Oleh Matdon
Sejak tanggal 11 Februari 2008, sebanyak 74 kelompok teater se Jawa Barat tengah mengikuti Festival Drama Bahasa Sunda (FDBS), yang digelar Kelompok Teater Sunda Kiwari (TSK), di Gedung Kesenian Rumentang Siang Jln. Baranangsiang No. 1 Bandung. Festival yang diselenggarakan untuk kesepuluh kalinya ini akan berakhir 1 Maret 2008.
Kelompok TSK menjadi satu-satunya teater modern Sunda yang paling eksis dalam melestarikan bahasa daerah dan mengukuhkan budaya Sunda. Kelompok tersebut merupakan kelompok teater Sunda yang terus hidup walau berbagai krisis terus mendera, termasuk krisis materi naskah drama sunda tentunya.
Meski demikian selama festival ini digelar, belum tampak lahir satu kelompok teater yang aktivitas-kreativitas serta produktivitasnya melambung. Bahkan untuk dapat membuat bahasa Sunda ini bisa dihargai oleh kaum remaja, belum begitu terasa. Ini diakui oleh R Dadi P Danusubrata (Sutradara/ Penanggung jawab TSK), ia mengeluh terhadap perkembangan pemakaian bahasa Sunda di kalangan anak-anak dan remaja Sunda, yang sudah melupakan bahasa indungnya. Padahal, orang-orang Batak atau Jawa, misalnya, masih mau menggunakan bahasa indungnya (Batak/Jawa).
Kekhawatiran ini diperparah dengan perhatian pemerintah yang sangat kurang terhadap pendidikan dan budaya Sunda, di mana para siswa di sekolah hanya terpaku pada kurikulum yang ada dan baku.
Ada banyak upaya untuk memelihara bahasa dan budaya Sunda yang sudah - sedang dan akan dilakukan para sesepuh Jawa Barat, baik melalui Kongres Basa Sunda, Konferensi Internasional Budaya Sunda, Penataran Basa dan Sastra Sunda bagi para guru, serta berbagai upaya lainnya, tapi hasilnya belum maksimal. Sebab dalam tradisi orang sunda, selesai acara-acara digelar, selesai pula semangat berbudaya Sunda itu.
Sebagai sebuah komunitas Sunda yang bergerak di bidang seni peran, drama atau teater, TSK mencoba melakukan terobosan-terobosan baru, di antaranya menyelenggarakan pergelaran teater untuk siswa SD sampai SLTA, dan Festival Drama berbahasa Sunda. Ini untuk menarik perhatian pelajar secara dini agar dapat memelihara bahasa Sunda. Tujuan itu kemudian ditambah dengan menjadikan festival sebagai ajang mencari potensi dalam teater berbahasa Sunda.
“Dalam teater terdapat wilayah pendidikan moral dan budaya yang sangat mentradisi dalam kehidupan urang Sunda,” ujar Dadi seraya menambahkan hingga kini, festival itu masih tetap ada dan pasti akan ada selama TSK masih punya semangat untuk itu.
Dari segi kuantitas setiap FDBS digelar dua tahun sekali, selalu ada peningkatan. Dua tahun lalu saja diikuti 66 kelompok dan untuk FDBS 2008 ini diikuti 74 kelompok, sunggh kemajuan yang cukup signifikan. Kali ini peserta memilih satu dari enam naskah yang disediakan panitia. Masing-masing naskah “Jeblog” ( karya Nunu Azharuddin), “Badog” (Dhipa Galuh Purba), “Randu Jalaprang” (Tatang Sumarsono), “Akalna Si Apin” (saduran bebas Rosyid E. Abby atas naskah Moliere Akal Bulus Scapin”), “Karikatur Nu Gelo” (Arthur S. Nalan), dan “Rorongo” (Arma Djunaedi).
Apa yang dilakukan TSK merupakan upaya luhur, meskipun baru sebatas peristiwa festival yang sudah mengakar, sebab dibanding kelompok teater modern yang ada di Bandung, tidak pernah ada sebuah festival teater yang secara rutin diselenggarakan, baru TSK-lah yang aktif dan kreatif dalam tradisi festival ini. Upaya itu memang tidak cukup lewat festival saja. Sebab pada festival semacam ini, teater modern baru dijadikan sebagai media penyebaran bahasa Sunda, sedangkan nilai-nilai budaya dan tradisi secara mendalam, mungkin belum tersentuh seluruhnya,
Banyak upaya untuk mnyentuh akar budaya selain festival, misalnya lewat seni-seni rakyat kesundaan, kecapi suling, pantun, wayang golek, Cianjuran dan lain-lain. Namun, dukungan pemerintah setempat masih sebatas dukungan moral dan dana yang minim, tidak langsung menyentuh inti persoalan dan jalan keluarnya.
Festival Drama juga bisa dijadikan upaya memelihara obsesi untuk mencari potensi teater-teater modern berbahasa Sunda yang nantinya terlahir kelompok-kelompok teater Sunda modern yang mampu membantu TSK dalam tujuan semula dalam menggarap kembali teater tradisional yang nyaris punah seperti Longser, Uyeg dan Ubrug.
Menurut Dadi, FDBS merupakan sebuah upaya yang sangat diandalkan oleh TSK, sebab ia yakin, dalam teater terdapat wilayah pendidikan moral dan budaya yang sangat mentradisi dalam kehidupan urang Sunda, dan selama TSK masih punya semangat untuk itu.
Penyelenggaraan FDBS tahun ini agak berbeda dengan penyelenggaraan sebelumnya, karena ada sebuah kelompok teater yang berasal dari Yogyakarta yakni kelompok teater Simpay Galuh Rahayu Yogyakarta. Kelompok teater tersebut merupakan kelompok mahasiswa orang sunda yang berada di Yogryakarta dan Sumatera. “Kita memang tidak membatasi dari daerah mana saja yang ikikut festival, asal memakai bahasa sunda silahkan ikut, misalnya ada kelompok dari negara Belanda atau Jerman boleh ikut FDBS asal memakai bahasa sunda,” ujar Encep Dwi Anggara, salah seorang panitia dari TSK.
Menurut Encep, Festival ini telah memberi kontribusi pada dinamika perkembangan teater di berbagai daerah, khususnya yang menggunakan bahasa Sunda, sebuah festival diharapkan mampu menjadi stimulan bagi terbangunnya sebuah tradisi proses kreasi; serta sampai sejauh mana festival ini turut menjadi penanda penting dalam menarik hubungan antara identitas teater modern dan khazanah teater tradisional.***
Penulis adalah pengamat seni dan budaya.
Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0802/23/hib09.html, diakses 26/02/2006
Tags: Bahasa, Drama, Festival, Kiwari, Rumentang, Sandiwara, Sunda, Teater