TEATER Sunda Kiwari (TSK), meraih rekor ke-3070 dari MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia) sebagai pelaksana Festival Drama Bahasa Sunda (FDBS) terlama, 20 hari berturut-turut, dalam FDBS X 11 Pebruari-1 Maret 2008. Menurut manajer MURI Paulus Pangka, prestasi TSK itu adalah rekor dunia, tidak hanya sebatas Indonesia, karena festival drama dalam bahasa lokal adalah peristiwa yang langka di seluruh dunia.

R. Dadi P. Danusubrata saat menerima piagam MURI (foto: Ua Sas)
Rekor itu diperoleh atas pengajuan yang diprakarsai oleh KDKBK (Kelompok Diskusi Kota Bandung Kidul), Rumah Baca Buku Sunda, PP-SS (Panglawungan Pangarang Sastra Sunda), dan Yayasan Perceka.
Pengajuan itu sebagai bentuk apresiasi atas prestasi TSK yang luar biasa. Selain mampu bertahan sebagai kelompok teater Sunda selama 33 tahun, setiap penyelenggaraan FDBS, grafik pesertanya selalu meningkat. Secara rutin, dalam setiap tahun TSK juga menyapa masyarakat melalui pementasan berbagai lakon. TSK adalah bukti yang nyata sebuah ketahanan budaya masyarakat Sunda. TSK dapat menjadi teladan kongrit bagi semua pihak yang mencintai kebudayaan Sunda. Oleh kelompok seperti TSK inilah pelestarian budaya, khususnya bahasa Sunda, dilakukan tanpa basa-basi.
Memang, masih terdapat sejumlah kekurangan dalam penampilan TSK di tengah masyarakat Sunda. Misalnya soal kurangnya publikasi, sedikitnya naskah yang bagus untuk dipentaskan, manajerial, dan fasilitas gedung pertujukan yang kurang memadai. Tidak semua kekurangan itu hams dipenuhi oleh TSK, tetapi semua komponen masyarakat Sunda yang peduli juga harus ikut memperbaikinya.
Di sisi lain, perhatian pihak pemerintah kepada TSK dirasakan masih sangat kurang. Dalam setiap penyelenggaraan FDBS, termasuk yang ke-10 itu, TSK selalu dililit persoalan pendanaan. FDBS X misalnya, tidak menyentuh perhatian pemerintah Kota Bandung yang, konon, menjadikan 2008 sebagai tahun budaya. Bantuan dari pihak provinsi, pun ternyata tak cukup untuk sekedar membayar sewa gedung. Padahal, selama pelaksanaan FDBS, ribuan anak muda Sunda datang berduyun-duyun untuk menonton. Hebatnya, minimnya perhatian tersebut tak pernah menjadikan TSK mundur atau sekedar berkecil hati. Bagi TSK, berteater adalah ibadah yang harus didasari keikhlasan. Menyelenggarakan festival adalah bagian dari pertanggungjawaban moral kepada masyarakat. Ada atau tidaknya bantuan yang memadai dari pemerintah, TSK akan tetap berjalan.
Semoga rekor tersebut dapat menjadi kado istmewa bagi TSK yang telah mampu bertahan selama 33 tahun sejak didirikan pada 1975. Sebagai bagian dari masyarakat yang ingin ikut serta dalam rombongan pelestari budaya Sunda, kami bangga dengan prestasi TSK itu. Dan baru inilah yang dapat kami persembahkan: rekor MURI ke 3070. Kami berharap, pada FDBS XI yang akan datang (2010), rekor tersebut dapat dipecahkan. Semoga.
Bandung, 29 April 2008
KDKBK (Iip D. Yahya)
Rumah Baca Buku Sunda (Mamat Sasmita)
PP-SS (Etti RS) Yayasan Perceka (Jamaludin Wiartakusumah)
Aldi - 13-07-2008 pukul 19.28
Salut deh buat tsk. Rekor guinnessnya di tunggu