HOLISOH M.E. selalu peduli dengan perkembangan sastra Sunda. Ia melakukannya dengan mengarang banyak cerita berbahasa Sunda, mengajar bahasa Sunda, juga menjadi wartawan di media massa Sunda. Agar cerita-ceritanya tak sekadar berupa karangan yang dangkal, Holisoh tak segan-segan terjun ke dunia yang sedang menjadi objek karangannya, tak terkecuali dunia pekerja seks komersial.

Holisoh ME Saat Diwawancara Wartawan PR, Eriyanti Nurmala Déwi
TIBA-TIBA suaranya tersendat. Mikrofon yang dipegangnya dijauhkan beberapa sentimeter dari mulutnya. Isak pun tak terelakkan. Perempuan itu menghapus air matanya. Ruangan hening seketika.
Perempuan pengarang ini bukan sedang bermain sinetron. Bukan pula sedang membacakan sajak. Holisoh M.E. sedang menceritakan novelnya yang berjudul Kembang-Kembang Petingan.
Holisoh hadir pada acara “Gunem Catur Pangajaran Basa Jeung Sastra Sunda” yang diselenggarakan Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PPSS) di Aula Dipenda Kab. Kuningan, beberapa waktu lalu. Dalam perjalanan Kuningan-Bandung, ia menuturkan perjalanan karier kepengarangannya kepada “PR”.
Paling produktif
Holisoh M.E. adalah satu di antara pengarang Sunda yang dinilai paling produktif. Holisoh lahir di Cileunyi, 25 Desember 1952. Ia mulai mengarang sejak tamat SPG pada 1952. Pada saat menjadi guru SD Cileunyi, perempuan yang gemar tertawa ini sering berkumpul dengan perempuan pengarang Sunda lainnya seperti Aam Amilia, Ningrum Julaeha, Tini Kartini, Tetty Suharti, dll.
Bahkan, nama M.E. di belakangnya pun berupa “gelar” yang diberikan sahabat-sahabatnya, yakni “Mojang Elodan”. “Ah dasar we, da meureun memang kitu ayana,” ujarnya sambil tertawa lebar.
Karya pertama Holisoh dimuat di majalah Hanjuang ketika ia berusia 21 tahun. Setelah tulisan pertama itu, karya-karya lain pun bermunculan. Tahun 1973-1975 merupakan masa paling produktif bagi Holisoh. Karya-karyanya mengisi hampir semua koran, majalah, dan tabloid yang terbit pada waktu itu.
“Kebetulan, pada waktu itu memang banyak koran, majalah, dan tabloid berbahasa Sunda. Malah Teteh juga menulis untuk majalah profesi,” ujar Holisoh yang mengakrabkan dirinya dengan panggilan “Teteh”.
Sebelum menulis novel, Holisoh menulis dalam bentuk carita pondok (carpon) maupun carita nyambung (carnyam). Jumlahnya sudah tak terhitung. Bertebaran di Mangle, Giwangkara, Suara Cangkurileung, dll. Carpon-carpon tersebut dikumpulkan dalam bentuk antologi dan diterbitkan dalam bentuk buku. Sedangkan beberapa carnyam dibuatnya dalam bentuk novel.
Saking sudah banyak karya yang dibuatnya, Holisoh sering lupa dengan karyanya. “Maklum, tuda teteh mah teu rajin ngadokumentasikeun,” ujarnya.
Hampir semua karangan Holisoh bertutur tentang rakyat kecil perdesaan. Mulai dari cerita anak, remaja, sampai dewasa. Malah beberapa cerita anak hasil karyanya sempat dibeli pemerintah untuk projek SD inpres tahun 1983-1984. Kisah-kisah ini beranjak dari kehidupan manusia sehari-hari. Malah tidak sedikit kisah yang berasal dari kisah nyata. Tak mengherankan bila karya-karya Holisoh disebut-sebut sebagai karya fiksi yang realistik.
“Ah ari teteh mah, ceuk batur rek kitu rek kieu ge aliran naon-naon oge, heug mangga wae. Da teteh mah kieu ayana. Ngarang teh kaluar tina kereteg hate,” ujarnya menceritakan bahwa karangannya selalu berdasarkan kata hatinya.
Untuk menghidupkan kisah fiksinya, Holisoh sering masuk ke dalam kehidupan yang sesugguhnya. Tidak peduli kehidupan itu sangat dipandang miring oleh masyarakat. Seperti halnya pada saat Holisoh membuat Bunga-Bunga Petingan. Ia tidak hanya melihat dan mendengar dari jauh, tetapi masuk ke dalam kehidupan kaum pekerja seks komersial (PSK).
“Kalau saya sudah bertemu mereka, berat rasanya kaki melangkah. Setiap kali membayangkannya saja, sering kali saya hanya bisa menangis di ujung pintu. Tak kuasa lagi menengoknya ke belakang,” tutur Holisoh tentang pengalaman investigasinya.
Dalam novel Kembang-Kembang Petingan ini, Holisoh menggambarkan pahit getirnya kehidupan perempuan malam. Kisahnya sendiri diilhami peristiwa kebakaran yang menimpa sebuah tempat prostitusi. “Dalam kisah ini tema yang ingin saya pesankan adalah ajakan kepada siapa pun untuk melihat kaum ini dengan cara yang lebih arif. Tidak menuding, tidak mencemooh, apalagi menghukumnya. Toh, mereka juga manusia biasa yang punya rasa dan perasaan,” ujarnya tegas.
Semula, kata Holisoh, cerita ini dikirimkan ke Pasanggiri Ngarang Novél Paguyuban Pasundan, tapi tidak menang. Kemudian dimuat sebagai carnyam di Mangle dan meraih juara I Lomba Sastra LBSS dan penghargaan Rancage dari Yayasan Kebudayaan Rancage. Terakhir, ia juga memperoleh penghargaan Harjapamekas karena dinilai sebagai guru yang kreatif dan produktif.
Menanggapi semua karyanya, Holisoh mengatakan, tidak ada karya yang instan. Sebuah karya akan diterima dan terpahat abadi di hati pembacanya, apabila karya tersebut dikerjakan dengan serius. Sebuah hasil perenungan pengarang untuk sebuah kehidupan yang lebih baik. “Tapi kalaupun ada karya sastra yang instan, usianya pasti tidak akan lama. Tergeser oleh karya-karya yang lebih bagus yang merupakan hasil kerja serius,” ujarnya.
Wartawan
Selain dikenal sebagai penulis, Holisoh juga seorang wartawan. Sejak 1994 ia bergiat di surat kabar Mingguan Pelajar selama lebih kurang 6 tahun. Kemudian masuk ke majalah Giwangkara, sempat menjadi pengsuh rubrik pojok wanita di Majalah Polisi, dan sampai sekarang tercatat sebagai dewan redaksi majalah Berseka yang diterbitkan Pemerintah Kab. Bandung.
Meskipun dunia kepengarangan dan jurnalistik bergerak sama di bidang tulis menulis, bagi Holisoh kedua dunia itu justru sangat berbeda. Dunia jurnalistik menurutnya tidak bisa lepas dari fakta dan data autentik di lapangan. Sedangkan untuk dunia kepengarangan jauh lebih bebas. Keindahan dan muatan karya sangat ditentukan oleh imajinasi pengarang.
“Makanya, ketika saya mengarang Bunga-Bunga Petingan pun hanya 2 minggu. Semua itu karena fakta dan data bukan saja sudah saya alami langsung, tetapi juga sudah memenuhi seluruh ruang imajinasi saya,” ujar Holisoh seraya menambahkan bahwa novel itu dibuatnya saban waktu.
“Sebelum ngajar, dek ngarang. Setelah ngajar, dek deui ngarang. Terus saja sebelum semua ide yang ada di kepala tertumpahkan mah,” ujarnya lagi.
Namun, bukan karya besar kalau tidak diperbincangkan. Bukan pula pengarang sejati kalau tidak pernah mendapat kritikan. Begitu pula yang dialami Holisoh. Karena karyanya dianggap “miring” dari nilai-nilai dan berbeda, Holisoh pun tidak lepas dari cercaan dan makian. Namun ia jalan terus, kritikan bagi Holisoh menjadi semacam pendorong untuk menghasilkan karya yang lebih baik.
“Ah, pokoknya banyak. Ada yang setuju, banyak juga yang tidak. Mereka mengatakan, karya Holisoh tidak sesuai dengan etika, tidak sesuai dengan moral kesundaanlah, pokoknya banyak. Teteh mah sudah kenyang oleh kritik,” ujarnya.
Sama halnya kaum perempuan, Holisoh menjalani profesinya sambil membesarkan putra-putrinya. Ia dikaruniai 4 orang anak, Iman, Hilda, Robiansyah, dan Intan. Keempatnya sudah menikah. Satu di antaranya, yakni Hilda, mengikuti jejak Holisoh sebagai pengarang dan wartawan. Lulusan STSI ini pernah memenangi juara menulis cerpen majalah Mangle dan pernah menjadi wartawan Koran Sunda. “Tapi karena koran itu sekarang sudah tidak ada, Hilda anak saya sekarang jadi guru,” imbuhnya.
Tentang kiat-kiatnya menjalani dua profesi sekaligus, Holisoh mengatakan, dirinya tidak pernah menunda ide. “Jika ide itu datang, segera saya catatkan. Kalau anak-anak sudah tidur, pekerjaan sudah beres, dan badan sudah istirahat, mulailah saya menulis panjang lebar,” ujar Holisoh mengenang masa-masa produktifnya.
Karya Holisoh saat ini, memang tidak sebanyak dulu. Meskipun demikian, masih dapat ditemukan di majalah Mangle, dll. Padahal, selain pengarang Holisoh juga menjadi Kepala SD Cileunyi 5 Bandung. Bahkan, ia juga masih mengajar bahasa Sunda di 6 kelas sekaligus!
Saat ditanya tentang keberadaan guru-guru dan buku-buku bahasa Sunda, perempuan yang tinggal di Kompleks Griya Jatinangor I Tanjungsari-Sumedang ini hanya tersenyum. “Susah untuk membicarakannya, karena begitu banyak pihak terkait dengan semua ini,” ujarnya mengelak.
Kendati demikian, Holisoh mengaku, hampir sebagian besar guru saat ini tidak suka membaca. Kalaupun mereka mau membaca, hanya membaca majalah. Itu pun hanya melihat gambar-gambarnya. “Makanya, jangankan mau mengajarkan bahasa dan sastra Sunda yang benar kepada anak didik, gurunya sendiri tidak mau membaca,” ujarnya.
Perihal keberadaan buku-buku bahasa Sunda, Holisoh merasa jengkel kepada pihak-pihak yang selalu memaksakan bukunya untuk digunakan sebagai bahan ajar. Padahal, buku-buku tersebut banyak kelemahannya. Bahkan, adakalanya isi materinya salah.
“Pelajaran bahasa Sunda itu merupakan pelajaran muatan lokal. Makanya, belum ada lembaga yang mengatur isi buku secara baku dan berwibawa sesuai dengan standar. Inilah tantangan bagi kita semua,” ujar Holisoh yang bertekad ingin terus mengembangkan dan memajukan bahasa Sunda. (Eriyanti/”PR”)***
Sumber: http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id/ prprint.php?mib=beritadetail&id=21348