Godi Suwarna - Pengarang SundaKECUALI Godi Suwarna, seniman macam apa yang sudi menggelar acaranya di kuburan, apalagi untuk daerah seperti Ciamis? Kabupaten di ujung timur Jawa Barat yang sekaligus berbatasan dengan Jawa Tengah itu, pusat kotanya hampir tidak mempunyai kegiatan malam, walaupun jam dinding baru menunjukkan angka delapan. Kecuali kendaraan-kendaraan yang melewati jalur selatan atau menuju-pulang dari obyek wisata Pangandaran, suasana jalan di pusat kota terasa sepi.

Akan tetapi, Godi, begitu nama panggilan penyair dan pengarang Sunda yang dua kali menyabet hadiah sastra Rancage dari Yayasan Kebudayaan Rancage dan hadiah sastra dari Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda (LBSS) itu, tampak tidak peduli dengan berbagai komentar rencana pergelarannya. Didukung istrinya, Ny Rahmayati Nila Kusumah yang jebolan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Solo, serta pasukannya, Godi menggelar kesenian yang bertajuk Nyiar Lunar dengan perasaan “dag-dig-dug”.

Maklum, selain karena tempat pergelarannya dianggap tidak umum, waktunya juga kurang tepat. Saat itu tanggal 20 Mei 1998, situasi politik di pusat sedang tidak menentu sehingga ia berpikiran, jangan-jangan, besok lusa ia akan ditangkap aparat keamanan. Nyiar Lunar yang artinya mencari jamur yang memancarkan sinar di malam hari karena mengandung fosfor, digelar di kompleks situs purbakala Astana Gede Kawali yang letaknya sekitar 10 km utara Kota Ciamis.

Pergelaran itu sebagai ungkapan kekecewaan karena daerahnya tidak memiliki gedung kesenian. Situs Astana Gede Kawali yang dipilih sebagai tempat pergelarannya dan menyimpan enam batu prasasti peninggalan Raja Sunda itu, luasnya sekitar lima hektar. Di malam hari, tempat itu gelap gulita. Di sekitar pusat situs berdiri tegak pohon-pohon tua yang tingginya lebih dari 20 meter dengan bagian bawahnya tumbuh pohon-pohon liar.

Tanpa dukungan sound system dan aliran listrik, Godi menggelar keseniannya pada salah satu lokasi agak terpencil yang hanya bisa dicapai setelah melalui jalan setapak sejauh lebih kurang 300 meter dari pusat situs. Satu-satunya sumber penerangan yang digunakan hanyalah obor bambu yang menggunakan bahan bakar minyak tanah.

Untung pada saat itu rupanya nasib mujur masih berpihak kepadanya. “Begitu esok pagi mendengar Presiden Soeharto menyerahkan kekuasaannya, hati saya merasa plong karena tidak mungkin ditangkap,” ia mengungkapkan pengalamannya dengan tawanya yang khas.

Setelah sukses pada pergelaran pertama, menyusul pergelaran kedua pada tahun berikutnya. Bulan depan, di tempat yang sama, ia merencanakan pergelarannya yang ketiga.
*
LEBIH dikenal sebagai penyair dan pengarang Sunda, Godi lahir di Tasikmalaya, 23 Mei 1956, dari keluarga pendidik yang mencintai seni. Melalui ayahnya yang saat itu menjadi salah seorang pendidik di SLTP Panawangan, Godi dikenalkan pada karya-karya pengarang Sunda yang dimuat majalah Mangle serta guru Bahasa Sunda dan Kesenian, Sahari Iskandar.

Cintanya kepada seni Sunda makin bertambah karena sang ayah ternyata piawai memetik kacapi. Jika malam tiba, dalam suasana tempat tinggalnya yang sunyi, ayahnya memetik kacapi dan ibunya menjadi penembang. Sesekali Godi muda ikut tampil dalam kegiatan keluarga tersebut.

Tradisi yang ditanamkan orangtua dan gurunya di masa kecil itu rupanya sangat membekas, sehingga berpengaruh besar dalam pengembangan dirinya dikemudian hari. Setelah tamat SMA di Tasikmalaya, ia memilih masuk Jurusan Sastra dan Bahasa Indonesia pada Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) di Bandung.

Di tempat yang baru, ia merasa beruntung karena memperoleh ruang gerak yang lebih leluasa. Ia bisa mengembangkan minatnya dalam mengarang karena pergaulannya dengan pengarang-pengarang Sunda yang karya-karyanya dimuat di majalah Mangle. Pada saat itu, majalah tersebut termasuk penerbitan Sunda yang bermutu. Selain mulai menekuni dunia kepengarangan secara bersungguh-sungguh, ia juga aktif di Teater Nutug yang dipimpin Wawan A Husein.

Kegilaannya pada dunia sastra Sunda rupanya tidak merasa dibatasi walaupun hingga kini ia menjadi karyawan Sub-Dinas Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda, dan Olahraga (PLSPO) pada Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Ciamis itu. “Pekerjaan utama sebagai penyair dan pegawai negeri sebagai pekerjaan sambilan,” katanya. Ia merasa bersyukur karena pengertian pimpinannya sehingga memungkinkan melakukan kegiatan berkesenian tidak hanya sebatas Kabupaten Ciamis.

Dalam Forum Puisi Internasional di Bandung beberapa waktu lalu, Godi Suwarna satu-satunya penyair Sunda yang tampil dalam forum tersebut bersama penyair kaliber internasional lainnya. Dengan gayanya yang khas dan memikat, ia membacakan lima sajak Sunda ciptaannya, salah satunya adalah Dongeng Si Ujang.

Walaupun lebih dikenal sebagai penyair, Godi Suwarna sebenarnya sekaligus menulis cerita pendek. Kumpulan sajak dan cerita pendeknya yang sudah dibukukan antara lain Jagat Alit (1978), Murang-maring (1982), Surat-surat Kaliwat (1984), Blues Kere Lauk (1992), Serat Sarwa Satwa (1995), dan Sajak Dongeng Si Ujang (1996).

Karyanya yang terakhir Sandekala yang mengambil setting di Kawali, menyusul segera diterbitkan. “Saya merasa sangat akrab dengan kota kecil bernama Kawali itu,” ujarnya seraya kedua tangannya membereskan rambutnya yang tergerai sampai menutup bahu.
*
AYAH dua anak yang usianya menjelang setengah abad itu tetap bertekad menumbuhkan tradisi dan kreasi berkesenian di kalangan generasi muda di Kabupaten Ciamis. Bahkan, jika melihat apresiasi mereka, ia menilai daerah tersebut sebenarnya memiliki potensi yang cukup besar.

Oleh karena kegigihan dan semangatnya serta kreativitasnya dalam dunia seni sastra Sunda itu, setidaknya ia sudah menyandang dua predikat. Rekannya, penyair Soni Farid Maulana menjulukinya “Sang Adipati Galuh” karena Godi Suwarna merupakan penguasa dunia kesenian di Ciamis. Daerah tersebut selama ini sering dijuluki Tatar Galuh karena wilayahnya berada di bawah kekuasaan Kerajaan Galuh.

Julukan lainnya, “Manuk Dadali” diberikan “Panglima” Teater Sunda Kiwari, Dadi P Danusubrata, dalam sebuah upacara resmi di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Bandung, 5 Mei 2002. Julukan itu memperlihatkan penghargaan dan sekaligus pengakuan seniman-seniman Sunda terhadap karya-karyanya.
perkasa. Mungkin dan sangat boleh jadi karena melalui karya-karyanya, Godi telah melanglang jagat sastra Sunda dan sekaligus menjadi simbol kreativitas kesusastraan Sunda itu sendiri. Dengan demikian, dalam pandangan penyair dan pemerhati seni Beni R Budiman, Godi Suwarna merupakan penyair dan sekaligus pengarang Sunda yang memiliki dua kelebihan. Selain sebagai penulis dan pembaca sajak, ia sekaligus mampu memosisikan pembacaan sajak menjadi tontonan menarik. “Manuk Dadali” adalah sejenis burung garuda yang menjadi lambang manusia gagah

Akan tetapi, tahukah apa komentar Godi Suwarna sendiri yang disampaikan kepada rekannya, pengamat sastra Sunda Hawe Setiawan setelah ia menerima anugerah penghargaan itu? Dengan enteng dan bahkan terkesan seenaknya, ia mengatakan bahwa dirinya bukanlah Manuk Dadali apalagi menjadi Adipati Galuh.

“Uing mah surili,” ucapnya. Surili adalah binatang berkaki empat sejenis monyet.
Dasar Godi…. (Her Suganda)

Sumber: KOMPAS - Kamis, 20 Jun 2002 Halaman: 12


Tags: , , , ,