Seperti di daerah-daerah lain di Nusantara, bahan yang dijadikan media dalam tradisi menulis di Sunda, pada umumnya dilakukan secara bertahap. Sebelum menggunakan kertas industri sebagai media menulis masyarakat modern, masyarakat Sunda sebelumnya menggunakan daun lontar dan kemudian kertas daluang.
KECUALI untuk sekelompok kecil ahli yang mendalami masalah sastra dan kebudayaan, dalam keseharian, daluang selama ini masih dianggap sebagai barang yang masih asing. Jangan pun untuk anak-anak muda, untuk sebagian besar orang tua sekalipun, sangat boleh jadi banyak yang belum mengenalnya.
Padahal, selain daun lontar yang dijadikan media dalam tradisi menulis, kertas daluang merupakan bahan yang banyak digunakan dalam tradisi tulis masyarakat Sunda. Biasanya, penggunaan kertas tersebut dilakukan dengan menggunakan tinta gentur, terutama untuk bahan-bahan atau buku pelajaran keagamaan sejalan dengan masuknya agama Islam ke Nusantara pada abad ke-17. Pemakaiannya lebih banyak digunakan di lingkungan pesantren dan kebutuhan administrasi lokal.
Namun, sejalan dengan makin majunya teknologi dan industri, terutama industri pulp dan kertas, penggunaan kertas daluang makin terdesak karena di samping harganya lebih mahal, produksinya tidak mungkin mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat.
Dengan demikian, sejak itu usaha pembuatan kertas tersebut hampir dapat dikatakan tidak ada lagi. Bahkan, orang-orang yang dulu terlibat langsung dalam kerajinan pembuatan kertas tersebut sudah tidak ada lagi yang melanjutkan.
Kesadaran akan tingginya kearifan tradisional tersebut barulah belakangan ini dikembangkan lagi, walaupun produksi dan penggunaannya
masih sangat terbatas. Misalnya dalam penyelenggaraan Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS), panitia secara khusus menggunakan bahan baku kertas tersebut untuk ratusan helai piagam penghargaan.
***
SECARA estetika, kertas daluang yang digunakan untuk piagam penghargaan tersebut lebih artistik. Warnanya agak kuning pucat dengan serat-serat sangat halus dengan ketebalan yang bisa diatur sesuai kebutuhan. Misalnya untuk kebutuhan tulis-menulis, ketebalan kertas daluang bisa dibuat sama dengan HVS 80 gram. Tetapi, untuk piagam, bisa lebih tebal lagi sehingga menyerupai kertas yang digunakan untuk map.
Kertas daluang menggunakan bahan baku kulit kayu pohon saeh (Broussonetia vent), yakni sejenis tumbuhan tingkat rendah yang termasuk dalam keluarga Moraceae. Di beberapa tempat disebut pula Paper moerbeiboom, Murier a papier, Japanischer papierbaum atau paper mulberry. Dalam istilah penduduk setempat, jenis tanaman ini disebut sepukau di Basemah, glugu/galugu (Jawa), dhalubang/dhulubang (Madura), kembala/rowa (Suma timur dan barat), linggowas (Banggai), iwo (tembuku) dan malak di Alf Seram. Orang-orang Sunda menyebut tanaman tersebut tangkal saeh. Tangkal artinya pohon.
Seperti halnya tumbuhan tingkat rendah, pohon saeh tidak memiliki bunga dan buah. Sedangkan daunnya menyerupai telapak tangan yang sedang mengembang dan sedikit berbulu.
Walaupun ketinggian pohon bisa mencapai empat-enam meter dalam umur tanaman kurang lebih sepuluh bulan, tetapi batang yang tampak dari pohon tersebut sebenarnya merupakan batang semu. Tanaman saeh berkembang biak melalui akar rimpangnya atau geragih. Karena di dalam akar tersebut terdapat semacam jaringan tumbuh, maka apabila akar tersebut menyembul ke permukaan tanah lalu terkena sinar matahari, akar tersebut akan terangsang berfotosintesis sehingga mengeluarkan tunas baru.
*
USAHA untuk mengenalkan kembali penggunaan kertas daluang dan sekaligus melakukan budi daya tanaman pohon saeh, antara lain dilakukan Kelompok “Bungawari”, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang memperoleh dukungan Global Environment Facility UNDP. Tedi Permadi dari Kelompok Bungawari mengungkapkan, di Garut pernah terdapat sekitar 50 hektar tanaman pohon saeh, tetapi kemudian ditebang karena dianggap tidak ekonomis. Di atas lahan kehutanan itu kemudian ditanam pohon pinus.
Selain di kawasan tanah kehutanan, ternyata sampai tahun 1997 tanaman tersebut masih ditemukan di Kampung Tunggilis, Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, Garut. “Jumlahnya antara 20-40 pohon,” katanya. Lalu, dengan bantuan Pusat Antar-Universitas Institut Teknologi Bandung (PAU-ITB), dilakukan percobaan di empat lokasi yang berbeda tingkat ketinggian dan kesuburan tanahnya.
“Ternyata percobaan penangkaran tanaman pohon saeh di Wanaraja dan Rancakalong (Sumedang) lebih berhasil,” ia mengungkapkan hasil percobaannya. Bahkan, kini sudah tersedia sekitar 2.000 benih yang siap untuk dibudidayakan.
Menurut dia, pohon saeh lebih cocok ditanam di atas daerah yang berketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut dengan kondisi letak tanahnya miring dan memiliki sumber air permukaan.
Pada lokasi tanah seperti itu, dalam umur satu tahun, tinggi tanaman bisa mencapai lima-enam meter dan setelah tiga tahun mencapai tujuh meter dengan diameter batang sekitar 12 sentimeter.
***
WALAUPUN pembuatan kertas daluang tergolong sederhana dan tradisional, tetapi tidak banyak yang diketahui bagaimana cara pembuatan kertas tersebut. Dalam percobaan yang dilakukan Kelompok Bungawari, proses pengolahannya mula-mula dilakukan dengan memotong-motong pohon saeh sesuai dengan kebutuhannya.
Batang yang sudah dipotong-potong itu kemudian dikuliti lalu dibuang kulit arinya. Bagian yang tersisa berupa kulit kayu yang bersih kemudian direndam di air bersih selama kurang lebih setengah jam.
Kulit kayu yang sudah direndam tersebut kemudian dipukul-pukul dengan menggunakan alat yang disebut pameupeuh di atas bantalan balok kayu pohon nangka sampai mencapai dua kali lipat panjang sebelumnya dan kemudian dicuci dan diperas. Selanjutnya bahan tersebut dilipat secara membujur lalu dipukul-pukul lagi hingga lebarnya mencapai setengah meter dan kemudian dijemur sampai setengah kering.
Setelah kering, kemudian direndam lagi lalu diperas dan akhirnya dilipat untuk kemudian dibungkus dengan daun pisang yang masih segar selama lima-enam hari sampai kemudian mengeluarkan lendir.
Setelah proses pemeraman, kemudian diratakan di atas papan dan kemudian ditekan beberapa kali dengan menggunakan tempurung kelapa yang bersisir. Lalu, dilanjutkan dengan menggunakan tempurung kelapa yang halus dan diakhiri dengan nangka yang sudah layu.
Bahan tersebut kemudian dibentangkan pada sebuah batang pohon pisang dan kemudian dijemur di bawah terik matahari, sampai akhirnya mengering dengan sendirinya. Permukaan yang menempel pada batang pisang tersebut akan halus. Sedangkan permukaan lainnya agak kasar dihaluskan dengan kulit kerang.
Menurut Tedi Permadi, satu hal yang belum ditemukan dalam teknik pembuatan kertas daluang adalah, bagaimana membuat kedua halaman kertas tersebut sama halusnya.
***
SELAIN menggunakan kertas daluang, tradisi menulis dalam masyarakat Sunda dilakukan dengan menggunakan tinta khusus yang dibuat sendiri. Karena pembuatannya dilakukan masyarakat Kampung Gentur, Desa Jambudipa, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, tinta tersebut disebut tinta gentur.
Tinta gentur dibuat dibuat dengan menggunakan dua jenis bahan baku utama, yakni jelaga dan beras ketan. Jelaga diperoleh dengan cara membakar minyak tanah di dalam kaleng bekas cat dan kemudian asapnya ditampung dengan menggunakan kaleng yang lebih besar. Jelaga yang sudah terkumpul kemudian dihaluskan di dalam sebuah tempat yang disebut dulang.
Bahan baku lainnya berupa beras ketan digarang di atas wajan sampai menjadi arang. Arang beras ketan tersebut kemudian disiram air panas lalu digodok sampai mendidih sehingga terbentuk santan arang yang berwarna hitam. Kepekatannya akan bertambah setelah bubur arang ketan tersebut dicampur jelaga yang sudah dihaluskan.
Sebelum digunakan sebagai tinta, cairan berupa tinta berwarna hitam tersebut disaring dengan kain lalu didinginkan. Tedi yang mengutip pembuatan tinta di Garut mengungkapkan cara yang sedikit berbeda, terutama dalam penggunaan bahan baku. Di daerah itu, bahan baku jelaga diperoleh dari merang yang dibakar sampai menjadi arang. Merang adalah batang malai padi.
Tedi mengungkapkan, dari dua kegiatan dalam tradisi menulis masyarakat Sunda “tempo doleoe” itu tampak bagaimana kearifan tradisional yang dengan jeli bisa memanfaatkan keanekaragaman hayati untuk satu pemberdayaan sumber daya alam dan masyarakat yang bisa diupayakan secara berkelanjutan. (Her Suganda)
Sumber: KOMPAS - Jumat, 24 Aug 2001 Halaman 26
Tags: Daluang, Kertas, Masyarakat, Menulis, Pena, Sunda, Tinta, Tradisional