MALAM itu, ketika sedang membereskan arsip masa lalu, saya menemukan sebuah foto usang. Bahkan, pada bagian depannya sudah hampir tak jelas wajah siapa yang ada di foto itu, lantaran sudah menempel dengan foto lainnya-dan inilah suatu kekacauan saya dalam hal dokumentasi. Namun di foto masih tampak tulisan dengan tinta biru: semoga kau mengingatku selamanya.
Ah, retorika, gumam saya. Meski demikian foto itu pun membuatku sedikit tersenyum. Meski warnanya sudah tak jelas, saya masih mengingatnya. Ia mengenakan baju kuning tua, menatap dengan mata sayu, dan tangannya menggenggam bunga.
Saya melompat menuju komputer. Kalo ga salah, semua arsip foto yang saya punya sudah dibuat versi digitalnya. Dan, emh… ternyata masih ada. Menatapnya membuat otak saya melompat ke masa 14 tahun silam, ketika saya menjelang masuk SMU, menjelang masa puber ketika suara saya tiba-tiba tidak seperti kanak-kanak lagi.
Alkisah saat itu saya lagi menggandrungi pelajaran matematika, dan juga tulis menulis, seperti menulis cerpen atau cerita bersambung. Bapak Warsa, guru matematika di SMP Negeri 1 Tanjungsari, orangnya kecil seperti saya. Di antara kisah para guru matematika, dia termasuk guru yang bageur. Tak pernah nyeprét atau nyetrap jika ada siswa yang tak bisa ngerjain mengerjakan soal.
Sementara saya sibuk mengejar target agar setiap ulangan matematika mendapat nilai 10, beberapa teman saya, sudah pada berani pacaran. Misalnya Tantan yang “minang” Fitri, Teten yang “mendekati” Anét, juga Asép Lépét yang selalu berusaha ngudag-ngudag cewek yang pantes namun ceweknya tak pernah maueun. Donny, sahabat dekat saya, termasuk yang “kebal” cewek, namun akhirnya luluh juga ketika ada gadis Sumedang yang jangkung-lenjang.
Oh iya, di kelas 3-C cewek galak. Jutek abis pokona mah, tatap matanya tajam, dan kalau melihat penampilannya, dia orang desa juga seperti saya. Seperti dengan teman-teman perempuan lainnya, saya jarang ngobrol dengan dia, apalagi berani mengoda-goda, tak mampu saya melakukannya. Di kelas saya “mengenal” Yuyum dan Irma, itu pun karena kami bersahabat sejak kelas satu. Kata mereka saya orangnya serius, dan sepertinya, katanya hanya ada deretan mata pelajaran di otak saya.
Masa ulangan umum Semester V pun tiba. Tepat saat diberi soal matematika. Teman-teman masih sibuk dengan kepalanya. Saya sudah beres, tinggal memeriksa ulang. Dan saat guru lengah, beberapa bulatan kertas terlempar ke meja saya.
“Nomor 5!” tulis Asep.
“Nomor 2 sampai 9!” tulis Dani.
Entah berapa kertas yang sudah saya jawab. Kemudian Si Euis, tetangga kampung saya.
“Ini mah dari Nining. Nomor 14 aja!”
Beberapa saat kemudian, satu bulatan kertas terlempar juga.
“Terima kasih atas kebaikannya. Nining.”
Nining Sariningsih, lengkapnya. Begitulah mulanya. Kemudian Nining sering titip pesan kepada Euis, dia ingin membaca cerpen-cerpen yang saya bikin. Saya dengan senang hati memberikannya, dan dititipkan kepada Eusi pula. Dua hari kemudian, buku kumpulan cerpen itu sudah berada di dalam tas saya. Di dalamnya terdapat secarik kertas.
“Maaf jika aku kurang sopan. Terima kasih. Lain kali, cerpennya langsung saja dimasukin ke dalam tasku ketika istirahat. Jangan dititip pada Euis!”
Aku menurut. Tetapi tidak hanya cerpen, ada juga sebuah surat dalam bahasa Indonesia yang kurang baik dan benar. Dia membalas dan bertanya mengapa saya ini itu. Saya menjawab, karena saya menyukai matematika. Dia membalas, apa hubungannya aku dengan matematika? Saya menjawab, tidak ada hubungan apa-apa.
Hanya sebatas persahabatan yang aneh. Tak lebih dari itu, mungkin. Kami surat-menyurat padahal satu kelas, tanpa seorang pun yang tahu. Sudah 50 surat yang saya terima dari Nining. Isinya bermacam-macam, mulai dari masalah pelajaran, sampai dia curhat hatinya yang tiba-tiba suka sama saya, emh, janten géér. Dia juga pernah menyelipkan sebuah foto-yang saya temukan itu-di salah satu suratnya. Kalau melihat background-nya, sepertinya dia sengaja datang ke studio untuk difoto.
Saya katakan persahabatan yang aneh karena sejak ulangan itu, saya dan dia tidak dapat bertutur sapa. Padahal kami bertemu setiap hari. Dia hanya menyapa dengan senyum ketika berpapasan.
Sampai kami keluar dari SMP, sampai dia menghilang dari sekolah, tak satu kata pun yang dia ucapkan untuk saya. Entah persoalan apa yang menyebabkan kami tidak mau bicara seperti itu, yang jelas bukan karena bertengkar.
Ah, ini hanya persoalan matematika, gumam saya.***