Oleh: Dadan Sutisna

Yopi Setia Umbara bermaksud memperlihatkan berbagai kreativitas dalam bahasa Sunda. Dalam tulisannya “Bahasa Sunda dan Kreativitas” di Kompas (8/3/2008), Yopi mengawali dengan pernyataan bahwa menurut data UNESCO tahun 2007, bahasa Sunda berada pada peringkat ke-33 sebagai bahasa ibu yang digunakan masyarakat penuturnya.

Sejak tahun 2005 saya mengamati kegiatan Hari Bahasa Ibu Internasional (HBII) melalui website UNESCO (http://unesco.org). Website tersebut memuat secara lengkap kegiatan HBII sejak tahun 2000, termasuk sejarahnya, serta artikel-artikel seputar keadaan bahasa di berbagai negara.

UNESCO tak pernah membuat peringkat bahasa, apalagi menyatakan bahwa bahasa Sunda berada di urutan ke-33. Wacana tentang peringkat bahasa tersebut, saya kira, berawal dari tahun 2006 ketika Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PP-SS) mengadakan peringatan HBII atas kerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta Universitas Padjadjaran.

Salah satu kegiatan peringatan HBII tahun 2006 tersebut adalah mencari data perkembangan bahasa ibu di Indonesia. Analisis PP-SS tersebut kemudian dikemas dalam bentuk multimedia, yang saat ini hasilnya dapat ditonton melalui website berbagi video, youtube.com.

Saya kebetulan menjadi salah satu dari tim penganalisis data tersebut. Yang pertama kali kami amati adalah buku karya David Crystal, Language Death (Cambridge University Press, 2000). UNESCO kemudian mengutip data karya David Crystal tersebut untuk menginformasikan bahwa sekitar 3.000 bahasa di dunia kini terancam punah. Melalui peringatan HBII tahun 2002, UNESCO membawakan tema “Linguistic Diversity: 3,000 Languages in Danger”.

Pada buku karya David Crystal, tak ada perincian jumlah penutur setiap bahasa di dunia. Kami kemudian mencarinya pada sumber lain, di antaranya internet. Ternyata salah satu lembaga dunia yang meneliti jumlah penutur bahasa ibu adalah Summer Institute of Linguistics (SIL), dan kemudian data-datanya dikutip Microsoft Encarta Reference Library 2005.

Kami kemudian memakai data tersebut karena di Indonesia tak ada data yang up to date mengenai perkembangan bahasa ibu. Misalnya, berkali-kali saya melihat buku terbitan Badan Pusat Statistik (BPS), tetapi mungkin lembaga ini tidak menganggap penting untuk membuat statistik bahasa.

13 bahasa ibu

Dengan mengacu pada penelitian SIL, kami kemudian mengidentifikasi seluruh bahasa di dunia yang jumlah penuturnya di atas satu juta. Ternyata jumlahnya mencapai 289 bahasa, dan 13 di antaranya berasal dari Indonesia, yang merupakan negara kedua di dunia yang memiliki banyak bahasa (sekitar 706 bahasa). Artinya, di Indonesia sendiri ratusan bahasa akan atau bahkan telah punah.

Dari ke-289 bahasa tersebut, kami kemudian mengurutkan penutur bahasa ibu yang paling banyak sampai yang paling sedikit. Hasilnya, bahasa Sunda berada di urutan ke-32 (bukan 33) dengan jumlah penutur 27 juta, sementara di atasnya adalah bahasa Farsi (Timur Tengah) dengan jumlah penutur 31 juta.

Di Indonesia sendiri terdapat 13 bahasa ibu yang jumlah penuturnya di atas satu juta, yaitu Jawa (75 juta), Sunda (27 juta), Indonesia (17 juta), Madura (13 juta), Minangkabau (6,5 juta), Bali (3,8 juta), Bugis (3,5 juta), Aceh (3 juta), Betawi (2,7 juta), Sasak (2,1 juta), Batak Toba (2 juta), Makassar (1,6 juta), dan Batak Dairi (1,2 juta).

Sebagai tambahan data, kami pun melakukan wawancara tentang perkembangan bahasa ibu di Indonesia, di antaranya dengan penutur bahasa Jawa, Bali, dan Minangkabau. Hasil analisis tersebut kemudian diumumkan pada acara peringatan HBII di Unpad, 21 Februari 2006, yang juga dimuat pada majalah berbahasa Sunda Cupumanik No 32/2006.

Data yang diambil dari SIL tersebut belum tentu sepenuhnya akurat karena SIL sendiri menyebutnya sebagai perkiraan, dan itu menjadi cacatan kami ketika mengumumkan “peringkat” bahasa Sunda. Tujuannya bukan untuk mencari “prestasi” bahasa, melainkan sebagai penambah kekuatan bahwa bahasa Sunda belum tentu mengalami kepunahan seperti yang dikhawatirkan berbagai kalangan.

Bahasa Sunda

Kekhawatiran punahnya bahasa Sunda sebenarnya telah ada sejak satu setengah abad lalu, sebagaimana ditulis RH Moehamad Moesa dalam Dongeng-dongeng Pieunteungeun (1987). Namun, kenyataannya sampai sekarang bahasa tersebut masih digunakan.

Wacana kepunahan bahasa Sunda memang sebaiknya tidak terlalu dibesar-besarkan karena belum tentu dapat membangkitkan kesadaran masyarakat dalam penggunaan bahasa Sunda. Jangan-jangan malah membuka opini umum bahwa bahasa Sunda adalah bahasa yang patut dikasihani, terbelakang, dan terpinggirkan sehingga sebagian orang merasa kurang pede menggunakan bahasa Sunda.

Lagi pula, belum ada data akurat bahwa bahasa Sunda benar-benar sudah ditinggalkan. Sebagian pengamat hanya melihat realitas kecil di masyarakat, misalnya ketika mengamati anak-anak di Kota Bandung yang tidak menggunakan bahasa Sunda. Entah kenapa, Bandung selalu dijadikan rujukan untuk mengukur kemunduran bahasa Sunda, padahal menurut BPS, penduduk kota ini hanya sekitar 6 persen dari penduduk Jawa Barat.

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat pada bahasa Sunda, tidak selalu mesti ditakut-takuti dengan persoalan punahnya bahasa Sunda. Isu tersebut malah membentuk citra sebuah bahasa yang memprihatinkan dan selalu berada pada situasi kritis. Padahal, kita masih bisa membicarakan hal-hal lain dari bahasa Sunda, misalnya pemanfaatan teknologi untuk menyebarkan “virus” bahasa ibu, yang juga dianjurkan UNESCO.

DADAN SUTISNA Pengurus Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PP-SS), Redaktur Pelaksana Majalah Cupumanik

Tulisan ini dimuat pada (dimuat pada Kompas Jawa Barat, Sabtu, 5 April 2008)


Tags: