Oleh DADAN SUTISNA

ADA tradisi yang terputus dalam kebiasaan membaca di kalangan anak-anak, khususnya di sekolah. Di Tatar Sunda, misalnya, pada masa pra-kemerdekaan, para murid diwajibkan membaca buku-buku yang dibagikan oleh guru. Tidak mengherankan jika buku Rusdi jeung Misnem pernah berjaya pada masa itu, bahkan telah menjadi panineungan orang-orang tua kita. Lambat-laun kebiasaan demikian mengalami perubahan, dan sekarang sudah hampir punah. Tahun 1980-an, murid sekolah dasar masih sempat menikmati buku Taman Sekar dan Taman Pamekar. Namun saat ini, buku itu hanya dijadikan koleksi pribadi para peminat sastra.

Kecenderungan terputusnya tradisi membaca buku anak-anak di kalangan murid sekolah dasar mungkin disebabkan tidak adanya kesinambungan dalam penerbitan buku-buku seperti itu. Selain itu, pengarang yang konsisten menulis cerita anak-anak dalam bahasa Sunda kini kian langka. Samsoedi mungkin dapat dikategorikan sebagai pengarang cerita anak-anak. Namun generasi penerus Samsoedi hampir dapat dikatakan tidak ada. Tampaknya pengarang Akub Sumarna ingin menjadi ahli waris Samsoedi, tapi belakangan ini produktivitasnya kian menurun.

Hadiah Samsoedi yang setiap tahun diberikan oleh Yayasan Kebudayaan Rancageuntuk buku anak-anak, kelihatannya belum dapat memicu para pengarang Sunda untuk membuat cerita anak-anak. Sejak tahun 1993, hanya sekitar 15 judul buku anak-anak yang terbit dalam bahasa Sunda.

Di antara yang sedikit itu, dan yang cukup populer, antara lain Budak Teuneung; Jatining Sobat; dan Budak Minggat (Samsoedi), Kabandang ku Kuda Lumping (Ahmad Bakri), Aker Dangsé (Wahyu Wibisana), Si Donca (Yus Rusyana), Si Paser (Tatang Sumarsono), dan sebagainya. Buku cerita anak-anak dalam bahasa Sunda sebagian besar menampilkan suasana di pedesaan. Ada juga yang berupa fabel dan legenda. Karya-karya Akub Sumarna, misalnya, lebih cenderung berupa dongeng-dongeng.

***

SEKARANG ini ada yang tengah berjuang menerbitkan kembali buku-buku dalam bahasa Sunda. Selain dicoba untuk menerbitkan buku-buku baru, juga diupayakan untuk menerbitkan buku-buku klasik yang pernah menjadi best seller pada zamannya, atau buku-buku yang sempat menjadi panineungan dan cukup baik untuk diterbitkan ulang. Salah satu di antaranya adalah buku anak-anak karya Ahmad Bakri, Kabandang ku Kuda Lumping (Tergoda oleh Kuda Lumping; Kiblat Buku Utama, 2002).

Kabandang ku Kuda Lumping (KKL) adalah karya yang dibuat pada tahun 1967, dan mulai terbit pada tahun 1969. Sebelum menjadi buku, naskah tersebut pernah memenangkan sayembara mengarang yang diadakan oleh IKAPI, tahun 1967.

Ceritanya cukup sederhana. Pengarang mengisahkan tokoh Udin, murid kelas III SD (SR?) yang bengal. Hampir setiap hari Udin dimarahi orang tuanya karena kenakalannya itu. Bahkan ayahnya pernah menakut-nakuti Udin bahwa anak nakal akan dikirimkan ke Tangerang untuk dipenjara.

Namun nasehat orang tuanya bagaikan air di daun talas, tidak berbekas. Udin sering pulang sore, bermain dan berkeluyuran bersama teman-temannya tanpa mengingat waktu. Apalagi teman-temannya selalu mengajaknya bermain ke tempat-tempat baru, dan Udin pun menyukainya.

Suatu ketika, Udin disuruh mengambil uang oleh ibunya. Sesudah makan, Udin pergi ke rumah Mang Mita, untuk mengambil uang itu. Namun sekembalinya dari rumah Mang Mita, Udin malah terpikat oleh sebuah iring-iringan. Udin tergoda oleh arak-arakan kuda lumping, sehingga lupa akan pesan ibunya. Ia pun dengan asyiknya menyaksikan tontonan itu.

Udin baru sadar ketika hari mulai sore. Ia kemudian teringat akan uang titipan di sakunya. Betapa kagetnya, karena uang itu ternyata hilang. Teman-temannya berusaha mencarinya. Namun hingga pertunjukan kuda lumping hampir selesai, uang itu belum ditemukan. Udin hanya bisa menangis.

Ia kemudian berjalan untuk mencarinya kembali. Mungkin jatuh di perjalanan, pikirnya. Di sebuah persimpangan jalan, ia termenung. Uang itu benar-benar hilang. Tiba-tiba saja ia teringat pada kata-kata bapaknya, anak yang nakal akan dikirim ke Tanggerang. Ia pun menangis kembali. Dan ketika ada seorang pedagang mengajaknya pergi, tanpa pikir panjang ia mengangguk. Ia tidak mau pulang, takut dimarahi orang tuanya dan takut dikirim ke Tangerang. Namun ia pun tidak tahu ke mana harus pergi.

Udin kemudian dititipkan kepada seorang kondektur oleh pedagang itu, dan dibawanya dengan sebuah truk. Di sebuah tempat tak dikenal, Udin diturunkan. Hari menjelang malam. Hujan mulai turun. Udin berjalan sambil menangis di tempat asing itu. Tidak ada rumah. Tidak ada siapapun. Tubuhnya basah kuyup. Sebuah penderitaan yang belumnya tak pernah dialaminya.

Untungnya, datanglah sang penolong. Sebuah mobil berhenti, dan membawanya entah ke mana. Udin kemudian dibawa oleh seorang pemilik warung. Keesokan harinya, Udin tidak bisa bangun. Tubuhnya panas. Udin pun sakit, dan beberapa hari dirawat oleh pemilik warung itu.

Pengarang membikin ending cerita dengan datangnya tetangga Udin yang kebetulan mampir ke warung itu. Singkat cerita, Udin pun bertemu kembali dengan orang tuanya.

***

DALAM khazanah sastra Sunda, Ahmad Bakri tergolong pengarang yang amat produktif. Karya-karya lainnya seperti Rajapati di Pananjung (Pembunuhan di Pananjung), Mayit dina Dahan Jéngkol (Mayat di Dahan Jengkol), Payung Butut, dan sebagainya, sempat menjadi karya populer pada tahun 1970-an. Bukunya yang terbaru adalah Dina Kalangkang Panjara (Dalam Bayang-Bayang Penjara) dan Dukun Lepus (Dukun Jempolan). Produktivitas Ahmad Bakri hingga kini belum ada yang menandingi.

Khusus untuk cerita anak-anak, saya belum membaca buku karya Ahmad Bakri lainnya. Ahmad Bakri lebih cenderung menulis cerita pendek dan novel untuk orang dewasa. Pengarang asal Ciamis itu tidak digolongkan sebagai spesialis pembuat karya anak-anak. Dan dalam produktivitasnya mengarang cerita pendek dan novel, dia sendiri tampaknya tidak banyak memusingkan soal nilai-nilai sastra dalam karya yang ditulisnya. Seperti dikemukakan oleh pengarang Abdullah Mustappa, dalam sebuah diskusi tentang Ahmad Bakri di Panglawungan Girimukti, baru-baru ini. Ahmad Bakri berpandangan bahwa “karya sastra hanya dibuat dan dibaca oleh para dewa”. Yang pasti, karangan-karangan Ahmad Bakri banyak digemari.

Dalam Kabandang ku Kuda Lumping, tema yang diambilnya lebih spesifik lagi: dunia anak-anak. Latarpedesaan pun menjadi pilihan pengarang. Suasana pilemburan itu digambarkannya melalui dialog-dialog yang hidup, tanpa banyak rekayasa, diungkapkan secara spontan dan sangat meyakinkan. Pada umumnya, karya-karya Ahmad Bakri menceritakan kehidupan orang-orang desa. Hal ini mungkin pula didasari oleh latar belakang sang pengarang yang sejak kecil tinggal di pedesaan. Pengarang begitu hapal apa yang sedang diceritakan, sehingga muatan psikologis dan antropologisnya tidak diragukan lagi.

Kehidupan anak-anak yang diceritakan dalam KKL begitu realistis, jelas, dan bersahaja. Tokoh Udin digambarkan sewajarnya, sebagai anak yang hidup di dalam lingkungan pedesaan. Itu terlihat dari cara bicaranya, juga dari tingkah-lakunya. Ia bermain di ladang, mendengarkan dongeng orang tua. Bukankah itu kebiasaan anak-anak di pedesaan?

Berangkat dari realitas, tampaknya pengarang tidak membiarkan hal-hal kecil berlalu begitu saja, walaupun sesungguhnya tidak ada hubungannya dengan jalan cerita. Ungkapan orang-orang desa, yang terkenal dengan cara bicaranya yang ngaler-ngidul, menjadi bagian terpenting dalam karya-karya Ahmad Bakri. Misalnya, ketika tokoh Aki Uda menceritakan tokoh Ki Ardawa dalam sebuah dongeng:

“Tah, Nini gé asal ti Nagarapageuh, Jang. Aya lain ngaran Ki Ardawa di ditu, Asmi?”

“Nyao, teu apal, ” témbal Nini Asmi.

“Sugan waé béjana baheula aya nu ngaran kitu?”

“Nyaho atuh, teu ngadéngé.”

“Hih, teu puguh, kolot-kolot euweuh kanyaho,”

(Halaman 36)

Ki Ardawa adalah tokoh dalam dongeng, tetapi mengapa Aki Uda menanyakan nama itu kepada istrinya. Hal ini mungkin saja terjadi, dan kita sebagai pembaca, tidak merasa terganggu, bukan?

Dialog yang hidup itulah yang mengantarkan Ahmad Bakri menjadi pengarang populer. Dialog tanpa rekayasa, seadanya. Dari segi penuturan dan keahlian dalam berbahasa Sunda, kita boleh mengacungkan jempol untuk sang pengarang.

Watak tokoh yang digambarkan pengarang dalam KKL cukup rasional. Kita bisa menilainya dari aspek psikologis dan kenyataan sehari-hari: banyak anak yang sering lupa akan nasehat orang tuanya. Namun ada pula hal-hal yang selalu diingat oleh anak-anak. Dan justru perkataan orang tuanyalah yang turut melantarankan tokoh Udin dalam KKL menemui malapetaka. Ketika tergoda oleh kuda lumping, dan merasa bersalah karena uang titipan hilang, yang selalu diingat oleh Udin adalah perkataan ayahnya bahwa anak yang nakal akan dipenjara. Udin pun berniat untuk tidak pulang ke rumah, daripada dikurung dalam penjara. Iniah salah satu kelebihan pengarang dalam memanfaatkan rasio, karena dalam cerita yang realistis, kadang-kadang kita bertanya, masuk akal tidak?

Kita bisa membagi KKL menjadi tiga gambaran cerita. Pertama, latar belakang tokoh Udin beserta kenakalannya. Kedua, puncak kenakalan tokoh Udin. Ketiga, akibat dari kenakalan itu. Pengarang cukup baik dalam mengatur komposisi, dan hal ini sangat menentukan rasionalitas sebuah cerita. Kita (demikian pula anak-anak yang akan membaca buku ini) cukup mudah untuk menangkap visi sang pengarang: kenakalan akan berakibat malapetaka.

Ya, KKL kita anggap masuk akal dan dapat dimengerti oleh anak-anak. Penuturannya, kejelasan setting-nya, watak tokohnya, begitu meyakinkan. Kita juga dapat mengamati muatan nasihat yang tidak menggurui.

Namun kadang-kadang Ahmad Bakri terlena untuk terus mendialogkan tokoh-tokohnya, sehingga fokus cerita terasa agak kabur. Dialog dalam karya Ahmad Bakri tidak pernah membosankan, namun dalam beberapa karyanya, awal cerita beranjak jauh dari belakang. Bahkan untuk menikmati klimakssekalipun terkadang kita “dipaksa” sambil tersenyum.

Dalam KKL, saat-saat mengenaskan hanya diceritakan sekilas. Buku setebal 72 halaman itu, sebagian besar isinya berupa deskripsi kehidupan anak-anak di pedesaan. Pengarang baru memulai cerita yang “sebenarnya” pada halaman 42. Klimaksnya pada saat Udin berjalan malam hari di dalam guyuran hujan. Itu pun tidak berlangsung lama, karena pengarang segera memunculkan aspek “kebetulan”. Bagian yang menjadi “nyawa” dari buku ini, terlalu cepat untuk di-antiklimaks-kan. Kebetulan saja ada mobil, kebetulan saja ada tetangganya, sehingga Udin dapat segera bertemu dengan orang tuanya. Namun untuk anak seperti Udin, kejadian itu sudah menjadi pelajaran yang berarti.

Apakah cerita ini merupakan bagian kehidupan sang pengarang di masa kanak-kanak? Entahlah. Tetapi untuk kritikus sastra Sunda Hawe Setiawan, buku ini sempat menjadi panineungan. Beberapa bagian dalam cerita itu begitu melekat dalam ingatan sang kritikus. Adapun mengenai kualitas isinya, mungkin saja kita mempunyai penilaian yang berbeda.***

Pikiran Rakyat, Kamis, 31 Oktober 2002