EMBUN pagi masih menempel di dedaunan dan matahari belum menampakkan sinarnya. Lelaki tua itu sudah menempuh perjalanan cukup jauh. Setelah menelusuri pematang sawah, melewati sungai, menerobos semak-belukar, tibalah di sebuah kebun yang dipenuhi pohon aren. Keringatnya bercucuran, padahal pagi itu dingin sekali. Dua buah lodong (wadah untuk membawa nira, terbuat dari bambu) sepanjang satu meter masih digendongnya. Ia tengadah. Pohon aren itu menjulang tinggi seperti menembus langit. Ia merayap menaiki sigay (tangga terbuat dari bambu untuk memanjat pohon aren), dan akhirnya sampai juga di ketinggian, sekitar delapan meter jaraknya dari tanah. Dari puncak pohon aren, ia bisa menyaksikan hamparan kebun, bukit-bukit, pesawahan dan atap-atap rumah. Diambilnya dua buah lodong yang sudah dipenuhi nira itu, dan digantikannya dengan lodong kosong.
Menjelang terbit matahari, ia sudah kembali ke rumahnya. Istrinya tengah bersiap-siap di perapian untuk mengolah nira itu. Sebuah kancah diletakkan di atas tungku. Beberapa batang kayu dibakarnya, dan api pun mulai membesar.
Aki Winta, begitu orang-orang memanggilnya. Lelaki yang tinggal di Dusun Ciseureuh, Desa Kadakajaya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang itu, sudah menggeluti pekerjaannya sebagai pembuat gula kawung sejak 50 tahun yang lalu. Umurnya dapat ditaksir sudah melebihi 65 tahun. Lelaki yang kepalanya sudah dipenuhi uban itu sendiri tidak tahu persis, bulan apa dan tanggal berapa ia dilahirkan.
“Tapi Aki sudah memanjat tangkal kawung sejak tahun 1950-an. Waktu itu usia Aki masih belasan tahun!” katanya. Beberapa lembar daun kawung diambil dari dompetnya untuk dibuatkan sebatang rokok. Sepertinya ia sudah kecanduan daun kawung, bukan hanya karena ia seorang pemanjat pohon aren.
Dengan kesederhanaan bahasanya, Aki Winta yang tidak pernah sekolah itu mengatakan, ia sangat mencintai pohon aren. Mungkin juga karena dari pohon aren ia dapat menghidupi keluarganya. Ia tidak pernah bosan meskipun setiap hari selama kurun waktu 50 tahun naik-turun pohon aren. Pekerjaan itu sudah menjadi kebiasaan, dan ia tidak ingin meninggalkannya walaupun kini usianya sudah tunggang gunung.
Anak-anaknya sempat berupaya agar Aki Winta menghentikan pekerjaan yang penuh risiko itu. Ketika Aki Winta berada di puncak pohon aren, dengan segala ketuaannya, tentu saja melantarankan anak-anaknya khawatir. Apalagi beberapa tahun silam, ada orang jatuh dari pohon aren dan mengalami cedera. Bahkan 16 tahun yang lalu, seorang warga kampung tetangga meninggal dunia karena terjatuh dari pohon aren.
Aki Winta tinggal bersama istrinya di sebuah rumah sederhana. Rumah panggung dengan dinding anyaman bambu. Ia mempunyai sebuah ruangan khusus tempat mengolah gula aren atau gula aren. Ruangan itu berukuran 3×4 meter persegi, dipenuhi dengan perkakas dapur, alat-alat pengolah gula kawung, dan tumpukan kayu bakar. Setiap hari, dengan kesetiaannya, istri Aki Winta menyalakan api di tungku selama 3 hingga 5 jam.
Dalam pengolahan gula aren, Aki Winta masih menggunakan cara tradisional. Pernah, memang, untuk mempercepat pengolahan, ia menggunakan kompor gas. Namun hasilnya kurang memuaskan. Ia pun kembali menggunakan kayu bakar, meskipun setiap hari harus menyediakan beberapa tumpuk kayu bakar. Dengan sebuah kancah, istrinya memanaskan nira selama 3 hingga 5 jam. Ketika nira mengental dan berwarna kekuning-kuningan, gula kawung siap untuk dicetak. Ia kemudian menyiapkan potongan bambu dengan diameter 5 hingga 6 centimeter. Dituangkannya nira yang sudah mengental itu dan ditunggunya selama beberapa menit.
Setiap hari Aki Winta dapat menghasilkan gula kawung sebanyak 5 hingga 6 bungkus (satu bungkus berisi 10 butir atau gandu) dan menjualnya dengan harga sekitar Rp. 3.000/bungkus. Namun kadang-kadang produksinya menurun ketika pohon-pohon aren itu tidak lagi menghasilkan nira.
“Tangkal kawung mah sok aya nu pundung, Jang! (Kadangkala pohon aren ngambek, Nak, tak mau disadap lagi)” katanya.
Lelaki bertubuh kurus itu begitu fasih ketika menerangkan seluk-beluk pohon aren. Ia juga seperti kecewa, karena saat ini pohon-pohon aren semakin langka dan berada di ambang kepunahan. Padahal pada tahun 1950-an, di kampungnya masih dipenuhi pohon penghasil nira itu. Di kampungnya pernah ada gerakan penebangan pohon aren besar-besaran, hanya untuk mengambil aci kawung. Mungkin mereka —para penebang pohon aren itu— tidak mengetahui, untuk membesarkan sebatang pohon aren diperlukan waktu puluhan tahun. Aki Winta sendiri, saat ini hanya memiliki beberapa pohon.
“Aki mah nyaah pisan kana kawung teh! (Saya sangat mencintai pohon aren),” tuturnya. Dengan rasa sayangnya itu, Aki Winta pernah mengadakan gerakan penanaman pohon aren. Ia sendiri tidak mengetahui, siapa yang akan menikmatinya, mungkin juga anak-cucunya. Ia ingin melihat tanamannya tumbuh besar. Namun ia sendiri telah berada di ambang senja. Mungkin saja ia sudah tidak lagi melihat dunia ketika tanaman itu menginjak dewasa.
Dulu mendiang ayahnya pernah beramanat agar ia melestarikan pohon-pohon aren itu. Menurut ayahnya, selain dapat dijadikan sebagai sumber penghidupan, pohon aren dapat membawa berkah. Pohon itu tumbuh dengan segala manfaatnya, dan tidak satu pun bagiannya yang tidak bermanfaat. Tidak mengherankan apabila dengan mitos yang berkembang saat itu, pohon aren sangat “dihormati” keberadaannya. Seorang pemanjat harus memahami sisi gaib pohon itu. Berbagai mantra harus dibacakan ketika hendak memanjatnya. Konon, apabila menebang pohon aren tanpa membacakan mantra-mantra terlebih dahulu, si penebang bisa jatuh sakit. Dan kini, Aki Winta mempercayainya, para karuhun (leluhur) membuat peraturan itu agar pohon aren tetap dilestarikan.
Hari menjelang siang. Aki Winta sudah bersiap-siap pergi ke kebun untuk mencari kayu bakar. Sesaat ia berdiri di halaman. Mungkin ia tengah berpikir, di senjakala usianya, pengabdian terhadap sebatang pohon aren sudah hampir usai. ***(Dadan Sutisna)