Oleh ATEP KURNIA

Orang Sunda suka dongeng. Bukti yang amat nyata adalah dongeng via radio. Antara tahun 1970-an hingga 1990-an dunia dongeng di radio menarik perhatian para pendengarnya. Saat itu, banyak radio yang menyajikan acara dongeng.
Beberapa radio yang menyiarkannya seperti Radio Sangkuriang, Radio Garuda, dan Radio Shinta. Rachmat Dipraja dan Wa Kepoh jadi ikonnya. Keduanya termasuk jurudongeng radio yang hebat. Suaranya dinanti-nanti orang.
Kisah-kisahnya pun tak kalah menarik. Ada dongeng silat yang mengisahkan para jawara dengan ilmu kedigdayaannya, seperti Si Buntung Jago Tutugan. Selain itu, ada juga genre cerita misteri dan romantika kehidupan. Seperti Gumilar, Jaka Santang, Nurelah, Neng Elah, Ir. Mardi, dll.
Tetapi yang jarang disadari adalah sumber-sumber pengisahannya. Ternyata dongeng Sunda via radio bertalian erat dengan penerbitan roman pop Sunda di era 1960-1970-an. Keberadaan buku-buku ini juga sangat populer di masanya. Jumlahnya mencapai ratusan judul buku.
Buktinya, dari situs-situs di internet tercatat, misalnya Perpustakaan Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) mengoleksi roman Sunda paling tidak 270-an judul. Atau perpustakaan KITLV yang mengoleksi ratusan judul.
Ditambah lagi setiap judul itu terdiri dari satu sampai beberapa puluh seri. Misalnya Waliwis Bodas (Tjaringin, 1969) karya S. Sukandar yang terdiri dari 45 jilid. Atau Si Buraong (Wargina, 1971) karya K. Soekarna yang terdiri dari 43 jilid.
Penulisnya pun cukup banyak. Misalnya, ada A. Roestandi yang menulis seri Andjar (Pusaka Sunda, 1967). Atau A. Tolib yang mengarang Pusaka nu Menta Wadal (Romanato, 1970). Atau Juda Djaja dengan Djaka Tarum (Laksana, 1970). Juga Tatang KS yang mengarang Rusiah Euis Marlinah (Wargina, 1969).
Tetapi tentu saja yang fenomenal adalah K. Soekarna dan S. Sukandar. K. Soekarna, misalnya, terkenal dengan bukunya Sirod Djelema Gaib (Saputra, 1969). Dan S. Sukandar terkenal dengan romannya Si Buntung Djago Tutugan (Tjaringin, 1969), yang dijadikan babon dongeng radio berjudul sama.
Di antara sekian banyak nama pengarang roman Sunda ada beberapa pengarang yang memakai nama samaran. Misalnya nama Koko, Juda Djaja, atau Supermen. Nama asli Koko dan Juda Djaja adalah M. O. Suratman, seorang purnawirawan berpangkat kapten yang tinggal di Jalan Babakan Tarogong, Bandung.     Sedangkan nama Supermen ternyata nama samaran S. Sukandar.
Menurut koropak pembaca (dalam Sulit Ati Belang Bayah, 1972: 35-36) sampai tahun 1972 ada beberapa pengarang yang masih aktif menulis roman pop Sunda. Mereka adalah Wahyu Adam, Ki Masram, Supermen, Juda Djaja, dan Entang S. Mereka suka berkumpul di Perpustakaan Aneka yang berada di Jalan Pagarsih No. 179A Bandung dan dipimpin oleh M.O. Suratman.
Tetapi mengapa sampai terjadi boom di era tersebut? Mungkin ada beberapa sebab. Di antaranya, peran agen dan taman bacaan yang memungkinkan roman pop Sunda tersebar luas. Buktinya, bila kita mencermati buku-buku tersebut, di dalamnya bisa dipastikan ada rujukan mengenai agen yang mendistribusikannya.
Selain itu, di dalamnya juga biasanya kita akan mendapatkan nama-nama taman bacaan yang menyediakan buku-buku roman pop Sunda. Misalnya, untuk penerbit Romanato dan Sinar Wulan agennya adalah Toko Buku Nasional Suka Asih yang bertempat di Jalan Rd. Dewi Sartika 1H, Bandung.
Bisa jadi pula dari selera pembacanya. Pembaca roman pop Sunda, saya pikir, bukanlah orang yang mau dibebani hal-ihwal kesusastraan. Kelihatannya yang penting rame dan mengundang rasa panasaran. Mereka juga mungkin tidak peduli apakah roman itu karya sastra atau bukan.
Tapi sayang, hingga saat ini, rasa-rasanya belum ada pengamat atau kritikus yang meneliti tentang buku-buku tersebut. Baik mengenai genre, kandungan sastra, maupun pengaruhnya terhadap masyarakat Sunda.
Padahal, jangan-jangan masyarakat Sunda mengenal sastra Sunda itu berasal dari roman-roman tersebut. Bukan dari karya-karya yang menjadi kanon sastra Sunda, sebut saja misalnya Baruang ka nu Ngarora (D.K. Ardiwinata), Mantri Jero (R. Memed Sastrahadiprawira), atau Diarah Pati  (Margasulaksana).

*penulis lepas, tinggal di Bandung.


Tags: , ,