AWAL akhir tahun 1995, sekitar jam 2 siang, bus kota jurusan Tanjungsari-Kebon Kalapa penuh sesak oleh penumpang. Di luar hujan mengguyur dengan lebatnya, sehingga semua kaca dan pintu bus ditutup. Udara pun menjadi panas oleh penumpang yang berjejal. Keringat bercucuran. Seorang pengamen masih memetik gitar dengan lanturan suara yang hampir tak terdengar karena gemuruhnya hujan.
Saya berdiri di bagian belakang, sambil menahan badan agar tidak sampai jatuh terdorong penumpang lainnya. Pipa panjang pada langit-langit bus menjadi satu-satunya pegangan agar badan tidak oleng.
Saya masih mengenakan seragam SMU (sekarang SMA). Di dalam tas yang saya gendong, selain buku-buku pelajaran, setidaknya 10 judul naskah carita pondok (cerita pendek) yang saya buat beberapa hari lalu. Ya, itulah harita pertama saya mendatangi majalah Manglé untuk memberikan naskah.
Perjalanan Tanjungsari-Bandung sekitar 1,5 jam menggunakan bus kota. Saya berangkat sehabis Jum’atan di Masjid Agung Tanjungsari. Dengan ongkos Rp. 900,- saya bisa sampai ke Buah Batu. Hujan belum reda. Saya kemudian naik angkot warna biru jurusan Buahbatu - Sederhana, dengan ongkos Rp. 500,- (saat itu), dan berhenti di Jalan Banténg (sekarang Jalan K.H. Ahmad Dahlan). Hujan belum reda, dan apa boleh buat, terpaksa hujan-hujanan.
Kantor redaksi Majalah Manglé beralamat di Jalan Lodaya No. 19 Bandung. Saya pernah beberapa kali melewatinya, namun belum berani untuk berkunjung. Setiap hari Rabu, saya mengambil koran (untuk pelanggan) dari kantor redaksi Kudjang di Jl. Buahbatu No. 3. Ketika pulang, saya sering berjalan kaki melewati Jl. Sadakeling, dan kemudian tiba di depan kantor redaksi Manglé.
Dan hari itu, saya memberanikan diri untuk memberikan naskah langsung tanpa melalui jasa pos. Ada rasa penasaran untuk mengetahui seperti apa kantor majalah berbahasa Sunda tertua yang masih terbit itu.
Jarak dari Jl. Banteng ke Jl. Lodaya sekitar 100 méter. Namun karena hujan sangat lebat membuat badan basah kuyup juga. Buku dan naskah di tas saya basah pula.
Dengan malu-malu saya memasuki kantor redaksi majalah Manglé. Hening bukan main. Di bagian depan ada lelaki berkacamata yang sedang menghitung majalah (Pa Sumanang, alm). Saya bertanya di mana ruangan redaksi.
“Paling ditu,” katanya. Saya berjalan melewati bagian keuangan, dan tibalah di ruangan redaksi. Hujan belum juga reda.
Seorang perempuan bertanya. “Badé nepangan saha?“
“Badé nyanggakeun naskah…” jawab saya.
“Naskah naon?”
“Carita pondok…”
“Oh, mangga ka dieu. Tuh, kaleresan nu sok mariosna.“
Saya kemudian mengampiri lelaki berkacamata yang duduk di kursi paling ujung. Di meja sebelahnya, seseorang sedang mengetik.
Entahlah, tiba-tiba tubuh saya gemetar. Rasa minder pun menjadi-jadi. Pak Duduh Durahman yang mengajak saya berbincang (sekarang saya menyebutnya Abah, Abah Duduh). Saya sudah mengenalnya dari berbagai tulisan yang saya baca. Saya tahu, di kalangan sastrawan Sunda, nama Duduh Durahman sudah tak asing lagi. Ia seorang pengarang, juga kritikus film yang berkali-kali menjadi juri Féstival Film Indonesia.
Saya tak ingat lagi apa yang saya bicarakan waktu itu. Mungkin sekitar karang-mengarang. Yang jelas, setelah menyerahkan sepuluh judul naskah yang saya ketik dengan mesin tik merek Kofa, saya segera pulang.
*
BUKAN main girangnya ketika saya mengetahui bahwa salah satu naskah yang saya kirimkan itu dimuat. Saya mengetahuinya dari teman yang ayahnya berlangganan majalah Manglé.
“Dan, aya karangan manéh dina Manglé!” katanya. Sebuah surprise yang luar biasa untuk pengarang pemula. Saya bahkan tidak sabar untuk segera mencari majalah tersebut. Ternyata benar. Saya membacanya sampai berkali-kali.
Itulah yang membuat saya lebih bersemangat untuk menulis lagi. Saya kemudian membuka semua rubrik yang ada di majalah Manglé. Mulai dari cerita anak-anak, humor, pangalaman paramitra, sajak, dan apa saja yang bisa saya tulis.
Hampir setiap minggu pegawai pos menemui saya untuk menyerahkan wésel. Angka pada wesél variatif, mulai dari Rp. 2.500,- sampai Rp. 30.000,-. Nilainya mungkin sedikit, namun bagi seorang pelajar yang minim pemasukan dari orang tua, uang tersebut sangat berarti.
Saya pun menjadi sering berkunjung ke Majalah Manglé untuk mengirim naskah, dan mulai berkenalan dengan beberapa orang. Dan suatu saat, di ruang depan majalah Manglé, saya bertemu dengan Ambu Téti (Tétty Suharti).***(bersambung)
Tags: Jalan Lodaya, Majalah Mangle, Mengarang
Riza - 27-03-2008 pukul 20.49
Ari Mangle ayeuna masih terbit atawa henteu?
Mangle masih keneh terbit, unggal dinten Kemis. Insya Alloh websitena ge bade dihirupkeun deui saurna.
Riza - 02-04-2008 pukul 08.50
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Kuring ti Bogor, menta dima’lum lamun basana garihal, ja kitu sapopoena didieu mah.
Wawuh jeung Mangle ti leuleutik ja bapa ngalanggan di kantorna. Duka tadina pedah resep atawa “kudu”, ma’lum pagawe negri.
Ngan geus aya kana satengah taun ka ayeuna teu meunang deui, bapa ge teu nyahoeun ku naon.
Sukur alhamdulillah ari nyi Mangle masih aya mah, komo bari jeung ngabenahan situsna mah, sugan engke mah kuring bisa mesen Mangle ngaliwatan internet.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.