Oleh Hawe Setiawan
ITU kata-kata M.A.W. Brouwer. Saya memetiknya dari Kepribadian dan Perubahannya (1989). Lengkapnya: “Orang Sunda tidak jatuh dari Sorga atau dipetik dari pohon (natural dan supernatural), melainkan dibuat oleh orang Sunda (kultural).”
Brouwer tidak sedang mengupas kebudayaan Sunda. Ia hanya memberi ilustrasi bahwa identitas atau keunikan segolongan warga budaya tertentu adalah bikinan manusia sendiri, hasil olah pikir dan rasa dalam ruang dan waktu tertentu. Katakanlah, hasil konstruksi sosial di muka bumi. Kira-kira sejalanlah dengan pandangan klasik dari Kurt Lewin: tingkah polah manusia adalah hasil persinggungan kepribadian dengan lingkungan. Karakteristik segolongan masyarakat tidak muncul begitu saja, bukan sesuatu yang sudah jadi (taken for granted), dan berbeda dengan mukjizat yang diturunkan Tuhan dari langit. Dan itu tak cuma berlaku buat orang Sunda, melainkan juga buat orang Jawa, orang Indian, orang Irlandia, dan sebagainya.
Namun sebagai pastor, kolomnis dan ahli psikologi yang pernah bermukim di Bandung, Romo Martinus Anton Wiesel Brouwer sepertinya punya kesan tersendiri perihal penduduk Jawa Barat, teristimewa orang Sunda. Dalam tulisan-tulisannya ia sering merujuk pada tingkah polah orang Sunda. Bahkan dalam buku itu tadi ia punya pandangan tersendiri perihal karakteristik orang Sunda. Misalnya, ia bilang, orang Sunda mensenyawakan “kecerdasan besar” dengan “sikap rendah hati”. Katanya pula, “sikap optimistis” orang Sunda bercampur dengan “ironi, humor dan kepandaian merelatifkan segala hal”. Adapun sebagai akibat “feodalisme”, masih kata Brouwer, orang Sunda suka “mengabdikan diri” tapi sekaligus pandai “memelihara kepentingan sendiri”. Ia pun bilang, orang Sunda “lekas percaya” kepada orang lain, “dan karena itu gampang ditipu”.
Sayang sekali, Brouwer tidak lagi hadir di antara kita. Padahal kalau saja ia masih ada, pasti kita punya teman diskusi yang memikat untuk mengamati demam kesundaan belakangan ini. Sekarang ini kan lagi musimnya orang Sunda membicarakan dirinya sendiri, terutama sejak tersebarnya virus reformasi. Kesundaan kini ramai diperbincangkan tak hanya dalam lingkup kebudayaan, melainkan juga dalam kerangka politik, ekonomi, bahkan agama.
Tapi ada yang agak menggelisahkan. Coba Saudara minta orang-orang yang dilanda demam kesundaan itu untuk memaparkan kesundaan secara terperinci, dan kalau bisa, masuk akal. Kayaknya, Saudara bakal kecewa. Sebab, kesundaan yang ramai dipercakapkan itu sepertinya baru dirasakan kehadirannya secara intuitif saja. Tidak mengherankan jika orang-orang yang melontarkan aspirasi politik dengan mengatasnamakan kesundaan, misalnya, tak ubahnya dengan orang-orang yang membangun rumah di atas fondasi yang goyah.
Gejala serupa juga tampak di wilayah budaya. Kesundaan yang cenderung ditonjolkan cuma sampai pada turisme budaya (cultural tourism). Cuma sebatas eksotisme, yang biasanya disenangi para turis, baik turis asing maupun pelancong domestik. Ya, semacam ornamen bagi kegenitan orang-orang kota. Mereka sepertinya percaya ada Sunda yang asli, sudah jadi, buhun, tulen, seratus persen. Dan yang dianggap mengandung kesundaan murni, dua puluh empat karat, seperti itu biasanya sisa-sisa masa lalu yang kini sudah hampir lekang karena panas dan nyaris lapuk karena hujan.
Yang cenderung dilupakan, baik oleh kaum politik maupun kaum budaya, ya, itu tadi: bahwa “orang Sunda tidak jatuh dari Sorga”, dan memang tidak hidup di dalam Sorga. Jadi, tidak ada Sunda yang sudah jadi. Kesundaan selalu berada dalam proses, senantiasa belum beres, tak kunjung rampung. Dan proses itu bertopang pada kreativitas untuk mengolah, mengolah, dan terus mengolah rupa-rupa elemen kesundaan di berbagai tempat, di setiap waktu. Sunda perlu terus dibikin dan dibikin kembali, lewat berbagai eksperimen.
Di dalam Sorga, orang sepertinya tidak perlu lagi berpikir, mengolah ide, apalagi menulis buku. Sebab di sana, kata orang, segalanya telah tersedia. Tinggal berleha-leha dalam sejenis kolam susu yang tidak terganggu. Tapi karena orang Sunda tidak hidup di dalam Sorga, melainkan hidup di dunia fana yang rapuh dan tidak sempurna, orang Sunda mesti menyiasati rupa-rupa kecenderungan zaman. Tekad dan semangat doang, jelas masih kurang. Lebih dari itu, pikiran segar dan rupa-rupa terobosan amat diperlukan.***
DEDY SAEFULLOH - 23-10-2008 pukul 02.57
Sampurasun,
Mungkin kebetulan saja saya juga sedang mencari informasi tentang nilai budaya sunda yang berkaitan dengan kepemimpinan/bisnis. Kinten-kinten Kang Dadan tiasa masihan terang kamana kedah milarina (utamina ngalangkungan internet). Hapunten bahasana gado-gado.