Cerita Pendek DADAN SUTISNA
TERNYATA Arman menepati janjinya. Malam ini ia datang dengan wajah bersinar-sinar; mengetuk pintu, mengajak bersalaman, dan kemudian duduk di ruangan tamu. Aku menyuruh istriku membuatkan dua cangkir kopi serta membawa makanan alakadarnya.
“Seperti biasa, jangan terlalu manis!” pintanya, dengan sedikit menabur senyum. Aku melihat senyumnya bagaikan cahaya warna-warni, berhamburan ke udara dan menempel di dinding-dinding.
Arman mengeluarkan rokok. Namun tidak dinyalakannya. Mungkin ia masih menunggu secangkir kopi panas, untuk menemani rokoknya itu. Kami termenung beberapa saat.
“Kemana istrimu, lama sekali!”
“Sebentar, aku panggilan!”
Aku menuju ke dapur. Namun istriku tidak ada di sana. Di kamar mandi juga tidak ada. Aku segera naik ke lantai tiga. Di kamar tengah, istriku tengah berdiri gemetaran. Mukanya pucat, matanya memancarkan ketakutan.
“Mengapa kau tidak menuruti perintahku?” aku sedikit kesal.
“Kau … kau tidak takut?”
“Apa yang perlu ditakuti, ini rumah, bukan kuburan!”
“Bukankah …. orang itu Arman?”
“Iya, lantas?”
“Dia sudah mati bunuh diri, minggu yang lalu. Mungkinkah orang mati hidup lagi dan menemui kita?”
Aku tersenyum. Aku baru menyadarinya, istriku tidak tahu masalah ini. Terlalu rumit untuk diterangkan, dan aku tidak mempunyai banyak waktu untuk itu. Arman sedang menunggu di bawah, menantikan secangkir kopi.
“Sudahlah, kalau kau takut, tidur saja. Ajaklah Si Minah untuk menemanimu!”
Aku bergegas meninggalkan kamar tengah, membuat dua cangkir kopi, dan membawanya ke ruangan tamu.
“Rupanya istriku sedang tidak enak badan!”
“Apakah dia merasa takut?”
“O, tidak. Ia hanya meriang, mungkin tadi siang kehujanan!”
“Sudahlah, kau tidak usah berbohong. Aku tahu perbincanganmu di kamar tengah itu!”
Tentu saja, kata-katanya membuatku sedikit kaget.
“Sejak aku bertemu akhirat, aku mempunyai beberapa kelebihan!” katanya sambil menyulut rokok. “Panca indraku dapat difungsikan sedemikan rupa, sehingga aku menjadi tahu apa yang tidak pernah kau pikirankan!”
“Silakan diminum kopinya!”
“Kurang pahit!”
“Atau aku bikinin lagi?”
“Tidak usah. Aku tidak mempunyai banyak waktu untuk berlama-lama di sini. Aku hanya menepati janji kita dulu. Bukankah kau ingin mengetahui bagaimana kehidupan di akhirat itu?”
“Tentu, tentu saja. Ceritakanlah!”
“Mungkin kau masih ingat, dulu kita bersahabat. Sekarang alam kita berbeda, namun kita tetap menjalin persahabatan, bukan?”
“Benar, benar!”
“Setiap malam kita berdiskusi tentang kematian. Waktu itu kau bertanya, benarkah kehidupan di akhirat itu ada? Dan jawabannya ternyata ada, aku sudah membuktikannya. Diskusi kita tentang kematian, ternyata hanya menjadi omong kosong belaka, karena yang kita bicarakan waktu itu tidak dapat dibuktikan secara empiris. Belum ada seorang ahli yang dapat meneliti kehidupan di akhirat. Dan tentu saja hal ini menjadi tanda tanya besar bagi kita yang ingin mengetahui kehidupan setelah mati. Waktu itu kau sedikit bercerita tentang dosa. Kau merasa selama hidupmu dipenuhi dengan dosa, termasuk membangun rumah dari hasil korupsi seperti yang kau lakukan sekarang ini,”
“Sebentar. Menurutku, hal itu tidak usah kau ceritakan lagi. Aku hanya ingin tahu, bagaimana akhirat itu?”
“Menurutku penting juga,”
“Terserah kalau begitu!”
“Berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun kita berdiskusi, tidak pernah mendapat sebuah kesimpulan. Kita telah membaca literatur tentang kematian, menemui orang-orang pintar, dan jawabannya adalah : orang berlumur dosa akan sengsara di akhirat kelak, dan orang soleh akan mendapat kebahagiaan. Itu pun kurang jelas, karena bukan berdasarkan sebuah riset yang meyakinkan. Mungkin kita terlalu mabuk ilmu logika, sehingga segala pernyataan harus didasarkan pada logika pula. Menurutmu, pentingkah hubungan sebab-akibat itu?”
“Penting, penting sekali!”
“Aku juga sependapat. Namun, dalam beberapa hal, akal kita terkadang tidak dapat menjangkau hubungan sebab-akibat itu. Untuk menjawab pertanyaan mengapa udara tidak dapat dilihat, persoalannya ternyata menjadi kompleks. Pemikiran kita terbatas untuk itu, apalagi jika kita memikirkan milyaran –mungkin juga tak terhingga– pertanyaan di muka bumi ini. Kembali kepada diskusi tadi. Suatu malam, kita juga berbicara tentang takdir. Mengapa manusia yang satu berbeda dengan yang lainnya. Padahal kita sama-sama diciptakan dalam rahim seorang ibu. Kau dapat menjadi orang kaya dengan ketamakanmu itu, dan aku terus-menerus hidup dalam kemiskinan. Ibuku mati dibunuh ayah, dan ayahku dipenjara karena membunuh,”
“Sudahlah, masa lalumu sudah terlewatkan, dan bagaimana kehidupanmu sekarang?”
“Kematian menjadi misteri bagi kita, waktu itu. Dan untuk menjawabnya, maka salah-seorang di antara kita harus ada yang mati lebih dulu. Malam itu kita sepakat, bahwa aku yang harus mati lebih dulu. Alasannya cukup realistis; hidupku menjadi tidak berguna tatkala ibuku mati dan ayahku dipenjara, aku sendiri tidak mempunyai masa depan yang jelas. Aku berjanji akan menemuimu setelah aku mati, dan bercerita tentang akhirat. Keesokan harinya aku bunuh diri dengan seutas tali di kamar kost, dan orang-orang menyebutku sebagai manusia yang putus asa. Akhirnya sampai juga di akhirat, namun aku tidak akan menceritakan bagaimana bentuknya. Di sana aku melihat orang-orang soleh, yang hidup di dunia dengan penuh kasih sayang, terkapar di pinggir sungai. Mereka tampak tersiksa dengan kehidupan di akhirat itu, mereka juga kelaparan dan badannya kurus-kurus. Sebaliknya orang-orang yang selama hidupnya tamak, licik, tidak adil, dan sebagainya, mendapat tempat yang menyenangkan. Setiap hari mereka berpesta pora, bersandingkan gadis-gadis cantik dan tertawa tiada hentinya,”
“Bagaimana kau dapat membedakan mereka? Maksudku, bagaimana kau bisa yakin bahwa yang terkapar itu seorang yang soleh?”
“Pertanyaan yang bagus. Aku bertanya pada mereka, mewawancarainya,”
“Mungkinkah mereka berbohong?”
“Mungkin juga. Tapi aku yakin mereka jujur. Kebohongan itu hanya ada di dunia, kawan, dan tidak berlaku di akhirat!”
“Jadi apa yang harus aku lakukan di dunia ini? Apakah harus berlama-lama dalam kelicikan agar di akhirat mendapat kebahagian?”
“Kau tentu bisa mengalilisnya dari kata-kataku tadi. Maaf, sekarang aku harus pergi. Ada beberapa orang lagi yang harus aku wawancarai. Aku bermaksud membuat novel yang berkisah tentang akhirat,”
Arman pun pergi tergesa-gesa. Ia kemudian menghilang di kegelapan malam. Sesaat setelah kepergiannya, tiba-tiba aku merasa menjadi orang yang sangat bodoh. Mengapa aku tidak bertanya tentang dirinya, apakah berada di golongan yang terkapar atau berpesta-pora? Ada sedikit harapan, mungkin ia akan menemuiku lagi untuk melaporkan perkembangan di akhirat.
Sejak malam itu, istriku jatuh sakit. Mungkin ia shok, mungkin juga karena sudah waktunya ia sakit. Untunglah aku mempunyai seorang dokter pribadi yang dengan kesetiaannya merawat istriku selama beberapa hari. Mertuaku sempat menengoknya, dan ia hanya berkata : “Mudah-mudahan istrimu lekas sembuh dan lebih soleh lagi!”
Aku sedikit bingung. Bukankah orang soleh itu akan terkapar di pinggir sungai?
Suatu malam, Arman datang lagi. Namun mukanya tidak bersinar seperti malam sebelumnya. Ia bahkan menolak ketika aku tawarkan secangkir kopi. Tentu saja hal ini membuatku kaget.
“Bukankah malam itu kau meminta secangkir kopi pahit?”
“Malam itu? Baru sekarang aku menemuimu,”
“Alah, sudah di akhirat kok masih sempat bergurau!”
“Aku serius. Baru malam ini aku datang!”
“Malam itu kau berbicara tentang akhirat. Kau bilang, orang soleh terkapar di pinggir sungai dan orang yang licik seperti aku berpesta-pora!”
“Mungkin itu hanya kemauanmu, atau kau mengada-ada. Bagi orang-orang licik dan tamak, kehidupan di akhirat itu lebih menyakitkan dari yang pernah kita bayangkan. Mereka berada di sungai-sungai kotor, tubuhnya kurus dan kepalanya sudah menyerupai tengkorak. Adapun orang-orang soleh, mereka berjalan-jalan di taman nan indah, digandeng puluhan gadis cantik!”
“Benarkah?”
“Aku melihatnya dengan mata sendiri. Sayang, aku tidak sempat memotretnya untuk lebih meyakinkan kata-kataku,”
“Jadi …” aku agak gugup dan gemetaran, “perbuatanku selama ini akan membawa mala-petaka di akhirat kelak?”
“Kau pikirkan sendiri. Janjiku sudah kutepati. Kesimpulan tentang akhirat, kau rumuskan saja, kau cukup pintar dalam membikin analisis. Sekarang aku pergi!”
“Kapan kau ke sini lagi?”
“Di akhirat aku banyak urusan. Mungkin tidak pernah kembali!”
Arman pergi ditelan gelap malam. Aku termenung, memikirkan dua sosok Arman yang datang belakangan ini. Benarkah mereka Arman? Lantas, manakah di antara mereka yang berkata jujur? Berhari-hari aku memikirkannya.
Istriku sudah sembuh. Kelihatannya, ia berusaha untuk menjadi orang soleh sesudah beberapa hari berbaring di rumah sakit. Ia kemudian aktip di pengajian, mengajar anak-anak berdoa, dan memberikan uang kepada panti asuhan. Aku tidak pernah melarang atau pun menyuruh berbuat seperti itu. Mungkin saja kemauannya. Dan yang membuatku pusing tujuh keliling, suatu malam, sosok Arman muncul lagi. Ia juga berkata baru kali ini menemuiku. Ia meminta segelas air putih, sebelum bercerita tentang akhirat.
“Akhirat itu dingin bagaikan salju,” katanya. “Aku serasa berada di padang rumput tanpa batas, dan ada tiga matahari menyinari padang itu, namun dinginnya bukan main. Mungkin lebih dingin daripada kutub selatan,”
“Bagaimana mungkin matahari bisa memancarkan kedinginan?”
“Kau belum bertemu akhirat, jadi kau tidak akan merasakannya. Di padang itu, aku merasakan kesepian luar biasa. Tidak ada makhluk di sana, apalagi yang namanya manusia. Jadi, aku tidak bisa memberi jawaban apakah orang licik seperti kau akan sengsara atau bahagia,”
“Tidak ada kehidupan sama sekali?”
“Begitulah. Akhirat itu bagaikan sebuah kertas kosong yang siap ditulisi. Aku akan memulai hidup di sana dengan sebuah peradaban baru. Mungkin aku masih menunggu seorang gadis mampir di sana, untuk aku kawini dan membuat keturunan. Sudahlah, aku pergi dulu. Aku sudah menepati janji, bukan?”
Malam itu aku tidak dapat tidur, sementara istriku berdoa dengan khusunya. Tiga sosok Arman berputar di otakku. Mereka melintas satu-persatu.
***
“MENGAPA belakangan ini kau kelihatan bingung?” kata istriku. Pagi itu aku melihat beberapa anak memakai seragam sekolah melintas di halaman rumah, mereka menabur senyum, dan senyumnya itu beterbangan ke langit, mungkin juga sampai di akhirat.
“Aku sedikit pusing!”
“Sudah minum obat?”
“Belum!”
“Jagalah kesehatanmu, bukankah kau sedang menuntaskan proyek jalan tol itu? Oh, ya, kalau ada rejeki, bolehkah ingin pergi ke Mekkah? Atau kita jual saja mobil untuk naik haji?”
“Aku sedang mencari seorang dukun,”
“Lho, sejak kapan kau percaya pada dukun?”
“Sejak … sejak aku bingung. Kau mau mengantarnya?”
Istriku tersenyum. Begitu manis senyumnya. Ada juga yang berhamburan ke udara seperti anak-anak tadi. Aku yakin kalau senyum semanis itu bisa sampai juga ke akhirat.
“Maaf, bukannya aku tidak mau mengantarmu. Mungkin kau lupa, hari ini kita akan kedatangan tamu,”
“Tamu?”
“Iya. Kiai Jumhur. Kemarin aku mengundangnya, untuk memberikan sedikit ceramah di rumah ini. Ibu-ibu pengajian dari RW 9 akan datang juga,”
“Kalau begitu, aku pergi sendiri saja!”
“Apa yang akan kau tanyakan pada dukun itu?”
Aku tidak sempat menjawabnya, karena beberapa perempuan teman istriku sudah datang. Aku segera meninggalkan rumah, mengajak seorang kenalan, dan akhirnya bertemu juga dengan seorang dukun. Aku kemudian menceritakan kejadian yang memusingkan itu. Mbah Dukun mengangguk-angguk.
“Rasanya, yang pertama itu akan lebih baik bagimu. Tapi, sebentar, pilih nomor dua juga tidak apa-apa. Namun menurut pengalaman Mbah, justru angka tiga yang harus kita pertimbangkan!”
Ingin rasanya aku tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dukun itu.***
Tanjungsari, Oktober 2003