Oleh ATEP KURNIA

Dari zaman Prabu Siliwangi hingga kini orang Sunda terkenal suka berkelakar. Ikonnya tentu saja Mamang Lengser dari kisah-kisah pantun Sunda. Atau Si Kabayan yang hidup dalam cerita lisan orang Pasundan. Lebih jelasnya dapat dilihat dalam kepustakaan Sunda, terutama yang menyangkut kumpulan humor.

Sepanjang sejarah penerbitan buku-buku Sunda, paling tidak ada 24 judul buku dan dua berkala yang mengkhususkan diri pada humor. Buku humor yang pertama terbit adalah Goegoejon karya Mas Sastrawinata dan S. Goenawan yang diterbitkan oleh Commisie voor de Volkslectuur pada tahun 1922. Disusul Goegoejon Astahiam karya Eta (sandiasma), diterbitkan di Tasikmalaya pada 1923. Dan pada tahun 1928 terbit Goenoeng Gelenju (50 Dongeng Pigoemoedjengeun) yang disusun oleh Joehana dan diterbitkan oleh Toko Boekoe Dachlan-Bekti.

Menginjak tahun 1930-an ada dua judul buku humor Sunda yang tercatat terbit. Pertama, Dogdog Pangrewong karya G.S. yang diterbitkan oleh Bale Poestaka pada 1930. Kedua, Landong Baeud yang dikumpulkan dan diterbitkan oleh Bale Poestaka pada 1937.

Tetapi antara tahun 1940-an-1950-an tidak tercatat ada buku-buku kumpulan humor Sunda yang terbit. Baru pada tahun ‘60-an tercatat ada tiga judul yang terbit. Badingkut: opatwelas sesebitan … pikasebeleun (Pusaka Sunda, 1966) oleh Oey Eng Soe yang pertama. Kedua, Angeun Haseum: kumpulan tjarita lulutjon (Pustaka Sunda, 1966) susunan M.A. Salmoen. Satu lagi Buntut Oa (1966) karya Ki Cakakak.

Selanjutnya pada era ‘80-an muncul Gelenyu: kumpulan dongeng lulucon Sunda (Tarate, 1980) karya R. Ijeng Wiraputra. Kemudian ada Tamba Hanaang: kumpulan carpon rehe (Angkasa, 1983), Maman MS. Sementara Usep Romli muncul dengan Oray Bedul Macok Mang Konod: dongeng-dongeng lulucon (Rahmat Cijulang, 1983). Dan pada 1986, Mangle Panglipur menerbitkan Pabrik Seuri: gudang ha ha ha susunan Ki Umbara.

Seolah naik-turun, pada era ‘90-an hanya terbit dua judul. Yuhara Sukra menyusun Tamba Gado Ngaburayot (Gunadarma, 1992) dan Taufik Faturohman mengumpulkan leluconnya pada Beregejed: kumpulan guguyon Sunda (Geger Sunten, 1995).

Memasuki milenium baru, buku humor Sunda cukup subur. Sampai tahun 2006 saja, sudah tercatat setidaknya 10 judul buku. Ukur Banyol (Mangle Panglipur, 2000) karya Dadan Sutisna dan Dhipa Galuh Purba yang pertama.

Selanjutnya ada: Sabulangbentor: kumpulan guguyonan (Geger Sunten, 2001) karya Taufik Faturohman; Sura-Seuri Sunda: humor teh daria, nu daria dihumorkeun (Kiblat Buku Utama atau KBU, 2004) susunan H.D. Bastaman; Kapiasem: kumpulan pangalaman anu teu kapopohokeun (Grama, 2004) karya Asep Kusnaedi; dan Dulag Nalaktak (KBU, 2006) karangan H. Usep Romli HM.

Ketika orang Sunda sudah masuk ke internet, masuk juga banyolan atau leluconnya. Buktinya Yayasan Perceka yang dibentuk oleh Komunitas Urang Sunda di Internet (KUSnet) menerbitkan tiga judul buku. Yang pertama Sajak, Banyol, jeung Sajabana (2002). Kemudian Sura-Seuri Siga Sero: heureuy bin banyol urang Sunda di internet (2002). Yang ketiga, Keom Sakedap susunan Syam Ridwan (Yayasan Perceka dan KBU, 2006). Ketiga buku tersebut sebelumnya banyak yang pernah ‘nyemplung’ di internet

Dan pada saat ini juga lahir dua seri kartun Sunda yang lucu. Pembuatnya Edyana Latief. Judulnya Si Mamih. Jilid 1 terbit tahun 2004 dan jilid 2 pada 2006.

Penerbitnya KBU.

Selain itu, ada yang perlu ditambahkan. Publik Sunda pernah ‘diperkaya’ rasa humornya dengan terbitnya dua berkala yang mengkhususkan diri pada hal-hal yang berbau lucu dan membuat terpingkal-pingkal. Yang pertama Cakakak: kumpulan carita humor. Bulanan ini pertama terbit pada bulan September 1987 dan diawaki oleh Taufik Faturohman, Eddy D. Iskandar, Ibing Kusmayatna, Asep Sunandar Sunarya, dll. Penerbitnya Kharisma Grafika.

Pada tahun 2001 juga ada berkala sejenis yang terbit. Borohol: seri humor Sunda, namanya. Untuk seri pertamanya diberi judul Teluh Dangdut. Penulisnya Eriyandi B. Nagun dan diterbitkan oleh CV. Wahana Iptek, Bandung, pada bulan April.

Begitulah, sekilas lintas perkembangan buku-buku humor Sunda dari dulu hingga kini. Yang terang, buku-buku tersebut justru memperjelas bahwa orang Sunda memang suka berhumor ria. ***