Cerita Pendek Annisa Wulandari

IBU, apakah kau masih sekolah? Ah, mungkin kau sedang bersenda gurau dengan teman-temanmu. Atau, mungkin juga kau sedang memikirkanku, seperti aku memikirkanmu.

Aku sengaja mengirim surat ini karena tak tahan dengan rasa dingin yang sejak kemarin menusuk kulitku. Kemarin Ibu membekaliku selembar kain, tapi itu ternyata tidak cukup. Aku butuh kehangatan, mungkin juga pelukanmu. Aku ingin curhat pada Ibu dan menceritakan keadaan di sini: tentang malam berbintang, langit berbulan sabit, juga bau busuk yang menyesakkan nafasku.

Ibu, aku masih ingat, dulu kau sering membawaku ke sekolah. Aku tidak tahu di mana letak sekolah itu, tapi aku bisa merasakannya. Kayaknya ramai ya, Bu. Aku kan denger juga percakapan Ibu dengan teman-temanmu, atau suara bariton Pak Guru ketika sedang memberikan pelajaran di kelas.

Ke mana pun Ibu berjalan, kau selalu membawaku. Waktu itu.

Hari-hariku gelap gulita, aku tak tahu siang dan malam, namun aku sangat nyaman dalam dekapanmu. Seringkali aku berteriak memanggilmu, menyapamu, walau Ibu tak pernah mendengarnya. Kadang aku juga merasakan belaianmu-dan kala itu kau terisak-isak. Ibu menangis?

Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Ibu, juga padaku, anakmu. Iya, Bu, waktu itu aku hanya menggunakan pendengaran dan perasaan, untuk menebak apa yang sedang terjadi.

Ibu kenal sama Sinta, bukan? Ya, aku sering mendengar nama itu kau sebut-sebut. Mungkin dia sabahat dekatmu, karena kau sering berbincang dengannya ketika berada di sekolah. Suatu saat, Ibu berbincang dengan Sinta di bawah pohon.

“Ngobrolnya di bawah pohon, yuk!” ajak Ibu. Ibu kemudian berjalan, mungkin bergandengan dengan Sinta, dan tentu saja aku ikut.

“Kau sedang punya masalah?”

Ibu tak menjawab.

“Kenapa ngajak ke sini kalau cuma membisu?”

“Aku bingung, Sin…”

“Bingung kenapa? Kalau nggak diceritain, aku nggak bakal tahu apa yang membuatmu bingung.”

“Semestinya ini tak boleh terjadi. Aku belum siap. Aku masih ingin bebas seperti teman-teman lainnya…”

“Kau disuruh nikah ama bokapmu? Ya nikah aja kalau kau sudah siap…”

“Masalahnya bukan itu…”

“Lantas apa?”

“Apa yang pernah terjadi padamu, terjadi juga padaku…”

“Terjadi padaku, terjadi padamu… Aku nggak ngerti!”

“Waktu itu kau juga bingung, kan? Kau juga menangis, kan?”

“Waktu itu? Kapan?”

“Kamu pernah tidak masuk sekolah selama satu minggu. Terus kamu cerita, kalau kamu abis…”

“Emh, kau juga ikut gila, Mir?”

“Bukan gila, tapi bingung…”

“Menurutku bingung dan gila nggak ada bedanya. Kenapa kau ikut latah dengan perbuatanku?”

“Mestinya kau nggak bertanya begitu?”

“Terus aku harus nanya apa?”

“Ya apa aja lah, buat nyari solusi…”

“Begini. Kita temuin si keparat itu, dia jangan enak sendiri dong…”

“Terus…”

“Terus… ya nggak ada pilihan lain, kalau kau masih ingin sekolah.”

“Masalahnya aku nggak sanggup melakukannya…”

Waktu itu aku sangat ngantuk, Bu. Aku kemudian tidur dan tidak sempat mendengar percakapan Ibu selanjutnya. Aku hanya bertanya-hanya, siapa si keparat itu?

Namun tak lama kemudian, aku bisa mendengar suara si keparat. Aku juga ikut marah, ketika ibu disumpah-sumpah. Ingin rasanya aku melompat dan membela Ibu. Menerjang si keparat itu.

“Kau bajingan!” kata Ibu sambil terisak-isak.

“Mir, dulu nggak bakalan nyesel. Tapi tiba-tiba sekarang kau menterorku seperti itu!”

“Bukan menteror, aku cuma ingin kau juga memikiran keadaanku. Kau masih bisa tertawa, sementara aku?”

Ah, aku pusing, Bu, kalau mendengar orang bertengkar. Tapi aku membela Ibu kok, karena Ibu selalu membawaku ke mana pun kau pergi.

Suatu waktu, Sinta mengajak Ibu pergi, entah ke mana. Tiba-tiba aku merasa bahwa inilah saat perpisahan kita. Beberapa hari sebelumnya, aku mendengar rencana Ibu dengan Sinta. Katanya di suatu tempat, aku dan Ibu bisa dibelah menjadi dua. Seperti juga yang dilakukan Sinta beberapa tahun lalu.

Saat itu aku merasa bahwa Ibu sangat egois. Kau mengambil keputusan sendiri tanpa mengajakku berunding. Kalau saja kau mengajakku bicara, mungkin ada cara lain, karena sesungguhnya aku tak mau berpisah dengan Ibu.

Mungkin Ibu ikut merasakan, bagaimana sakitnya aku ketika tubuhku didorong dengan paksa. Aku benci Ibu waktu itu. Aku sakit. Aku menangis dan menyumpahi Ibu. Namun Ibu tak pernah mendengarnya.

Dan perpisahan pun tiba. Aku dibawa seseorang, menyusuri kali, dan tibalah di sini, di tempat yang berbau busuk. Aku diletakkan-setengah dilempar. Tubuhku dibalut kain, tapi aku sangat kedinginan. Aku sendiri di sini, Bu. Tak ada siapa-siapa.

Tentu Ibu lebih mengerti, apa yang sebenarnya terjadi padaku, juga pada Ibu. Namun, apapun yang terjadi, hanya satu permohonanku. Tengoklah aku, Bu. Di sini, di tempat berbau busuk. Kalau pun Ibu tak bisa mengabulkannya, aku mohon, balaslah surat ini.***


Tags: , , ,