Oleh HAWE SETIAWAN

MENGARANG bisa berarti meruang. Kesadaran ruang sang pengarang mungkin terarah ke sesusun denah, ke sepetak ranah, ke sebuah wilayah. Panorama diangkat ke dalam kata, dibentangkan latarnya, ditonjolkan sebagian segi dan garisnya. Lukisan yang muncul mungkin dianggap replika dari tempat yang nyata, atau barangkali menjadi semacam ilham untuk mewujudkan tempat yang belum tercipta.

Ya, tempatnya sendiri bisa nyata bisa juga maya. Ada tempat faktual, ada pula tempat fiktif atau imajiner. Contoh tempat yang nyata adalah Paris yang dilukiskan oleh Victor Hugo dalam buku ketiga roman Si Bongkok dari Notre-Dame. Bagi Hugo, “pemandangan Paris” dari pucuk menara Notre-Dame adalah salah satu “masalah pokok” dalam ceritanya. Ia menggambarkan kota itu secara terperinci, segi demi segi, sudut demi sudut, dengan presisi seorang ahli tata kota. “Memandang Selintas Paris dari Udara,” begitu judul babnya.

Yang juga nyata adalah tempat yang dilukiskan oleh Sherwood Anderson dalam Winesburg, Ohio: A Group of Tales of Ohio Small-Town Life. Koleksi cerita itu pertama kali terbit tahun 1919, dan konon pada waktu itu timbul kehebohan di kalangan publik sastra Amerika sebagai reaksi terhadapnya. Menurut editornya, dalam edisi Penguin 1946, “Anderson … melihat objek dan karakter dalam sebuah kota kecil yang kita kenal dengan mata kanak-kanak, memandang rumah-rumah penduduk dan pepohonan dan orang banyak dengan kesegaran dan kejernihan Cezanne.”

Tempat yang nyata juga muncul dalam karangan George Orwell, Down and Out in Paris and London. Juga dari Charles Dickens kita melihat tempat yang nyata dalam A Tale of Two Cities. Dan masih banyak lagi contoh karangan yang menggambarkan sebuah tempat yang ada dalam peta, yang dikenal oleh orang banyak.

Sedangkan contoh tempat yang maya atau imajiner adalah sebuah pulau, semacam tanah harapan, yang digambarkan oleh Thomas More dalam Utopia. Dalam karangan itu, More melukiskan kehidupan di semacam teluk tempat terbangunnya sebuah kota yang dihuni oleh orang-orang yang berbahagia, antara lain karena mereka berdiri sama tinggi duduk sama rendah tanpa hak milik pribadi. Para penganjur komunisme yang memimpikan masyarakat nirkelas, sejenis surga di muka bumi, konon turut terilhami oleh karangan klasik bikinan Mr. More itu.

Nyata ataukah maya tempatnya, diri sang pengarang jelas bisa melekat pada sebuah tempat, merekat pada sejenis alamat. Pramoedya Ananta Toer sepertinya dapat direkatkan dengan Blora, sebagaimana Ajip Rosidi kiranya dapat dilengketkan dengan Jatiwangi. Wendy Solomon, sarjana dari Australia, bahkan menulis tesis tentang proses kreatif Ajip Rosidi yang dilihatnya sebagai semacam ketegangan antara Jakarta dan Jatiwangi. Pengarang, orang yang hidup dalam kata, bisa menjadi bagian penting dari sebuah wilayah, dari sebuah kota, misalnya.

***

Tiap karangan tentu bergantung pada sebuah pendekatan. Sudut pandang atau titik tilik para pengarang jelas berlain-lainan. Dan karena itu, dari beragam karangan tentang berbagai tempat, kita dapat melihat rupa-rupa kemungkinan relasi atau hubungan antara sang pengarang dan tempat yang diperhatikannya.

Ada pengarang yang melihat sebuah tempat dalam kerangka tugas ilmu sosial. Mungkin sang ilmuwan hendak menguji teori lama, atau mau mencari teori baru perihal kehidupan masyarakat manusia. Clifford Geertz, antropolog yang menulis Mojokuto—-juga menulis Santri, Abangan, dan Priyayi dalam Masyarakat Jawa—adalah salah seorang di antaranya. Di antara mereka juga ada Abdurrachman Surjomihardjo dan kawan-kawan yang meneliti sejarah sosial kota Yogyakarta.

Ada pula pengarang yang memperhatikan sebuah tempat sebagai bagian dari upaya untuk melakukan refleksi filosofis. Sang pengarang mungkin hendak mencari titik artikulasi dari pandangan atau pendirian yang diyakininya. Fuad Hassan, saya kira, termasuk ke dalam golongan ini. Bukunya, Pentas Kota Raya, sebuah koleksi esei tentang tingkah polah manusia di ibukota Republik Indonesia, punya daya pikat yang cukup kuat.

Juga ada yang menulis tentang sebuah tempat dalam bentuk karya seni. Salah satu contoh yang menarik dalam kelompok ini adalah Jeffry J. Alkatiri yang belakangan ini menulis koleksi puisi Dari Batavia ke Jakarta. Memang, puisi-puisi Jeffry tentang Jakarta agaknya tidak bisa dibilang istimewa. Namun, sekurang-kurangnya, ia sepertinya telah memperkenalkan semacam pendekatan tersendiri—atau mungkin pendekatan baru—dalam penulisan puisi Indonesia. Di tangan Jeffry, puisi adalah bagian dari semacam telaah sejarah. Ke dalam kelompok ini kiranya dapat pula dimasukkan para penyair yang karyanya dihimpun dalam antologi Jakarta dalam Puisi yang disunting oleh Ajip Rosidi.

Yang kiranya tidak bisa diabaikan pula adalah para pengarang yang menulis tentang sebuah kota sebagai bagian dari upaya mengenang segi-segi kehidupan yang menghilang, memelihara segi-segi lainnya yang masih ada, dengan semacam rasa cinta. Sudut pandangnya cenderung bersifat personal, bentuk karangannya mendekati sketsa sosial. Haryoto Kunto kiranya dapat dimasukkan ke dalam kelompok yang satu ini. Dialah yang menulis Wajah Bandung Tempo Doeloe, Semerbak Bunga di Bandung Raya, dan Ramadhan di Priangan. Banyak orang yang menjuluki Haryoto sebagai “kuncen Bandung”. Dan karena Pak Hari telah tiada, tak ada kepastian siapa juru kunci Bandung penggantinya. Moga-moga saja kuncinya tak turut hilang.

***

Bandung, seperti kota-kota lainnya, punya juru bicaranya sendiri. Juru bicara di luar Balai Kota. Selain dari sketsa-sketsa karangan Haryoto Kunto, atau dari puisi Wahyu Wibisana (”Ngabandungan Bandung”), Bandung dapat juga kita ikuti dari buku-buku petunjuk turisme. Juga, yang menarik, dari buku-buku tentang restoran di Bandung yang belakangan bermunculan. Pasti akan banyak hal penting yang dapat kita gali dengan memandang kota kita dari meja makan. Namun di sini saya hanya ingin menyinggung-nyinggung dua orang pengarang yang menulis buku tentang Bandung dalam bahasa Sunda: Sjarif Amin yang mengarang Keur Kuring di Bandung (Sewaktu Aku Tinggal di Bandung), dan H. Us Tiarsa yang menulis Basa Bandung Halimunan: Bandung Taun ‘50 - ‘60-an (Ketika Bandung Masih Berkabut: Bandung Tahun ‘50 - ‘60-an).

Ada beberapa hal yang memungkinkan kedua buku itu layak diperbandingkan. Pertama, jelas, tema dan bahasanya: kehidupan di Bandung pada suatu masa yang dilukiskan dalam bahasa Sunda. Kedua, pengarangnya. Baik Sjarif Amin alias H. Mohamad Koerdi maupun Us Tiarsa adalah jurnalis. Pak Koerdi dulu memimpin koran Sipatahoenan, sedang Kang Us kini memimpin tabloid Galura. Ketiga, bentuknya. Kedua buku itu merupakan semacam kumpulan sketsa sosial, dan sama-sama pernah dipublikasikan di koran secara berseri sebelum dibukukan. Ketiga, pendekatannya atau sudut pandangnya. Baik sketsa bikinan Pak Koerdi maupun sketsa karangan Kang Us sama-sama berangkat dari perspektif personal. Keempat, orientasinya. Kedua buku itu sama-sama terarah ke masa lalu, semacam kenangan (panineungan). Keur Kuring di Bandung melukiskan kehidupan di tahun 1920-an hingga tahun 1940-an. Sedang Basa Bandung Halimunan menggambarkan kehidupan di tahun 1950-an hingga tahun 1960-an. Kelima, tampang dan posturnya. Jilid muka buku Pak Koerdi menggambarkan panorama di sekitar Alun-Alun Bandung, sedang jilid muka buku Kang Us memotret sebuah bangunan tua warisan kolonialisme. Ketebalan kedua buku itu pun nyaris sama: 135 halaman punya Pak Koerdi, dan 144 halaman punya Kang Us.

Saya menduga, Keur Kuring di Bandung yang pertama kali diterbitkan oleh Pelita Masa, Bandung, tahun 1983, telah menjadi semacam ilham bagi lahirnya Basa Bandung Halimunan yang diterbitkan oleh Yayasan Galura, Bandung, tahun 2001. Dan, seperti yang sering terjadi, yang lahir belakangan terkesan kalah hebat dibandingkan dengan yang lahir lebih dulu. Teristimewa dalam rasa bahasa, Sjarif Amin jelas jauh lebih memukau ketimbang Us Tiarsa. Bahasa Pak Koerdi mengalir tenang, jernih dan terang, menimbulkan lagu dalam kalbu, mengalirkan sejumlah besar metafora. Bahasa Us Tiarsa seperti kurang begitu diperhitungkan stilistikanya, meski tetap komunikatif dengan generasi kini.

Pengarang A.S. Dharta alias A. Sidharta alias Clara Akustia alias Kelana Asmara—-kata Ajip Rosidi, nama sebenarnya Roji—menulis surat kepada Sjarif Amin yang turut dimuat dalam Keur Kuring di Bandung. “Dina hate, maestro tah Sjraif Amin teh. Moal bisa nurutan, keun sina djadi warisan atuh. (Dalam hati, saya berkata, Sjarif Amin adalah maestro. Tak mampu saya menirunya, biarkanlah karangannya menjadi warisan.),” tulis A.S. Dharta. Sedang sang “maestro”, dalam pengantar buku itu, menyinggung masa lalunya. “Jaman nu parantos sirna, henteu aya dikieuna. Mung kaleresan, sautak-saeutik aya tapakna nyangkaruk dina emutan, namper jadi dedek angen. (Zaman yang telah sirna, tak lagi hadir kini. Hanya kebetulan, sedikit saja, meninggalkan jejak dalam ingatan, mengendap di dasar batin.),” tulis Sjarif Amin. Dengan kata lain, sang pengarang mewakili zamannya.

Sementara yang berkomentar dalam Basa Bandung Halimunan adalah Aa Tarmana, Walikota Bandung yang berlatar belakang karir di bidang militer. “Bandung bareto moal sami sareng Bandung kiwari, kitu deui Bandung pageto moal sami sareng Bandung kiwari. (Bandung tempo dulu tak akan sama dengan Bandung kini, demikian pula Bandung masa depan mustahil sama dengan Bandung dewasa ini),” tulis Walikota. Kota yang terus berubah pula yang ditekankan oleh Us Tiarsa sendiri dalam pengantar bukunya itu. “Mun dibandingkeun jeung taun 2000-an, Bandung taun 50 tepi ka katompernakeun taun 60-an mah hirup di Bandung teh asa genah, betah, merenah, tur tumaninah pisan. Lain bobohongan, leuleumpangan ngideran kota ti tungtung ka tungtung teh teu ieuh karasa cape. Hawana matak seger jeung ariuh ku tatangkalan. Tutumpakan teu pasulabreng teuing. Harita meh saban isuk kota teh kasaput ku halimun. Ciibun ngagarendang dina tatangkalan. (Dibandingkan dengan tahun 2000-an, pada tahun 1950-an hingga 1960-an hidup di Bandung terasa nyaman, betah, kerasan. Sungguh, berjalan kaki mengelilingi kota dari ujung yang satu ke ujung lainnya sama sekali tak terasa lelah. Udara terasa segar dalam keteduhan pepohonan. Kendaraan tak terlalu hibuk. Waktu itu hampir tiap hari kota tersaput kabut. Embun menggenang di tetumbuhan.),” tulis Us Tiarsa.

Kalau Saudara suka, baik Sjarif Amin maupun Us Tiarsa, hingga batas tertentu, barangkali mewakili tanggapan orang Sunda atas perubahan kota Bandung dari masa ke masa. Di dasarnya seperti ada melankoli, mungkin sejenis kesedihan yang tertahan atau disembunyikan dalam semacam sikap pasrah menerima segala yang berubah.

Di dalam kata, perubahan kota dapat kita baca. Para pengaranglah, dengan kesadaran ruang masing-masing, yang turut mengabadikan jejak-jejak perubahan itu. Dan kita membutuhkannya, Saudara.***