-ngomong soal lalab, kata Kang Yaya yang tinggal di Korea téa, selain mengandung banyak protein dan mineral, pada lalab juga terkandung pyrroloquinoline quinone yang sangat baik bagi kesehatan tubuh.

Untuk sekedar dokumentasi, saya kemudian mencoba mencari referensi tentang makanan Sunda. Ternyata sangat banyak jenisnya. Bahkan, di antaranya, saya pun belum pernah mencicipinya. Mudah-mudahan ada waktu untuk membahasnya satu per satu. Adapun daftarnya dapat dilihat di sini.***(Dadan Sutisna)


Tags: ,