KI Daus kini menjadi tenar. Ia mulai dikenal hingga ke pelosok. Dulu ketika ia sering muncul di televisi lokal, atau pada pentas-pentas teater di Bandung, tak sampai sepopuler sekarang.

Ki Daus alias Dadang Usman

Ki Daus alias Dadan Usman

Nama Ki Daus adalah kependekan dari nama lengkapnya: Dadang Usman. Lahir di Bandung, tanggal 25 Desember (entah tahun berapa, Ki Daus tak pernah bilang). Saya sendiri baru sempat berkenalan dengannya pada tahun 2004, ketika Ki Daus menjadi salah satu pemeran naskah drama yang saya tulis: “Roh Ma Eroh”.

Saya, Ki Daus, dan Darso

Saya (kiri), Darso (tengah), dan Ki Daus (kanan).

Kami kemudian sering bertemu dan ngobrol di Gedung Kesenian Rumentang Siang. Sosoknya memang unik. Ia datang membawa ransel besar sambil menebar senyum. Ki Daus dikenal sebagai seniman yang “lucu”, oleh karena itu ia sering diajak pada berbagai pentas yang bertemakan lawakan.Sebagai orang teater, ia menghabiskan waktunya di dunia panggung. Ayahnya adalah pendiri Lingkung Seni Dwi Murni di Bandung (1973) yang sering mementaskan Sandiwara Sunda. Pada tahun 1995, Dwi Murni dikelola oleh Ki Daus. Dari sanalah kemudian ia berjuang di panggung teater.

Pada tahun 2006, misalnya, Ki Daus membuat produksi Sandiwara Sunda yang diberi judul “Prahara Lutung Kasarung”. Pementasan teater daerah seringkali kurang mendapat respon, terutama dalam hal dana. Dan untuk menambah dana pementasan, Ki Daus kemudian menjual jaket kesayangannya.

Aksi kocaknya mulai dikenal setelah ia menjadi salah satu pemeran dalam Sandiwara Sunda Gogonjakan (Sasagon) yang ditayangkan di salah satu televisi lokal di Bandung. Sebulan sekali wajahnya menghiasi layar kaca. Meski tubuhnya kecil serta gaya bicaranya yang lemah-lembut, ia dipercaya untuk memerankan tokoh preman pada Sasagon.

Beberapa bulan lalu, Ki Daus masih terlihat di Gedung Kesenian Rumentang Siang. Saat itu ia sudah bilang bahwa akan menemani Rina (nama lengkapnya Nurina Permata Putri, mudah-mudahan informasi tentang Rina bisa segera saya posting di sini) untuk mengikuti Superstar Concer di Indosiar. Beberapa kali saya menonton aksi Ki Daus. Dan, tentu saja, karena sudah terbiasa memerankan teater Sunda, logat Sunda-nya tentu sangat kental. Ia bukan penyanyi, namun yang lugu ternyata menjadi nilai jual. Saat “berebut” Rosa dengan Ivan Gunawan, Ki Daus sempat membuat ungkapan yang ternyata menjadi populer: “Ikan hiu makan badak, I love you mendadak,” katanya.

Selamat untuk Ki Daus.


Tags: ,