AKHIRNYA datang juga. Setelah melakukan persiapan selama berbulan-bulan, Simposim Internasional Pernaskahan Nusantara (SIPN) XII telah dibuka hari ini, 4 Agustus 2008, jam 14.00 WIB di Grha Sanoesi Hardjadinata Unpad. Simposium ini menghadirkan 31 pemakalah dari dalam dan luar negeri dan membahas seputar naskah kuno di nusantara.

sipn_pemakalah.jpg

Kepala Perpustakaan Nasional RI menyampaikan keadaan naskah di nusantara pada SIPN XII di Unpad, 4 Agustus 2008.

SIPN rutin diadakan setiap tahun oleh Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), dan tahun ini giliran di Bandung. Ketua panitia, Dra. Étti R.S., M.Hum., memang bukan 100% orang akademisi. Ia tidak bekerja di sebuah universitas, melainkan menjadi salah satu pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bandung. Meski demikian, Ceu Etti banyak tahu tentang pernaskahan. Selain menjadi pegawai pemerintah kota, ia juga menjadi dosen tidak tetap di beberapa perguruan tinggi di Bandung.

Selain dari Manassa Pusat (Jakarta), panitia SIPN XII terdiri dari para filolog dari beberapa universitas di Bandung. Dua bulan sebelumnya selalu diadakan rapat rutin di Saung Angklung Udjo. Seperti halnya setiap kegiatan yang bertemakan budaya, pada SIPN XII juga yang “mengkhawatirkan” adalah persoalan dana. Biaya untuk sebuah acara bertaraf internasional, dengan menghadirkan 31 pemakalah dan lebih dari 300 peserta, ternyata mencapai hitungan ratusan juta (anggaran sebelum kenaikan BBM).

Saya ikut menjadi panitia di sana meski bukan filolog apalagi akademisi. Seperti biasa, hampir pada setiap kegiatan, jatah saya adalah hal-hal yang berhubungan dengan komputer seperti desain undangan, layout dan setting booklet, membuat spanduk, backdrop, X-baner, atau menyiapkan koneksi laptop dan infokus. Kadang-kadang, saya harus menunggui laptop untuk menampilkan multimedia yang saya bikin sendiri sesuai dengan tema acara.

Dalam seminggu ini adalah saat-saat yang paling melelahkan karena bolak-balik ke percetakan. Telepon sana-sini, cek ini dan itu, belum lagi request dari teman-teman panitia agar kerjaan saya cepat rampung. Undangan sudah selesai 10 hari sebelum acara. Dan yang lainnya beberapa hari kemudian. Yang paling bikin “meriang” adalah booklet, karena tadi pagi jam 10.00 belum juga dikirim dari percetakan, sementara acara akan segera dimulai.

Booklet baru datang tepat adzan dzuhur. Acara jam 14.00. Saya segera datang ke Unpad sambil angkaribung. Depan belakang motor saya ditumpangi duz besar berisi booklet. Punggung saya menggendong laptop, sementara di pinggir kamera digital ukuran jumbo. Saking rusuhnya, ketika tiba di Unpad, saya tak peduli dengan tukang parkir meniup peluit agar sepeda motor diparkir pada tempatnya. Saya menaruhnya di depan aula Unpad-di sana sangat dilarang ada sepeda motor mangkal. Dalam benak saya, nanti juga saya pindahkan, setelah menyerahkan booklet.

Di dalam lumayan sibuk. Saya baru ingat tentang sepeda motor satu jam kemudian. Saya bergegas ke depan aula dan ternyata sepeda motor sudah tak ada di tempat. Mula-mula pirasat jelek menghampiri saya, mungkin pengalaman 5 tahun lalu terulang lagi, ketika sepeda motor saya dicolong orang. Tapi… saya sedikit lega ketika melihat 4 orang satpam mengangkat sepeda motor itu ke tempat yang lebih “adil”.

Di lobi aula diadakan pameran. Ua Sasmita dari Rumah Baca Buku Sunda memamer buku-buku lama yang dicetak beberapa abad lalu. Sementara di bagian dalam, Bah Gopal memamerkan patung-patung bertajuk aksara Sunda. Di sekeling dinding dipajang lukisan-lukisan aksara Sunda. Sementara itu Kang Tedi Permadi dengan serius memperlihatkan cara pembuatan daluang. Ada juga reflika batu tulis dan Al-Qur’an Mushap Sundawi.