(Sebuah Catatan Membaca dan Menulis Cerita Anak-anak)

 Oleh DADAN SUTISNA

SAYA dilahirkan di sebuah kampung terpencil, di pinggiran Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Kampung itu bernama Pasirloa, letaknya kurang lebih 6 km dari jalan raya. Sebagian besar penduduk di kampung saya bekerja sebagai petani, termasuk orang tua saya. Mereka menggunakan bahasa Sunda untuk percakapan sehari-hari.

Tahun 1980-an, kampung saya boleh dibilang tertinggal. Belum ada listrik, belum ada sarana transportasi, untuk pergi ke pasar pun mesti jalan kaki, jaraknya sekitar 7 km.

Saya memulai sekolah di SD Karanglayung yang terletak 2 km dari kampung. Bangunan sekolah di tengah sawah, jauh dari pemukiman, dan murid-murid berjalan kaki, menyebrangi sungai, ketika pergi dan pulang sekolah. Kegemaran membaca saya dapatkan di sekolah itu. Ada sebuah perpustakaan yang tidak terurus, dipenuhi debu, buku-bukunya banyak yang robek diserang tikus.

Kegemaran meminjam buku bermula ketika pada pelajaran membaca, Pak Guru membagikan buku yang sudah lusuh untuk dibaca oleh para siswa. Buku itu berjudul Taman Pamekar, berbahasa Sunda, diterbitkan oleh Taraté Bandung, 1975.  Tokoh-tokoh dan cerita dalam Taman Pamekar, sangat kental dengan situasi perkampungan, malah hampir mirip dengan keadaan di kampung saya. Mungkin itu yang menyebabkan Taman Pamekar, tetap menempel dalam ingatan saya sampai sekarang.

Ternyata di perpustakaan sekolah masih banyak buku lainnya. Saya kemudian meminjam buku-buku tersebut, dan waktu di luar sekolah sering dihabiskan untuk membaca. Sebagai anak kampung, saya dituntut oleh orang tua untuk membantu bekerja di sawah, mengurusi ternak, mencari kayu bakar ke hutan. Membaca, dalam pendapat orang kampung waktu itu, mungkin hanya pekerjaan malas-malasan. Berbeda dengan mencangkul di sawah atau menyabit rumput. Saya tak luput dari tegoran orang tua, saya sering lalai pada pekerjaan karena tergoda oleh buku.

Buku-buku yang saya baca, kebanyakan cerita anak-anak dalam bahasa Sunda dan Indonesia. Karena membaca, saya mengenal beberapa pengarang cerita anak seperti Djokolelono, Soekanto S.A. dan Marcus A.S (pengarang Indonesia), Samsoedi, Ahmad Bakri  dan Akub Sumarna (pengarang Sunda), serta beberapa pengarang lainnya. Tiba-tiba waktu itu saya terobsesi untuk bisa seperti mereka, mengarang cerita untuk anak-anak.

Namun karena keterbatasan dana, saya tidak bisa membaca buku selain yang ada di perpustakaan. Tak ada jatah dari orang tua untuk membeli buku, apalagi setiap berangkat sekolah saya hampir tidak pernah dibekali uang jajan.

Tahun 1991 saya masuk SMP. Kesempatan untuk membaca buku semakin luas karena di perpustakaan SMP koleksi buku-buku cerita lebih banyak. Perjalanan dari kampung ke sekolah menempuh jarak 6 km dengan berjalan kaki. Dan buku-buku sering menemani saya di perjalananan.

Waktu itu sudah ada keinginan untuk mengarang. Saya kemudian mencoba menulis cerita dalam bahasa Sunda dan kemudian dibacakan di hadapan teman-teman di kelas. Ternyata mereka menyukainya. Teman-teman mendukung dengan memberikan kertas dan ballpoint agar saya lebih semangat menulis. Malah, beberapa teman menawarkan pinjaman mesin tik.

Saya mencoba mengirim cerita-cerita tersebut ke majalah/koran berbahasa Sunda. Bukan main girangnya ketika tulisan saya dimuat, dan semangat menulis pun menjadi-jadi. Saya kemudian menabung dari honor tulisan tersebut, dan ketika SMA saya bisa membeli sebuah mesin tik.

Selama SMA, puluhan judul karangan dalam bentuk prosa dimuat, kebanyakan cerita anak-anak. Saya mengisi rubrik “Mupu Kembang” di koran Galura dan “Manglé Alit” di majalah Manglé. Hampir setiap minggu tulisan saya dimuat. Kelas 3 SMA, saya mencoba menulis cerpen dewasa, dan diikutkan dalam sebuah sayembara di Bandung. Cukup gembira walaupun hanya mendapat juara harapan.

Setelah tamat SMA, tahun 1997, saya langsung bekerja di majalah Manglé. Kerinduan pada cerita anak-anak, ternyata mendapat sambutan. Di Majalah Manglé saya dipercaya mengasuh rubrik anak-anak.

Saya kemudian menulis buku anak-anak berbahasa Sunda, Nu Ngageugeuh Legok Kiara (Penghuni Legok Kiara) dan Misteri Haur Geulis, dua-duanya mendapat Hadiah “Samsudi” dari Yayasan Kebudayaan Rancagé tahun 2002 dan 2004.

Alasan saya mengarang cerita anak-anak, mungkin juga dipengaruhi oleh buku-buku yang pernah saya baca. Apalagi, saat ini, buku bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda kian langka karena terputusnya tradisi menulis cerita anak-anak. Saya kira setelah Samsudi, tidak ada lagi pengarang yang secara khusus mendalami cerita anak-anak.

Alasan lain, latar belakang saya di pedesaan. Saya ingin memindahkan situasi di pedesaan ke dalam tulisan, dan diketahui oleh anak-anak kota melalui bacaan. Budaya lokal, lingkungan, dan kebiasaan masyarakat tradisional yang sudah menjauh dari anak-anak sekarang bisa diperkenalkan lagi melalui bacaan.

Pesan dibalik cerita, tentu saja ada. Dalam Nu Ngageugeuh Legok Kiara misalnya, temanya tentang pemeliharaan lingkungan, dan dalam Mistéri Haur Geulis tentang budaya lokal.***