Oleh. Atep Kurnia
PAREUMEUN obor. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi generasi muda Sunda kiwari. Generasi muda Sunda sekarang nampak gelagapan dan tertatih-tertatih untuk mengenal dan memahami tata-nilai kesundaan.
Hal tersebut menurut hemat saya disebabkan karena proses pewarisan budaya yang selama ini berlangsung cenderung dipaksakan tanpa mencermati perubahan yang terjadi dalam segala aspek kehidupan masyarakat Sunda kiwari.
Sedangkan generasi tua Sunda umumnya tersita perhatiannya dengan panineungan-panineungan masa lalunya. Selain itu, banyak di antara mereka yang menganggap nilai-nilai tradisi Sunda masa lalu sebagai sesuatu yang serba luhur.
Hal ini tentu saja kurang bijak dilakukan untuk sebuah pewarisan budaya. Selain kurang tepat sasaran, hal tersebut tentu akan berbenturan dengan konteks generasi muda Sunda sekarang.
Sebab, bisa jadi nilai-nilai tradisi Sunda yang selama ini dianggap bernilai tinggi oleh generasi tua Sunda, sebenarnya mengandung unsur-unsur yang justru tidak bernilai luhur. Karena bisa jadi hal tersebut hanya sesuai dengan zamannya saja.
Selain itu, yang lebih dikhawatirkan adalah generasi yang mewarisi budaya Sunda yang berorientasi kepada orang tua nantinya justru akan menjadi generasi yang back to the past, nyoreang mangsa ka tukang.
Hal ini bisa jadi dapat menciptakan budaya Sunda yang mandeg. Padahal budaya bukanlah sesuatu yang baku dan statis, tetapi sebaliknya merupakan sesuatu yang terus bergerak dinamis dan berubah sesuai dengan perkembangan zaman.
Nilai dan Akses Informasi
Nilai-nilai tradisi Sunda dapat dibagi dua. Pertama, nilai tradisi Sunda yang terkandung di dalam explicit knowledge (pengetahuan yang tersurat), seperti peribahasa, dongeng, sisindiran dan naskah-naskah kuna.
Yang kedua, nilai tradisi Sunda yang bersumber dari tacit knowledge (pengetahuan yang tersirat). Pengetahuan ini terdiri dari pola pikir, sikap, dan kearifan orang Sunda di dalam menghadapi dan mengatasi masalah kehidupannya.
Pewarisan budaya Sunda tentu harus mengutamakan keduanya. Tetapi sayangnya hal tersebut nampak masih jauh dari harapan. Dari segi pengetahuan tersurat, tidak tersedianya atau kurangnya akses informasi untuk mengetahui dan mempelajari khazanah kebudayaan Sunda.
Buku-buku yang memuat pengetahuan kesundaan sedikit diterbitkan. Naskah-naskah Sunda kuna kurang yang meneliti. Dan tradisi-tradisi lisan banyak ditinggalkan orang. Sungguh kontras bila dibandingkan dengan akses informasi untuk mengenal budaya asing, terasa begitu dekat dan mudah diperoleh.
Demikian pula dengan tacit knowledge-nya, pengetahuan ini sepertinya tidak sampai kepada generasi muda Sunda. Bisa jadi karena adanya gap antara generasi tua dan generasi muda Sunda. Akibatnya, pewarisan budaya Sunda dari generasi tua ke generasi mudanya tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Generasi tua Sunda terkesan mengawang-awang. Bahkan romantis. Mereka tampak enggan turun langsung melihat kondisi riil di lapangan. Mereka enggan untuk mencoba terjun langsung ke “kantung-kantung” pewarisan budaya, dalam hal ini arena generasi muda, misalnya mendatangi sekolah-sekolah dasar dan menengah.
Selain itu, mereka merasa cukup dengan hanya mengeluarkan uang untuk membiayai hal-hal yang bersifat seremonial belaka. Tanpa berusaha mencoba memikirkan cara yang lebih berkesinambungan.
Tetapi yang lebih mengkhawatirkan adalah tidak adanya inisiatif dari generasi muda untuk menyerap nilai-nilai kesundaan. Mereka tidak suka membaca buku Sunda. Mereka enggan mengkaji kearifan budaya Sunda yang terdapat di dalam tradisi lisan. Dan mereka tidak kreatif menimba khazanah tacit knowledge dari generasi tua Sunda.
SolusiMenurut Hendayana (2004), ada tiga langkah yang perlu dilakukan untuk mempertahankan hubungan orang Sunda dengan nilai tradisinya.
Pertama, inventarisasi. Kegiatan ini mencakup pemilahan nilai-nilai luhur yang cocok untuk menghadapi tantangan-tantangan yang datang menerjang kebudayaan Sunda. Dengan demikian, diharapkan orang Sunda - terutama generasi mudanya - memiliki bargaining position atau counter culture ketika datang tantangan.
Kedua, redefinisi. Menurut Hendayana “redefinisi” mengacu kepada “upaya untuk membuat teks (nilai tradisi) itu mempunyai konteks dengan zaman kini Sunda yang berpikiran maju, bukan cuma sekadar Sunda yang berkutat dengan “nilai-nilai tradisi”, tanpa terdorong untuk menatap “nilai-nilai masa depan.”"
Kegiatan ini berupa kaji ulang dan pemberian tafsir baru terhadap nilai-nilai kesundaan yang dirasa menghalangi gerak langkah orang Sunda. Oleh karena itu, ungkapan-ungkapan seperti caina herang laukna beunang atau bengkung ngariung bongkok ngaronyok haruslah ditinjau ulang, sejauh mana manfaat dan madaratnya.
Sedangkan yang ketiga adalah revitalisasi. Alwasilah (2006) memaknai revitalisasi sebagai “upaya terencana, sinambung, dan diniati agar nilai-nilai budaya itu bukan hanya dipahami oleh para pemiliknya saja, melainkan juga membangkitkan segala wujud kreativitas dalam kehidupan sehari-hari dan dalam menghadapi berbagai tantangan.”
Selain itu, untuk memperkuat pemahaman generasi muda kepada budaya Sunda, penting sekali untuk mengintensifkan pengajaran bahasa Sunda kepada mereka.
Di dalam hal ini, tetap saja berpangkal pada peran orang tua. Orang tua atau generasi tua Sunda harus rela mengesampingkan ego mereka dan tetap memperkenalkan dan menjaga budaya Sunda.
Cara yang bisa ditempuh, misalnya selalu menggunakan bahasa Sunda kepada anak-anaknya di rumah. Cara ini berguna untuk menjaga agar tidak terjadi adanya gap antargenerasi dalam rangka mewariskan bahasa daerah.
Solusi kedua, peran sekolah. Di dalam hal ini, pengajaran budaya Sunda dan bahasa Sunda harus dianggap sangat penting dan mendesak. Faktor guru juga sangat penting diperhatikan. Para guru dituntut untuk lebih kreatif dengan mencari jalan agar pengajaran bahasa Sunda lebih efektif.
Demikianlah masalah yang dihadapi generasi muda Sunda sekarang. Saya rasa, peran orang tua dan pendidikan-lah yang bisa diharapkan dapat menumbuh-kembangkan bahasa dan budaya Sunda sehingga generasi muda dapat melangkah ke depan dengan langkah yang yakin. Seperti berjalan malam yang diterangi obor.
*Penulis, Penulis Lepas, Tinggal di Bandung