Meski hari masih panas, lapang sepakbola dekat kebon awi sudah dikerumuni urang lembur. Jadwal pertandingan pada hari Minggu, 20 Juli 2008, jam 2 siang, adalah Kesebelasan Ocim Club (RT 02 RW 08 kampung Pasirloa) melawan kesebelasan dari RT 03 RW 06 kampung Ciseureuh. Pertandingan diadakan di stadion Pasirloa, dekat astana dan dikelilingi rumpun bambu. Ini adalah lanjutan dari kompetisi sepakbola antar RT di Dusun II Desa Kadakajaya, Kec. Tanjungsari, Sumedang. Dalam rangka HUT RI ke-63, dan memperebutkan hadiah yang kurang begitu menarik.

Saya kebetulan lagi ada di lembur. Dan paginya, seorang teman sekampung mengajak saya untuk “mengenang masa lalu”, bermain sepakbola untuk mempertahankan martabat RT. Apalagi, katanya, pemain dari RT Ocim lebih didominasi oleh kaum tua yang secara fisik pun cepat lelah lunglai. Wah, ini tantangan berat, gumam saya. Terakhir saya main bola sekitar tahun 2001. Artinya sudah 7 tahun kaki saya tidak dikejetkeun. Namun saya menyetujuinya.

Persiapan yang paling awal adalah mencari di mana gerangan sepatu sepakbola saya. Ternyata sudah nggak ada. Untunglah seorang tetangga berbaik hati meminjamkannya. Meski sepatu itu agak sereg, sangat kotor, dan kaki-kakinya sudah pada lalocotan sehingga déngdék sabeulah.

Saya berangkat ke lapangan tepat jam 2 siang dan segera mengenakan sepatu. Pemanasan dulu siga nu heueuh, lompat ke sana ke mari, meski agak huk-hék. Uwa Daryana, sebagai pelatih, dan RT Ocim, sebagai manager, segera mengatur posisi. Dengan selembar kertas kuleuheu ia mengabsen para pemain yang sudah menggunakan kostum warna ungu. Kalau masalah strategi, katanya, tak usah terlalu dipikirkan. Mau 4-4-2, 5-3-2, atau 10-0-0 juga silakan. Yang penting mainnya rame.

Dari kampung Ciseureuh mengenakan kostum merah. Kelihatan mereka kuat-kuat, soalnya kebanyakan pekerjaan mereka memikul yang berat-berat. Saya sendiri agak gimir melihatnya, karena saya tahu dengan bermain komputer tiap hari tak mungkin meningkatkan kekuatan fisik badan saya. Wah, kumaha engké wé.

Kesebelasan RT Ocim

Kesebelasan dari RT Ocim. Berdiri dari kiri: Dudi, Endang, saya, A Adi, Mang Uhi, Mang Aténg, A Tata (supir), Kang Mamat, Nono Police, Uwa Daryana (pelatih), RT Ocim (manager); Jongkok dari kiri: Nanan, Iyan (penjaga gawang), Dadé Uplek, Wahyu.

Abah Osa, wasit senior di kampung saya, segera meniup peluit. Sebelumnya para pemain dari kedua kesebelasan yang akan bertanding disuruh berbaris dulu. Seperti para siswa yang akan dirazia, Abah Osa menggeledah pakaian dan tangan pemain. Mungkin supaya ga ada pemain yang curang, membawa pekarang atau apa saja yang sekiranya membahayakan lawan.

Dan pertandingan pun dimulai, di saat matahari lagi panas-panasnya.

Dari pengeras suara di pinggir astana, terdengar suara reporter dan komentator. Entahlah, apa ada kesalahan dalam lidah mereka, atau karena sudah jadi kebiasaan, sulit untuk membedakan apakah yang mereka saksikan itu pertandingan sepakbola atau bola voli.

“Baiklah Saudara-saudara, kita lihat penjaga gawang dari RT 02 berancang-ancang untuk melakukan servis!” katanya. Yang saya tahu, istilah servis tak pernah ada dalam pertandingan sepakbola.

Permainan kurang begitu cantik. Saya berada dipinggir karena meminta untuk jadi cadangan. Benar saja, belum juga 15 menit, Kang Mamat sudah ngajoprak di pinggir lapangan. Tangannya melambai-lambai pertanda pingin diganti. Saya pun segera singkil dan berlari ke dalam lapangan.

Posisi saya di gelandang kiri. Ini cukup merepotkan karena saya harus sprint dari ujung ke ujung, menyusuri lapangan yang garinjul dan rumputnya tinggi-tinggi. Ngahégak bukan main. Apalagi pemain lawan yang bertubuh kekar, selalu berusaha untuk menyeret badan saya sampai ngajarigjeug. Karena kelelahan, saya beberapa kali “istirahat” dulu di pinggir lapangan.

Pertandingan berakhir dengan kekalahan 1-2. Tak hanya itu, beberapa pemain ada yang cidra, mulai dari keseleo, luka pada lutut, atau mendadak kejang-kejang. Saya sendiri “dihadiahi” kaki goresan kecil pada betis, dan kulit telapak kaki sobek dan berdarah. Ini ulah sepatu yang sereg téa.

Meski kalah, kesempatan masih ada. Nanti hari Rabu main lagi.

Beberapa catatan:

Kebon awi: kebun bambu

Astana: makam; pekuburan

Lembur: kampung; urang lembur, orang kampung

Dikejetkeun: digerakkan (kaki, tangan)

Sereg: kekecilan, tidak muat

Huk-hek: napas terengah-engah

Lalocotan: sudah pada copot

Déngdék sabeulah: miring sebelah

Kuleuheu: kelihatan kotor

Kumaha engké wé: bagaimana nanti saja

Ngajoprak: tergeletak karena sakit atau cape

Singkil: bersiap-siap

Garinjul: tidak rata (tanah)

Ngahégak: tersengal-sengal (nafas)

Ngajarigjeug: hilang keseimbangan