Oleh ATEP KURNIA

Mikihiro MoriyamaMikihiro Moriyama adalah orang Jepang pertama yang meraih gelar doktor sastra Sunda. Pada 26 Juni 2003 ia berhasil mempertahankan disertasinya, New Spirit: Sundanese Publishing and the Changing Configuration of Writing in Nineteenth Century West Java (2003), di Rijkuniversiteit Leiden, Belanda. Untuk meraih gelar tersebut, lelaki yang lahir pada 16 September 1960 di Ayabe, Kyoto itu harus menghabiskan waktu sekitar sebelas tahun (1992-2003).

Pokok bahasannya adalah terbentuknya bahasa dan sastra Sunda sebagai hasil kebijakan kolonialisme Belanda. Pembentukan itu terutama diwujudkan melalui penerbitan dan pendidikan, yang sesuai dengan modernitas yang sedang menggejala di Eropa. Fokus amatannya sendiri dibatasi dari paruh pertama abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Namun yang paling menarik dari Miki - begitu ia biasa disapa - adalah latar belakang serta lika-likunya berkenalan sampai menyelami studi Indonesia umumnya dan studi Sunda khususnya. Selain itu, proses lahirnya ide untuk disertasinya pun penting untuk dicatat.

Pada 5 April 2006 Miki diundang sebagai pembicara atas terbitnya Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19. Buku yang diterbitkan pada Januari 2005 ini merupakan terjemahan disertasinya.

Tak tanggung-tanggung, dua diskusi pun digelar. Yang pertama di Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung, di Institut Nalar yang kedua. Hasil dari dua diskusi itu tergambar jelas latar belakang perkenalan Miki dengan studi Indonesia maupun studi Sunda. Pemilihan topik dan sikap Miki dalam disertasinya pun nampak pula.

Mengapa Miki memilih studi Indonesia? Kebetulan, jawabnya. Mulanya, seorang sahabatnya memberitahu bahwa belajar bahasa Indonesia itu mudah. Karena terpengaruh oleh kata-kata sahabatnya, Miki yang semula hendak masuk ke jurusan Rusia akhirnya memilih Indonesia.

Padahal kala itu konstruksi mengenai Indonesia belumlah terbangun. Sebab kebanyakan orang Jepang biasa berkiblat ke Barat, sehingga Indonesia luput dari perhatian mereka. Tapi setelah ia mengunjungi Bali, kesan Indonesia yang tidak ada apa-apanya menjadi hilang. Ia justru terpesona. Ia tertarik dengan keindahan musik serta tari Bali.

Akhirnya, pada 1980 Miki masuk ke Osaka University of Foreign Studies. Saat itu ia mengambil bidang studi Indonesia. Dan saat itu pula, ia mulai tertarik kepada bahasa dan sastra Sunda. Hal tersebut disebabkan, karena di sana ada dua dosen yang pengetahuan kesundaannya sangat luas. Ajip Rosidi yang pertama, Hiroshi Matsuo yang kedua.

Dari Ajip, Miki terinspirasi oleh luasnya pengetahuan Ajip serta “nasionalisme” Sundanya. Sedangkan dari Hiroshi, ia menimba ide-ide tentang para pembaca Sunda modern.

Untuk memperdalam pengetahuannnya mengenai budaya Sunda, ia pun ke Bandung. Selama dua tahun (1982-1984) ia belajar di Universitas Padjadjaran (UNPAD). Setelah lulus S1 pada 1985, Miki melanjutkan studinya ke S2 di Universitas Osaka. Pada 1987 ia pun meraih gelar MA. Tjarios Wiwitan Radja-Radja di Pulo Djawa jadi pokok bahasan tesisnya.

Pada 1988 Miki mulai bersiap-siap untuk menempuh program S3 di Universitas Leiden, Belanda. Setahun kemudian, ia mendapat izin untuk melakukan riset di Fakultas Sastra Leiden.

Suatu ketika, Miki berkunjung ke perpustakaan KITLV. Ia melihat di dalam rak-rak, buku-buku Sunda ti bihari nepi ka kiwari tersusun rapi. Hal tersebut, sungguh menarik hatinya, sehingga ia pun tergerak untuk menjadikannya pokok bahasan disertasinya.

Mengenai sikap yang ditunjukkan Miki lewat disertasinya, ia berterus terang. Ia mengaku memilih berada di tengah-tengah. Ia tidak berada baik di pihak kolonialis Belanda, begitu pula tidak berada di pihak nasionalisme “Sunda.” Jadi, terkesan menjaga jarak. Ya, yang ia ingin munculkan memang obyektifitas.

Miki memang bukan segala-galanya, tentu. Tapi setiap kita menatap jilid buku Semangat Baru, kita tahu pernah ada jurang yang sangat lewang dalam pada sejarah Sunda.