Drama Sunda, seperti halnya sandiwara Sunda atau wayang orang (wong), yaitu dialog para pemainnya yang mempergunakan bahasa Sunda. Yang membedakannya, dalam pertunjukan sandiwara Sunda atau wayang wong, naskah ceritanya cukup diceritakan secara garis besarnya saja. Sutradara hanya memberi pengarahan kepada para pemain sebelum sandiwara Sunda atau wayang wong dipentaskan. Sebab umumnya, cerita yang disajikan sudah dikenal para penonton, seperti cerita yang sering dipentaskan dalam sandiwara Sunda: Lutung Kasarung, Mundinglaya, dan Jula Juli Bentang Tujuh. Cerita yang sering dipentaskan dalam pertunjukan wayang wong seperti Ramayana, Mahabrata, Bharatayuda, dan sebagainya.

Sementara pertunjukan drama Sunda, penataanya menurut patokan (ketentuan), dan caranya pun meniru teater Barat. Segalanya tertulis dan tertentu sampai kepada dialog dan kedudukan para pemain di atas panggung. Di Tatar Sunda, drama Sunda cukup berkembang, karena sering diadakan festival atau lomba drama Sunda antarkabupaten. Di Kota Bandung ada rombongan drama Sunda yang usianya sudah cukup lama, dan secara berkala mengadakan pertunjukan. Kelompok ini adalah Teater Sunda Kiwari.

Cerita yang disajikannya ada terjemahan dari drama Barat atau drama Indonesia. Bahkan ada cerita baru hasil karya para penulis drama Sunda seperti Drs. Wahyu Wibisana, Raden Ading Affandi (RAF), Drs. R. Hidayat Suryalaga, Drs. Saini KM, Drs. Yoseph Iskandar, dan sebagainya.

Di samping cerita baru yang mengisahkan kehidupan sehari-hari, para penulis drama Sunda juga tertarik untuk mengangkat cerita yang berlatarbelakang sejarah Sunda. Tokoh yang paling produktif dalam penulisan drama Sunda yang berlatarbelakang sejarah Sunda adalah Drs. Yoseph Iskandar. Di antara cerita atau lakon hasil karyanya adalah Ngadegna Pajajaran, Pemberontakan Cakrawarman, Runtagna Pajajaran, Nyi Puun, Tanjeur Pajajaran, dan sebagainya.

Drama Sunda cukup banyak penggemarnya di kalangan generasi muda. Di samping sebagai media untuk melestarikan bahasa Sunda dan berbahasa Sunda dengan baik, juga berfungsi sebagai media pengenalan sejarah Sunda.