MALAM tadi, Jum’at 4 April 2008 pukul 21.00 - 22.30, Ajip Rosidi menjadi pembicara dalam dialog budaya bersama Sri Sultan Hamengkubuwono X, di Hotel Preanger Bandung. Panitia membawakan tema dialog tersebut sebagai rekonsiliasi budaya, tetapi Ajip membantahnya. Pertama, Ajip tidak merasa ada perseturuan atau permasalahan dengan Sri Sultan. Kedua, Ajip tidak merasa mewakili masyarakat Sunda.
“Kalau dialog ini disebut rekonsiliasi, mestinya antara sultan dengan sultan, karena saya tidak merasa mewakili masyarakat Sunda dalam dialog ini,” ungkapnya.
Perseturuan antara Sunda-Jawa mungkin pula disebabkan oleh kisah perang bubat yang sampai saat ini masih diteliti kebenarannya. Menurut Ajip, hal ini tak perlu dibesar-besarkan, karena sama sekali tak ada kaitannya dengan kehidupan masa kini.
Menurut Sri Sultan Hamengkubuwono X, lahirnya Indonesia bukan merupakan penerus kerajaan-kerajaan, tetapi merupakan sebuah tatanan baru yang dikukuhkan oleh Sumpah Pemuda. Artinya, semestinya tak ada persoalan dengan etnisitas, karena kita telah menyatakan untuk bersatu.
Acara dialog tersebut diprakarsai Ekayasa Unmada, Rumah Nusantara, Pejuang Siliwangi Indonesia, dan Daya Mahasiswa Sunda. Jalannya dialog dimoderatori oleh Aat Suratin, sementar MC dibawakan oleh Kris Biantoro.***(Dan)

Ajip Rosidi (kiri), pada acara dialog budaya bersama Sri Sultan Hamengkubuwono X (foto: Dadan Sutisna).

Ajip Rosidi menyerahkan Cinderamata berupa buku Sundakala kepada Sri Sultan Hamengkubuwono X (foto: Dadan Sutisna).

Sri Sultan Hamengkubuwono X, diwawancara setelah usai acara (foto: Dadan Sutisna).
Tags: Ajip Rosidi, Sunda Jawa
Juru Catur - 05-04-2008 pukul 04.05
Terima kasih atas informasinya.