Cerpen DADAN SUTISNA

           SEKS. Gadis seksi tetanggaku.

Aku kurang paham, mengapa orang tuanya memberi nama itu.  Apakah tidak dipertimbangkan baik-buruknya, atau setidaknya bertanya tentang arti sebuah nama. Atau mungkin mereka penganut paham Shakspeare — what is in a name  ­– sehingga tidak lagi berurusan dengan nama anak gadisnya.

Tetapi, apapun namanya, ia pernah memberikan kedipan kecil di warung kopi Mang Ujay. Waktu itu aku sedang memesan mie rebus untuk sarapan pagi. Warung Mang Ujay tidak jauh dari rumahku, sehingga setiap pagi aku bisa menikmati mie rebus kesukaanku.

Gadis itu tiba-tiba datang dan duduk di depanku; memakai kaos agak tembus pandang dan rok setengah paha.  Wajahnya ditebali make-up, dan aku mendadak mencium aroma harum di sekitar warung itu.

“Mau bikin kopi, Non?” tanya Mang Ujay, seraya menuangkan bumbu mie ke dalam mangkok.

“Gelas kecil saja, Mang. Pakai susu sedikit. Eh, Mang, di sini jualan jamu rapet ayu, nggak?” suaranya begitu nyaring dan bernada tinggi, sehingga aku agak kaget mendengarnya. Tapi di balik kenyaringan itu, aku seperti mendengar suara sensual dan merayu-rayu.

“Ya enggak atuh, Non. Ini mah warung kopi, bukan tempat berjualan jamu. Ada juga STMJ, mau?”

Gadis itu menggeleng. Ia kemudian menoleh ke arahku. Aku sedikit gusar, karena mata kirinya seperti membuat kedipan kecil.

“Sendirian?” tiba-tiba ia menyapaku. Aku hanya mengangguk. Gadis itu mengajak bersalaman. Menebar untaian senyum. Aku melihat di balik bibir merahnya ada gigi-gigi putih berkilatan.

“Namaku Seks,”

“Seks?”

“Kau kaget, ya. Aku tidak bercanda, namaku memang itu, tidak kurang-tidak lebih.  Seks adalah kata yang indah, dan aku bangga dengan panggilan itu. Namamu?”

“Panggil saja Ajag,”

“Ajag, bukankah itu anjing hutan?” ia tertawa cekikikan.  “Tapi kau tidak kelihatan buas. Kau sangat romantis. Di mana rumahmu?”

“Di depan rumahmu,”

“Jadi kau anak pedagang nasi goreng itu?”

“Ya, lantas?”

“Nggak apa-apa, cuma tanya. Hidup ini seharusnya tanpa ada perbatasan. Biarlah manusia bergaul bebas. Seperti seks!”

“Kau masih kuliah?”

“Lagi nyusun skripsi. Aku sedang mengadakan penelitian tentang seks. Ternyata seks itu indah dan nikmat, seperti namaku!”

***

AKU menatap rumahnya yang megah. Setiap sore gadis itu muncul di lantai tiga. Berdiri mematung. Tiba-tiba aku berpikir, mungkin ia tengah rindu pada seseorang.

Sementara ayahku menyiapkan dagangan untuk nanti malam, aku duduk di kursi tua, menikmati secangkir kopi, menghisap rokok keretek kesukaanku.

“Hey, Ajag, kau taruh di mana botol kecap itu?” tiba-tiba ayahku membentak.

“Mungkin masih di dapur, Pak!” kataku.

“Tidak ada. Lagi pula kenapa kau melamun terus, apa kau masih memikirkan kuliahmu yang gagal itu? Sudah kukatakan, lebih baik kau jualan nasi goreng saja!”

“Aku tidak punya bakat jualan nasi!”

“Lalu bakatmu apa? Menganggur?”

“Sudahlah, Pak. Anak itu sedang stres!” ibu tiriku datang. “Botol kecapnya sudah saya siapkan!”

Stres adalah kata yang sudah basi, selalu diucapkan ibu tiriku ketika ayahku sedang marah. Keluarga kami memang sarat dengan stres, apalagi di tengah kehidupan ekonomi yang kian terpuruk, ayahku bermaksud menikah lagi. Ibu tiriku akan dimadu, dijadikan nomor dua.  Kesimpulannya, bila niat ayah itu dikobulkan, aku akan mempunyai dua ibu tiri.   

Ayahku memang haus perempuan, setidaknya ia sudah tujuh kali menikah dan lima kali cerai. Aku sendiri dilahirkan dari istrinya yang ketiga. Ibuku meninggal karena serangan kanker (kata tetanggaku, kankernya itu kambuh karena ayahku mau menikah lagi). Bagiku tidak ada pilihan lain, kecuali mengikuti  ayah yang matanya jelalatan itu. Berganti ibu tiri, berganti rumah kontrakan.

“Hai, anak stres, mengapa kau menatap rumah itu. Apa kau tidak takut ketularan penyakit korupsi?”  kata ibu tiriku, seraya masuk ke rumah yang hanya sebesar garasi itu.

***

DI warung kopi Mang Ujay, seperti biasa aku menikmati mie rebus. Ibu tiriku tidak pernah menyediakan makanan untuk sarapan pagi. Jam delapan pagi, ayahku masih meringkuk di kamar, dan ibu tiriku sudah pergi menunaikan tugas sucinya, memeras keringat di pabrik tekstil.

Gadis itu muncul lagi. Aroma harum kembali menebar, memenuhi sudut-sudut warung Mang Ujay.  Rok mininya semakin tinggi, bibirnya semakin merah. Kami memang sudah akrab, karena setiap pagi bertemu di warung itu. Seperti biasa, ia memesan kopi dengan sedikit susu.

Setiap pagi gadis itu membual dengan bahasanya yang vulgar. Pembicaraan seputar seks tidak pernah selesai. Sebenarnya aku sudah muak mendengarnya, bahkan merasa jijik.  Kurang pantas rasanya, persoalan pribadi seperti itu diceritakan oleh wanita belia yang belum menikah. Ketika setiap sore Seks muncul di lantai tiga, aku melihatnya sebagai gadis yang ayu, jarang bicara, dan memendam kerinduan yang mendalam.  Namun di warung kopi itu, aku seperti berhadapan dengan pelacur yang tengah menjajakan harga diri.

“Hai, Ajag, kau tahu nggak, seks itu indah dan nikmat?” katanya.  Aku hanya menggeleng.

“Berbicara masalah seks, kadang-kadang kita terjebak pada permainan ranjang. Tidak juga sih, seks itu bukan berarti ranjang.  Kau mengira permainan ranjang di film-film bentuk dari pornografi. Seks tidak seperti itu, Ajag. Halus, lembut, dan menggairahkan. Sangat rahasia dan sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Mengapa orang-orang Tiongkok mendalami ilmu seks? Karena …”

“Mang, tambah lagi!” aku menyodorkan mangkok.

“Seks itu penting, Ajag. Seperti kau makan mie rebus setiap pagi.  Tapi mengapa ya, sebagian orang menutup telinga ketika seseorang berbicara tentang seks. Padahal kita perlu mempelajarinya, seperti anak-anak belajar berhitung. Eh, Ajag, terkadang seks dibuat jahat dan menyeramkan. Kau tahu siapa pelaku kejahatan seks itu?”

“Berapa, Mang? Dua mangkok tambah kerupuk tiga!”

***

TIDAK seperti biasanya, gadis di lantai tiga itu menatap ke arahku. Agak jauh memang, tapi aku melihat ada kesunyian di balik matanya. Kami saling menatap. Aku tersenyum, tetapi dia tidak tersenyum. Seks, mengapa namamu seperti itu. Mengapa kau dilahirkan di tengah keluarga orang kaya?

Sore itu ayahku membawa istri mudanya. Agak cantik, tapi kelihatannya sangat pemalas. Lihat saja, ketika ia mau memasuki rumah, ayahku diminta mencopot sepatunya. Aku hanya menoleh sebentar, kemudian menatap rumah megah itu. Seks telah menghilang. Entah ke mana.

Ibu tiri tua baru pulang dari pabrik. Sebelumnya ia menyetujui rencana ayah untuk menikah lagi. Alasan ayah cukup jelas dan masuk akal : ibu tiri tua tidak bisa memberi keturunan. Waktu itu ayah memberi pilihan; mau dicerai, atau dimadu. Ternyata ibu tiri tua masih tertarik dengan nasi goreng masakan ayah, sehingga ia memilih untuk dimadu.

Namun apa yang terjadi. Pertengkaran ronde pertama sudah dimulai. Sore itu aku mendengar suara gaduh, percekcokan, dan diakhiri dengan suara barang pecah. Ibu tiri tua menjerit. Ia kemudian berkemas, membawa seluruh pakaian, dan menangis sembari menyumpah-nyumpah.  Sejak itu ibu tiri tua tidak pernah kembali.

***

“AJAG, kau pernah membaca buku Shu Ni Jing?”

Aku menggeleng.

“Seni permainan ranjang ada di situ. Orang-orang Tiongkok memang piawai dalam bermain seks. Kamasutra juga menurutku cukup baik, bukan saja sekadar pengetahuan, namun kita bisa bertukar pengalaman seks dengan bangsa lain,”

Aku melihat pakaian gadis itu semakin transparan. Demikianlah, sehingga aku dan Mang Ujay dapat melihat apa yang ada di dalamnya. Namun aku malah jijik, dan mie di mulutku hampir tidak bisa aku telan.

“Seks, apa kau tidak bisa bicara selain masalah seks. Mungkin kehidupanmu yang hedonis itu akan lebih menarik perhatianku,”

“Apa? Kau bilang aku hedonis? Mengapa kau beranggapan seperti itu?”

“Karena kau orang kaya, dan orang kaya identik dengan kesenangan!”

“Tidak juga, Ajag. Seks dapat dinikmati juga oleh orang miskin. Orang miskin dan orang kaya, tidak ada yang melarang untuk bermain seks. Termasuk kau dan aku. Orang lain sudah muak mendengar kata-kata seks, Ajag. Kecuali kau. Aku ingin kau menjadi pendengar setia, dan setiap pagi aku akan menyuguhkan cerita seks yang berbeda,”

“Bukankah seks itu masalah pribadi?”

“Tentu, tapi perlu juga diceritakan. Kau tahu, saat ini koran-koran sudah menutup rubrik konsultasi seks. Dan situs-situs kesukaanku di internet  sudah tidak beroperasi lagi. Lihat di setiap lampu stopan, baner anti-seks dipasang besar-besar. Aku jadi bingung, kepada siapa akan aku ceritakan persoalan seks yang mendalam ini. Kecuali kau, Ajag. Kau yang harus mendengarkannya!”

“Apakah lelaki yang haus perempuan dan bergonta-ganti istri, padahal ia bukan dari golongan keluarga mampu, dapat disebut pelaku kejahatan seks?”

“Nah, kau mulai tertarik, bukan? Aku suka kau bertanya tentang seks. Begini, Ajag …”

***

DI rumah sumpek itu aku sering mendengar tawa manja. Genitnya bukan main. Bukan, bukan pada malam hari, tetapi ketika aku sedang duduk di kursi tua. Tawa manja itu ternyata menggangguku. Konsentrasiku untuk menatap gadis di lantai tiga sempat buyar. Gadis itu semakin ayu, gumamku. Ia begitu manis dan lembut. Ketika ia berdiri di balik jendela kamar, siluet tubuhnya membentuk bayang indah, dengan komposisi simetris dari atas sampai bawah. Tampaknya ia tidak suka bicara. Dan tatapannya itu, entah singgah di mana. Kerinduannya pada seseorang, tampaknya semakin mendalam. Seks. Bukankah gadis itu Seks? Penjaja cerita seks di warung kopi Mang Ujay?

Mungkin gadis lain. Tapi aku kurang yakin. Kata Mang Ujay, di rumah megah itu tidak ada lagi sosok gadis selain Seks. Bapak Kornagara, sang empunya rumah, hanya mempunyai seorang anak dan tiga istri (dua istri lainnya disimpan di vila, dan tidak pernah diceritakan kepada istri tua).

Apalagi yang dikerjakan ibu tiri muda itu. Tawa manjanya semakin genit. Dan ayahku kemana, biasanya ia menyiapkan dagangan untuk nanti malam. Roda nasi goreng masih kosong. Oh, ya, mungkin ayahku belum bangun. Menjelang waktu subuh ayahku baru pulang. Kemudian tidur. Dan ibu tiri muda selalu ditinggalkan sepanjang malam.

Setiap sore aku duduk di kursi tua. Gadis itu muncul di lantai tiga, menatap entah kemana, dan tawa manja ibu tiri muda terus mengganggu konsentrasiku. Saat itu, ayah tidak sedang menyiapkan dagangan. Roda nasi goreng masih kosong.

***

Suatu hari, aku tengah menikmati mie rebus. Mang Ujay sudah meninggal, dan warung itu sekarang diurus oleh cucunya. Ayahku juga sudah meninggal, setelah puluhan ibu tiri muda tertawa manja setiap sore ketika aku sedang menatap lantai tiga; dan saat tawa manja terdengar, ayahku tidak sedang menyiapkan dagangan. Ayahku hanya mewarisi roda nasi goreng ketika ia meninggal. Setiap malam aku mendorongnya, setelah duduk sebentar di kursi tua.

Mie rebus sudah hampir habis, ketika seorang nenek masuk dengan gigi ompongnya. Olala, aku terkejut bukan main, mengapa nenek itu mengenakan baju transparan dan rok mini setengah paha?

Ia duduk di hadapanku.

“Hey, Ajag,” katanya. “Kau tahu bahwa seks itu indah dan nikmat?”

Aku diam. Aku baru ingat nanti sore aku harus duduk di kursi tua dan menatap ke lantai tiga. Diam-diam, mengapa aku tidak meminang gadis itu untuk dijadikan istri?

Aku berdiri. Menyodorkan selembar uang kepada pemilik warung. Di sebuah cermin yang dipasang warung itu, aku melihat sosok lelaki tua, kulit keriput, gigi ompong, dan rambutnya dipenuhi uban. Aku hampir tidak percaya bahwa bayangan di cermin itu adalah wajahku sendiri.***