Judul Buku    :  Aparajito (Yang Tak Terkalahkan)
Pengarang      :  Bibhutibhushan Bandopadhyay
Penerjemah   :  Koesalah Soebagyo Toer
Penerbit         :  Pustaka Jaya
Cetakan          :  I, 2003
Tebal :  499 Halaman

———————————————————————————————————————–

Bibhutibhushan Bandyopadhyay (BB) adalah pengarang besar yang menggoreskan penanya untuk sebuah realitas. Pendapat itu dilontarkan para pengagum BB pada mailing list situs MouthShut.com. Novelnya yang terkenal, Pather Panchali (1929) dan Aparajito (1932) difilmkan oleh Satyajit Ray pada 1956 dan ditonton jutaan orang di seluruh dunia.  Sayangnya, tidak semua orang dapat menikmati keindahan bahasa BB pada novelnya. Aparajito ditulis dalam bahasa Bengali, dan ada beberapa kisah yang tidak terdapat pada layar perak. Untunglah Gopa Majumdar menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris (HarperCollins, 1999), dan kemudian ke dalam bahasa Indonesia oleh Koesalah Soebagyo Toer (Pustaka Jaya, 2003).

Aparajito merupakan kelanjutan Pather Panchali, mengisahkan petualangan Apu, putra kedua Harihar Roy, setelah meninggalkan desa kelahirannya, Nischindipur. Ia baru berumur 10 tahun ketika mulai mengenal kemiskinan bersama ibunya, Sarbajaya.  Harihar dan kakak perempuannya, Durga, telah meninggal. Namun Apu kecil yang penuh imajinasi telah mengubah dunianya sendiri.

Mula-mula ia sekolah di sebuah desa yang berdekatan dengan Monshapota, kemudian mendapat beasiswa, tinggal di asrama, berpisah dengan Sarbajaya, dan melanjutkan pendidikan tinggi di Calcutta. Apu mulai merangkai impiannya, namun kemiskinan membuatnya  hampir tidak bisa bertahan hidup di kota itu.  Seringkali ia kelaparan dan selalu merepotkan teman-temannya karena tidak mendapatkan tempat tinggal.

Ketika Apu melihat dunia mulai terang, ada saja yang membuatnya gelap. Anil, teman dekatnya, tiba-tiba meninggal, dan disusul oleh ibunya sendiri. Apu kecil yang sudah beranjak dewasa, mulai memahami tentang hidupnya yang penuh kekerasan. Padahal ia dilahirkan dari kalangan Bramana.

Kisah Apu yang dituturkan BB dalam Aparajito, hanyalah garis panjang sebuah hidup yang menghubungkan titik demi titik. Untuk sebuah novel klasik, Aparajito bukan hanya rangkaian kisah yang liris dan ritmis, tetapi telah membuka cakrawala tentang alam semesta. Aparajito tidak sesempit Nischindipur, sebuah desa di pelosok India. Aparajito adalah cita-cita Apu yang ingin menjelajahi dunia bersama Anil, temannya yang malang itu.

Alur cerita mengalir dengan sedikit flash-back - seperti yang pada novel-novel klasik lainnya. Terkadang didapati pula beberapa kejutan. Ketika pembaca mengira Apu akan menikah dengan Leela, gadis cantik dari kelurga kaya-raya, ternyata - secara kebutulan dan dramatis - ia  menikah dengan Aparna.  Dan ketika Apu bersama Kajal, anaknya, mulai mendapat uang di Calcutta dengan menulis novel dan cerita pendek, Apu memilih tinggal di desa kelahirannya, Nischindipur, setelah 24 tahun ditinggalkannya. Di desa itu Apu mencatat kembali perjalanan hidupnya,  dan Kajal kecil disiapkan untuk menjadi generasi Apu selanjutnya.

Hampir semua tokoh dalam novel ini mengalami kejadian tragis. Aparna meninggal ketika melahirkan Kajal. Leela menderita setelah berpisah dengan suaminya. Pranav, teman dekat Apu, pernah dipenjara tiga tahun dan kemudian terlibat dalam barisan komunisme. Apu sendiri hanya mendapat kisah panjang setelah 24 tahun berkelana, ternyata ketentraman baginya terdapat di Nischindipur, tempat ia menguntai masa kecil bersama keluarganya.

Tatkala BB berbicara tentang alam, ia bagaikan ahli ekologi yang serba tahu. Kegemaran Apu membaca, misalnya, mengisyaratkan keinginan pengarang  untuk memperkenalkan dunia yang lebih luas, bukan hanya menuturkan sebuah ekosistem atau sisi antropologis penduduk India masa itu.

Mungkin kita tidak menemukan hal-hal baru dalam aliran cerita. Plot, klimaks, bahkan penokohan sekalipun, rasanya biasa-biasa saja. Namun BB telah melukiskan bahasa yang indah untuk sebuah kisah, menguraikan kejadian secara detil, dan menghubungkannya satu sama lain sehingga membentuk kesatuan novel yang kokoh. Barangkali, kedalaman BB dalam mengungkap persoalan, membentangkan alam semesta di hadapan pembaca, telah menjadikan karyanya dikagumi sepanjang zaman.

BB juga tampaknya mengakui, bahwa karyanya diilhami oleh karya-karya yang pernah ada sebelumnya. Dalam Aparajito, BB mengutip puisi karya Emerson serta menyebut karya-karya pengarang India lainnya seperti Rabindranath Tagore (1861-1941).

Apakah keindahan karya BB hanya dapat dilukiskan dalam bahasa Bengali? Bagaimana ketika karya-karyanya diterjemahkan ke dalam lainnya? Persoalan ini pernah disinggung Gopa ketika ia mencoba menerjemahkan Aparajito ke dalam bahasa Inggris. Ada beberapa istilah dalam bahasa Bengali yang sulit dicari padanannya - demikian pula dalam bahasa Indonesia. Akhirnya istilah-istilah tersebut dimasukkan ke dalam daftar kata,  walaupun beberapa istilah (baik dalam terjemahan Inggris maupun Indonesia) tidak terdapat di sana.

Tetapi Meenakshi Mukherjee, kritikus sastra India, berpendapat bahwa Gopa telah menerjemahkan Aparajito dengan jernih dan enak dibaca - tentu saja ini akan berpengaruh pada terjemahan bahasa Indonesia.[ ] Dadan Sutisna