SUATU hari, aku dan teman-teman sekolah berlibur ke kebun binatang. Kami bersama Bu Guru melihat-lihat gajah gemuk, harimau, monyet yang lucu, dan binatang lainnya. Ketika kami sedang menonton burung unta, tiba-tiba Andi, temanku yang paling gendut, meringis kesakitan.

“Aku sakit kepala, Bu!” katanya.

“Kau tunggu saja di mobil, sebentar lagi kita pulang. Pak Sopir, tolong antarkan anak ini!” kata Bu Guru. Andi kemudian digondeng Pa Sopir menuju mobil.

Sebenarnya aku masih ingin melihat ular piton, tetapi Bu Guru tidak ingin berlama-lama di kebun binatang.

“Kasihan Andi!” katanya. Kami pun bergegas menuju mobil. Apalagi langit mulai mendung, mungkin sebentar lagi hujan turun.

“Tas kalian simpan saja di mobil. Lihatlah, di sana ada apotik. Mari kita membeli obat untuk Andi!”

Kami pun beramai-ramai memasuki apotik. Setelah Bu Guru membeli obat, kami kembali ke mobil. Andi masih meringis, ketika Bu Guru menyuruhnya meminum obat.

“Ayo Pak Sopir, kita pulang!”

“Bu, apakah kita tidak membeli oleh-oleh?” tanyaku.

“Lain kali saja. Langit sudah mendung, nanti kita kehujanan!”

Pak Sopir segera memegang setir. Mobil pun bejalan perlahan meninggalkan kebun binatang. Selamat tinggal, gajah gemuk!

Di perjalanan pulang, kami tidak henti-hentinya bergurau, kecuali Andi yang sedang meringis.

“Mirna, monyet jantan itu tampaknya belum mempunyai istri. Maukah kau dilamarnya?” kata Irma sambil cengengesan.

“Hey, jangan menghina, ya. Gue ini putri raja, hanya boleh dilamar oleh seorang pangeran!” jawabku.

“Putri raja hutan!” kata Budi.

Kami pun tertawa.

“Sudahlah, jangan terlalu gaduh. Lihat, di depan ada polisi!” kata Bu Guru.

Ketika memasuki perempatan, jalanan mulai macet. Mobil berjalan perlahan, merayap.

“Uh, sebel, jalan ini selalu macet!” kataku.

“Biasa, Neng, hari libur mah macet wae!” kata Pak Sopir.

Tiba-tiba di samping Pak Sopir muncul seorang pengamen. Anak lelaki seumur Andi, pakaiannya compang-camping, membawa sebuah gitar kecil. Anehnya, anak itu tidak menyanyi, malah berkata kepada Pak Sopir.

“Pak, bolehkah aku ikut menumpang?” katanya. Tentu saja kami kaget mendengarnya. “Tolonglah aku, Pak. Ibuku sedang sakit, aku disuruh mencari uang untuk membeli obat. Aku harus cepat-cepat pulang!”

“Kau mau kemana, Nak?” tanya Bu Guru.

“Jalan Soekarno Hatta, Bu!”

“Sudahlah, kalau begitu kau boleh menumpang. Kebetulan mobil ini lewat ke Soekarno Hatta. Tapi tempatnya tidak cukup, terpaksa kau duduk di belakang, dekat tumpukan tas itu!”

“Tidak apa-apa, Bu!”

Pengamen itu segera naik. Kami pun tidak bersenda-gurau lagi.  Sesudah melewati perempatan, mobil melaju dengan cepatnya.

Benar saja, ketika tiba di jalan Soekarno Hatta, pengamen itu meminta diturunkan. Mobil pun berhenti.

“Terima kasih, Bu. Terima kasih teman-teman!” katanya sebelum menghilang masuk ke sebuah gang.

“Ayo Pak Sopir, kita berangkat!” kata Bu Guru.

“Sebentar, Bu. Saya agak curiga pada pengamen itu. Anak-anak, coba kalian periksa tas itu!”

Kami pun berebut tas, memeriksa isinya.

“Celaka, jam tanganku hilang!” kataku cemas.

“Uangku juga, sepuluh ribu!”  kata Irma. Pak Sopir segera turun, beberapa orang yang ada di sana menghapirinya.

“Ada apa, Pak?”

“Anak yang membawa gitar itu mencuri jam tangan!”

“Maksud Bapak, Si Pengamen itu?”

“Iya. Tadi ia menumpang mobil kami!”

“Sudahlah, Bapak tenang saja, biarlah kami yang menghajarnya!”

Orang-orang pun berlari mengejar Si Pengamen.

“Ayo kita berangkat!” Bu Guru tampak cemas. Kami pun sedikit bingung.

“Bagaimana dengan jam tangan Neng Mirna?”

Nggak apa-apa, aku masih punya yang lainnya, kok!” kataku, maksudnya agar masalah ini tidak diperpanjang. Pak Sopir segera menancap gas, mengantarkan kami pulang ke rumah masing-masing.

*

            Keesokan harinya, aku membaca berita mengejutkan di sebuah koran : seorang pengamen tewas dihakimi masa. Benar, pengamen yang menumpang mobil kami kemarin.  Aku melihat fotonya di koran itu .

Aku sangat menyesal. Aku merasa berdosa. Tidak terasa air mataku berlinang.

Tiba-tiba ibu memanggilku.

“Mir, ada telepon dari temanmu!”

“Siapa, Bu?”

“Andi!”

Aku bergegas menuju tempat telepon.

“Gimana, Di, kamu sudah sehat?”

“Sudah, Mir …” suaranya sedikit gemetar. “Begini Mir, se … sebenarnya, yang mengambil jam tangan dan uang itu … aku. Ketika kamu sedang ke apotik, aku membuka tasmu … Aku nyesel, Mir. Tapi tolong jangan diceritakan kepada Bu Guru, aku … takut!”

Blak! Aku menutup telepon. Tiba-tiba wajah pengamen itu muncul di depan mataku. Tumbuhku mendadak lemas.***(Dadan Sutisna)