SATU jam yang lalu saya baru saja keluar dari Gedung Wahana Bakti Pos, di Jl. Banda No. 30 Bandung. Sebelumnya, teman saya Apipudin, mengundang untuk menghadiri pagelaran drama komedi karya Kang Ibing: Mapag Pilkada di Rancaoa. Apip sendiri ikut bermain dalam drama tersebut, memerankan tokoh bangsat.

Salah sahiji adegan drama komedi “Pilkada di Rancaoa”
(Foto: Dadan Sutisna)
Naskah drama ini sebenarnya bukan tema baru. Sekitar 3 tahun yang lalu, Kang Ibing juga pernah mengadakan pertunjukan dengan judul yang sama di Hotel Horison Bandung. Saya sempat menontonnya, meski hanya dari VCD.
Pada undangan tertera acara akan dimulai pukul 19.00. Namun agak terlambat, karena ternyata pagelaran tersebut akan dihadiri oleh calon gubernur Jawa Barat 2008, Agum Gumelar. Saya kurang tahu apakah kedatangan Kang Agum hanya sebagai undangan biasa, atau ada kaitannya dengan pagelaran drama tersebut.

Juru kawih dan nayaga dalam drama komedi “Pilkada di Rancaoa”
(Foto: Dadan Sutisna)
Acara dibuka oleh Kang Ibing sendiri, sebagai penulis naskah plus sutradara. Sebagai seorang pelawak, dalam pembukaannya pun beberapa pengunjung sempat terbahak-bahak. Kemudian ada juga pertunjukan penca, sebelum acara drama dimulai.
Sampailah pada acara pokok. Popon Tembem yang memerankan tokoh Icih muncul membawa sapu lidi. Kemudian datanglah Kemed (Purnawan). Dari sinilah komedi dimulai. Ungkapan-ungkapan khas Kang Ibing muncul dari tokoh-tokoh yang memainkan drama tersebut. Penonton yang berjumlah sekitar 600 orang dibuat gergeran.

Agum Gumelar hadir dalam pagelaran drama “Pilkada di Rancaoa”
(Foto: Dadan Sutisna)
Saya sendiri hanya tersenyum-senyum, karena sebenarnya, humor-humor seperti itu telah saya tonton berkali-kali. Bahkan pada drama komedi yang berbeda judul.
Pesan yang disampaikan mungkin sedikit verbal. Tentang susahnya rakyat kecil dari berbagai sisi. Tukang beca yang banyak utang, penduduk yang tak mampu lagi membayar biaya pendidikan, juga kritikan terhadap sarana kesehatan yang lebih mementingkan orang berada.
Inti dari “Mapag Pilkada di Rancaoa” memang sedikit kabur, karena itulah drama komedi, lebih banyak mengumbar tawa dari pada memperhatikan isi cerita. Sosok bakal calon pemimpin dari Rancaoa (Ir. Wawan S.) pun dihadirkan dalam tingkah laku kocak. Menurutnya ada empat syarat untuk menjadi pemimpin: cageur, bageur, pinter, dan bener. Setelah berpidato panjang lebar, balon tersebut tiba-tiba mengundurkan diri karena ia merasa tidak bisa berlaku bener (jujur).
Suasana pun mencair setelah muncul Aom Kusman. Adegan drama berubah menjadi adegan nyata, karena salah seorang calon gubernur Jawa Barat, Agum Gumelar, ikut bergabung bersama pemain lainnya. Ia kemudian berpidato untuk memberikan definisi dari kata jujur. Agum juga berpesan bahwa kehadirannya di pertunjukan itu tak ada kaitannya dengan kampanye, namun sebagai penonton sebuah pertunjukan.
Acara berakhir pada pukul 22.30, karena setelah Agum Gumelar naik ke panggung, pertunjukan pun selesai.***(Dadan Sutisna)
Para Pemain Drama Komedi “Mapag Pilkada di Rancaoa”
Asep S. Patah sebagai Uju
Yeti Anjar sebagai Uneh
Purnawan sebagai Kemed
Popon Tembem sebagai Icih
Dien Komeng sebagai Kades
Ani Cahya sebagai Ibu Kades
H. Ayi Dapa sebagai Encuy
Gugun sebagai Sekdes
Ir. Wawan. S sebagai Balon Pilkada
Eka “Otot” sebagai Ipah
Ratih sebagai Suster
Nanang Nrp sebagai Dokter
Iya Gumbura sebagai Hansip Emen
Birawan sebagai Hansip Otong
Ajang sebagai Hansip Uje
Deris sebagai Ocin
Aguy sebagai Dole
Yopie Mpw. sebagai Satpam
Apip sebagai Bangsat
Yadi Bear sebagai Pasien
Jamil sebagai Nu Ngaliwat
Pimpinan: Asep Surayana Patah
Sekretaris: Nanang Hermana
Bendahara: Gugun Gunawan
Koord. Produksi: Ryadh Djoemena
Koord. Artisitik: Odie Genaatmadja
Koord. Teknis: Agoes Joerigh
Property: Dian Liwet
Transportasi: Amir Lukman
Sutradara/Naskah: Kang Ibing
Astrada: Kiki Mashuri
Tags: Agum Gumelar, Drama Sunda, Jawa Barat, Pilkada