Berdasarkan Wawancara Ahda Imran (wartawan Pikiran Rakyat)
Dimuat pada H.U. Pikiran Rakyat, Minggu 18 Juli 2004

SEMUANYA berawal dari Pasirloa. Sebuah dusun di Desa kadakajaya Kecamatan Tanjungsari Sumedang, yang bahkan hingga tahun 1985 pun listrik belum masuk ke sana. Jarak dusun itu lebih dekat ke hutan ketimbang ke pasar. Orang-orang lebih disibukkan dengan pekerjaan di sawah ketimbang memikirkan hal-hal lain, seperti mencari hiburan yang hanya didapat dari radio. Tapi buat seorang anak, dari sebuah radio milik neneknya dengan acara-acara dongeng Sunda yang didengarnya setiap hari, ia mulai mengenal sebuah dunia yang lain. Dunia imajinasi yang membawanya ke suatu kenyataan berikutnya perihal sebuah dunia yang diciptakan.

Karena listrik dan televisi belum juga sampai ke dusun itu, maka radio dan dongeng-dongeng Sunda makin terus melatih telinganya untuk perlahan memahami dunia dan kenyataan yang diciptakan tersebut. Begitu pula ketika di bangku SD ia mulai berkenalan dengan buku-buku cerita di perpustakaan sekolah. Ia menemukan dunia yang diciptakan itu sebagai sebuah teks, yang kian menyedot keterarikan dan minatnya. Membaca baginya telah menjadi semacam kebutuhan, hingga guru sekolah itu pun menyerahkan kunci perpustakaan padanya. Sampai sejauh itu, ia belum tetap mengenal koran dan majalah.

Dalam suatu permainan sepak bola anak-anak di depan rumahnya, ia terjatuh dan tangan kirinya tak bisa digerakan. Sampai sebulan tangan itu harus digendong dan dibalut, dan ia tak bisa lagi bisa bermain ke luar. Karena tak ada yang bisa dilakukannya, maka anak itu mulai menuliskan berbagai cerita yang tiba-tiba melompat-lompat dalam kepalanya. Di sekolah, di depan kawan-kawannya, ia membacakan ceritanya itu. Dan mereka menyukai cerita yang dibuatnya itu, bahkan memintanya setiap hari sebagai cerita bersambung karena merasa penasaran. Sebagai konsekuensinya, teman-temannya membelikannya pensil dan kertas untuk menulis.

Pelan-pelan anak itu mulai menemukan bahwa ada sebuah dunia yang bisa diciptakan. Ia, anak itu, Dadan Sutisna, terus menulis dan menemukan kegairahan dunianya di situ, sebelum lalu ia kemudian tumbuh dan mencatatkan dirinya sebagai salah seorang pengarang Sunda dari generasi terkini.

Meski sejumlah carpon (carita pondok) dan novelnya pernah memenangkan beberapa sayembara penulisan, termasuk juga pernah dianugerahi Hadiah Jurnalistik R. H. Muh. Kurdie (2003), namun dunia anak-anak serta alam perkampungan yang tetap melekat kuat dalam memori biografisnya, membawa pengarang yang pendiam ini untuk lebih memasuki tradisi penulisan sastra Sunda genre cerita anak-anak. Dan di situ, dari dua buku yang telah ditulisnya, Nu Ngageugeuh Legok Kiara (2001) dan Misteri Haur Koneng (2003), ia tercatat dua kali dianugerahi Hadiah Sastra Samsudi oleh Yayasan Rancage, yaitu pada tahun 2002 dan 2004.

Menjadi penulis cerita anak-anak dalam bahasa Sunda dengan setting alam perkampungan, mau tak mau, di tengah kenyataan hari ini, ketika publik dan dunia anak lebih dimanjakan oleh tontonan serta permainan teknologi, mungkin adalah pilihan yang terkesan absurd bagi seorang penulis. Namun ternyata itulah pilihan lelaki kelahiran Sumedang tahun 1978 ini. Seperti juga pilihannya untuk tetap setiap hari pulang-pergi dari Sumedang ke Bandung, ke tempatnya bekerja sebagai redaktur Majalah Sunda Cupu Manik.

“Mungkin kaitan saya dan masa kecil dulu tak bisa dipisahkan. Apa yang saya tulis adalah dunia yang dekat dengan kehidupan saya. Hubungan masa kecil saya dengan publik atau dunia anak-anak sekarang tentu saja berjarak.

Tapi saya mencoba juga melihat dan mengamati perkembangan konteks dunia anak-anak sekarang. Seperti dalam buku Misteri Haur Geulis, saya tidak menceritakan orang kampung. Tapi anak-anak kota yang melihat kampung. Saya ingin kedua sisi itu tetap ada, “katanya dalam percakapan kami sore itu (15/7).

Dadan bukan tidak tahu, bahwa pembaca yang diandaikannya bukanlah anak-anak yang tinggal di padesaan, melainkan anak-anak di kota. Namun begitu, ia tetap bersikeras hendak menyelinapkan seluruh kenangan biografisnya di masa kecil di desa. “Karena itulah saya menempatkan tokoh-tokoh anak-anak kota yang ingin mengetahui kehidupan di desa.”

Lalu soalnya kemudian, apa sebabnya juga ia cenderung memilih menulis cerita anak-anak, benarkah hanya sekadar semacam “ziarah”-nya pada masa lalu, masa kecilnya di Pasirloa, Sumedang?

“Menulis cerita anak-anak itu lebih sulit. Kita perlu memikirkan tingkatan anak-anak yang kita bayangkan sebagai pembaca. Termasuk juga mencermati gaya bicara dan kata-kata yang mereka pergunakan, belum lagi masalah-masalah psikologis lainnya,” katanya.

Ia mengakui bahwa anak-anak sekarang hidup dalam dunia yang berbeda.

Selera dan apresiasi bacaannya pun bukan lagi dalam bahasa daerah (Sunda). Namun menurutnya 20 tahun ke depan, akan timbul semacam kerinduan untuk menemukan kembali jejak-jejak masa lalu itu dalam bentuk sebuah bacaan dalam bahasa Sunda. “Ada generasi yang putus. Tapi saya tetap bermimpi, bahwa generasi yang putus itu kelak akan tersambung kembali.”

Dadan bukan tidak pernah mencoba menulis cerita anak-anak dalam bahasa Indonesia dengan setting Sunda, seperti sebuah cerpennya yang termuat di majalah anak-anak Bobo. Tapi ternyata hal itu tidak dilanjutkannya. Ia tetap setia dengan sebuah dunia yang ternyata bisa diciptakan. Dunia dari masa kecil di Dusun Pasirloa.***(Ahda Imran)