
IDE awal berasal dari Texas. Dalam suatu conference di Yahoo Messengger, Téh Nénét (Néty Martin) yang sudah lama ngumbara di negeri Paman Sam, bermaksud pulang kampung dan mengajak teman-teman di tatar Sunda mengadakan acara “semalam bersama” di suatu tempat. Mulanya saya sendiri tak tahu-menahu tentang rencana tersebut, karena tiba-tiba saya menjadi salah satu peserta kemping atas “ulah” Dhipa Galuh Purba dengan cara yang sedikit “kasar”. Bagaimana tidak, ketika itu saya sedang tidur lelap, dini hari Dhipa membangunkan saya dan serentak bertanya: “Rék ngilu kémping moal (mau ikut kemping nggak?)”. Saya pun mengangguk-angguk tak karuan, dengan mata terkantuk-kantuk, dan ingatan masih serasa dalam mimpi.
Saya kira, sebelumnya saya tidak pernah mengikuti acara kemping, kecuali waktu SD, itu pun lantaran saya menjadi anggota pramuka. Sewaktu SMA, beberapa teman juga sempat mengajak kemping, tetapi saya tidak ikut karena dilarang oleh orang tua. Jadi mungkin ini adalah pengalaman pertama.
Rencana itu dan ini sudah disusun sejak sebulan yang lalu, mulai dari menentukan lokasi, waktu keberangkatan, peralatan, sampai pada menu-menu makanan. Persiapan harus matang, begitu kata Téh Nénét. Dan setelah mengetahui daftar peralatan yang mesti dibawa, rasanya bagi saya sulit untuk membedakan antara kemping dan pindah rumah.
*
WAKTUNYA tiba juga. Tepat hari Sabtu, 19 April 2008. Kita bawa dua mobil, mobil Téh Tini dan mobil Kang Dhipa. Mobil kijang Téh Tini hanya muat 3 orang, karena sisanya disesaki oleh barang-barang. Berangkatlah kami mesti tanpa nyanyian “Naik-Naik ke Puncak Gunung”.

Santai dulu di sekitar Pasar Ciwidey. Dari kiri: Atep Kurnia, Dhipa Galuh Purba, Teh Tini, dan saya.
Mula-mula yang meluncur ke Rancaupas-daérah yang kami tuju-ada 8 orang. Téh Tini beserta sopirnya, eseis Atép Kurnia yang belakangan menyukai film-film sastra, Aki Icon penghuni Puskom UIN, Téh Nénét sang pencetus ide, Apipudin kuncén DAMAS, Dhipa Galuh Purba pengendara mobil satunya lagi, dan saya sendiri.
Bagi saya, lokasi kemping tidaklah begitu penting. Saya tak bakalan banyak komplain dalam hal ini. Kebetulan saja, Abah Awie yang menjadi Ketua Paguyuban Seniman Budayawan Kab. Bandung (Passeban), membantu kami. Ia mengontak kenalannya yang ada di Rancaupas untuk mengatur lokasi kemping.
Saya ikut ke mobil Dhipa bersama Téh Nénét dan Apipudin. Sementara Aki Icon memilih menggunakan sepeda motor. Di sepanjang jalan, perbincangan masih seputar peralatan kemping yang belum lengkap. Jadi mobil yang kami tumpangi sering berhenti gituh. Mula-mula beli Mini DV buat handycam, lantas berhenti di tukang ikan, berhenti lagi di pasar Pangaléngan mencari coét buat nyambel.
Sampai di lokasi kemping menjelang dzuhur. Wah, pemandangannya indah banget. Ada beberapa kolam besar di sana, dikelilingi rindangnya pepohonan. Dan yang paling mengasyikan, tempat kemping itu ternyata berdekatan dengan pemandian air panas. Kesempatan baik untuk menghilangkan daki yang telah melekat berhari-hari.
Di sebuah lapangan yang cukup luas, dengan alas rerumputan, kami mendirikan tenda. Di sebelah tenda, berdekatan dengan pemandian, ada saung yang cukup besar. Nah, urusan masak-memasak dilaksanakan di sana. Kaum lelaki segera mendirikan tenda. Sementara Téh Nénét dan Téh Tini menyiapkan makan siang.

Di dalam tenda: Dhipa, Aki Icon, dan Téh Nénét
Tenda ada 2 buah, satu untuk cewek, satu lagi untuk cowok. Tenda untuk lelaki tentu lebih besar, karena selain umatnya lebih banyak, juga untuk antisipasi mereka yang tidurnya motah. Dengan segenap kemampuan para lelaki mendirikan ténda. Letaknya mula-mula berjauhan. Namun, kami rasa itu seperti musuhan, dan kemudian dipindahkan supaya berdekatan.
Téh Nénét bersama Téh Tini masih sibuk menyiapkan makanan. Keadaan saung menjadi sesak oleh barang-barang, bahan makanan, bumbu-bumbu, dan sebagainya. Tak ubahnya situasi rumah di kampung yang akan hajatan. Soalnya sasangkleng pisan, seperti mau menyediakan makanan buat orang sekampung.

Apip Catrix petik kecapi
Aki Icon membuat tungku. Kayu bakar sudah disiapkan. Atep ngisikan. Ada juga yang membersihkan ikan, mengupas bawang, membasuh sayuran. Berbagai menu makanan disiapkan untuk sore itu. Nasi liwet, sayur asem, goreng tempe, dan entah apalagi namanya.***(bersambung)
Tags: Kemping, Rancaupas
dodi kurnia - 22-04-2008 pukul 15.14
Munggaran !!!!
Wilujeng tepang di jomantara….
Kang Dadan, ari ngadangu kecap “Kemping” sok inget keur SMA, kuring saparakanca kemping di kebon pinus…..
Balakecrakan…komo pas dahar liwet…
Wida Farida - 22-04-2008 pukul 19.22
Iiiiiiiiiiiiiih… meni teu ngajak-ngajak iiih,…! Engke deui umumkeun atuh di blog pami aya acara kieu teh. meni hoyong pisan pendak sareng kang dadan kang atep aki icon dsb…
WF
Nyaeta, teu kabujeng ngawartosan nu sanes. Abdina ge pan nuju ngaguher basa diajak kemping teh. Eta kahoyong mah ngajakan sapangeusi Jawa Barat, mung sigana moal cekap dua mobileun. Sanes waktos we nya Neng Wida, asa ulah duaan we ngajak kempingna :-).
Nety - 22-04-2008 pukul 21.36
Wah gaya nuju lomba zippo. Pakentring-kentring. Saha cing nu pangentringna? Jeung diminyak seungitan sagala deuih.
Malik, tong nangis nya. Teu kabagian Zippo.
Nety
mang maya - 22-04-2008 pukul 22.01
iiiih……….. hiks……….
tini - 28-04-2008 pukul 21.29
aduhhhhh……..iraha kemah deui resep nya..!!!
hayu atuh kamana nya di lembur abdi we di ciawi tasik kang
Sateuacan ka Tasik, sigana mending ka Tanjungsari heula. Tiasa di buruan, caket sawah. Mun hujan tinggal bus ka imah.
(Dadan Sutisna)
teh nenet - 01-06-2008 pukul 05.14
hayulah bade di atsik atanapi di pasir loa.
kumaha pami di texas?
di pasir loa raos tiis tingtrim hate..
tapi sigana pami ka pasir loa..bakal sedih…
camping ranca upas tea makan..sareng makan we…
SABIEL - 04-11-2008 pukul 20.49
wah……..ga ngajak2 nich……