Oleh KARNO KARTADIBRATA
PENGANTAR
Sejak koran berbahasa Sunda Sipatahoenan terbit pada tahun 1923 di Tasikmalaya, pers berbahasa Sunda sampai sekarang tidak pernah mati. Pada tahun 60-an misalnya, ketika koran Sipatahoenan tidak terbit lagi, penerbitan pers berbahasa Sunda justru semakin marak. Seolah-olah berlomba, beberapa majalah seperti Langensari, Sari, Cempaka, Baranangsiang, Sangkuriang dan sebagainya bermunculan. Sebelumnya, pada tahun 50-an, telah terbit majalah Warga dan Mangle. Memang beberapa majalah kemudian hilang dari peredaran, tetapi majalah Mangle, koran mingguan Galura, Majalah Cupumanik, Majalah Sunda Midang, Majalah Ujung Galuh, dan Giwangkara tetap terbit sampai sekarang.
Dengan demikian, di saat sekarangpun ketika pers telah masuk ke dunia industri dan informasi menjadi komoditi yang berakibat kompetisi semakin hebat,pers berbahasa Sunda tetap bertahan, meskipun masih banyak kekurangan baik dalam aspek permodalan, teknologi maupun manajemen. Artinya masih banyak yang perlu dibenahi bila pers berbahasa Sunda ingin tetap hidup dan mencapai kedudukan setara dengan pers lainnya.
Tulisan ini bermaksud memaparkan beberapa permasalahan pokok yang dihadapi pers berbahasa Sunda dewasa ini. Selanjutnya dicoba mengemukakan beberapa gagasan sebagai jalan keluar.
LIMA PIJAKAN
Faktor apakah sebenarnya yang mendorong beberapa pihak di Jawa Barat, baik perorangan maupun lembaga, menerbitkan pers berbahasa Sunda? Dorongan apakah yang paling utama, komersial atau idealisme? Dari pada menerbitkan pers berbahasa Sunda bukankah lebih menguntungkan menerbitkan pers berbahasa Indonesia?
Bila kita menengok ke belakang, ketika bangsa kita berupaya merebut kemerdekaan dari tangan penjajah dan pers menamakan dirinya” pers pejoang”, idealismelah yang menjadi dorongan utama. Sebagai contoh, ketika koran “Sipatahoenan” terbit, tidak seorangpun pengelolanya mendapat bayaran atau gaji. Mulai dari pimpinan redaksi sampai pesuruh, semuanya membaktikan diri untuk Tanah Air. Uang hasil yang tersisa sesudah pengeluaran biaya, dikumpulkan untuk menambah modal.
Dengan demikian, pers merupakan lembaga sosial-kultural dan bukan lembaga bisnis. Baru pada waktu kemudian, pertimbangan mencari keuntungan masuk perhitungan.
Sampai sekarangpun, pengusaha pers berbahasa Sunda masih sering mengatakan, dorongan utama mereka menerbitkan koran atau majalah semata-mata karena idealisme belaka (terkenal ucapan mereka, “ngamumule basa jeung budaya Sunda”) yang berarti, “memajukan bahasa dan kebudayaan Sunda”. Tetapi, sebagaimana juga berusaha di bidang lainnya, tentu saja bahan baku harus dibeli dan karyawan harus digaji. Oleh karena itu, perhitungan keuntungan pada akhirnya tidak mungkin luput dari pertimbangan. Dengan kata lain, setiap pengusaha pers berbahasa Sunda sebenarnya mempunyai juga pertimbangan bahwa membuka usaha di bidang pers bukan samasekali tidak membawa keuntungan.
Ada beberapa pijakan yang memperkuat pertimbangan seperti itu.
Pertama, penduduk Jawa Barat yang mayoritas orang Sunda makin lama makin bertambah jumlahnya. Taruhlah penduduk Jawa Barat yang bisa berbahasa Sunda mencapai 30 juta. Bukankah jumlah itu merupakan pasar luar biasa? Tidak heran jika dikalangan media massa sering terdengar ucapan “Coba ambil satu persen dari sejumlah itu dan kemudian menjadi langganan koran atau majalah. Bukankah oplag besar sekali”?
Patut pula dicatat, tingkat pendidikan masyarakat Jawa Barat termasuk tinggi. Beberapa perguruan tinggi terkenal seperti ITB dan Universitas Pajajaran berlokasi di Jawa Barat. Begitu pula pendapatan penduduk Jawa Barat semakin lama semakin meningkat sejalan dengan perkembangan pembangunan. Semua itu memperkuat anggapan, berusaha di bidang pers berbahasa Sunda bisa menguntungkan.
Kedua, bahasa Sunda sebagai bahasa ibu bagi masyarakat Jawa Barat lebih komunikatif. Meskipun bangsa kita memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, tetapi dalam pergaulan sehari-hari masih memakai bahasa ibu. Demikianlah yang terjadi di masyarakat Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Batak dan sebagainya. Ternyata bahasa daerah dalam beberapa hal mempunyai kelebihan dibandingkan dengan bahasa Indonesia yang kehadirannya relatif masih baru. Misalnya saja, bahasa daerah lebih kaya dalam beberapa bentuk ungkapan dan bisa lebih ekspresif karena sangat mengandung perasaan. Oleh karena itu, bahasa daerah bisa efektif dalam menyampaikan pesan tertentu atau menjelaskan suatu permasalahan.
Pers yang diantaranya bisa berfungsi melaksanakan komunikasi dua arah antara pemerintah di satu pihak dengan masyarakat di pihak lain, akan lebih komunikatif bila memakai bahasa daerah. Terlebih lagi, penduduk di beberapa tempat masih lebih mengerti bahasa daerah dari pada bahasa Indonesia.
Pers berbahasa Sunda, dengan demikian, sangat bermanfaat dan efektif sebagai sarana komunikasi sosial.
Ketiga, pers berbahasa daerah mempunyai “ceruk” tersendiri. Banyaknya penerbitan pers, khususnya yang terbit di ibukota, seakan-akan menghabiskan lahan usaha bagi penerbitan pers berbahasa daerah. Terlebih lagi dengan makin banyaknya penerbitan pers yang menghususkan diri menggarap bidang-bidang tertentu seperti pertanian, hukum, otomotif, dan sebagainya.
Dalam keadaan seperti itu, masih adakah lahan yang tersisa bagi penerbitan pers berbahasa Sunda yang bergelut pada oplag 10.000 eksemplar bahkan bisa kurang dari itu? Namun bertolak dari teori atau pandangan bahwa setiap mahluk sebenarnya mempunyai “Ceruk” atau “Niche” tersendiri, maka bisa saja disimpulkan, pers berbahasa Sundapun bisa berkembang asal mampu menemukan “niche” atau “ceruk”nya. Hal itu bisa berkaitan dengan khalayak pembaca atau muatan isi penerbitannya. Dengan demikian, baik dalam isi maupun sasaran pembaca, pers berbahasa Sunda bisa menetapkan pilihan. Tentu saja semua ini memerlukan pengamatan dan penelitian, bukan hanya berdasarkan keinginan. Survey terhadap keinginan pembaca agar bisa menetapkan muatan isi, dengan demikian selayaknya diadakan secara teratur dan berkala.
Masyarakat Sunda yang sekarang hidup di kota dan telah mencapai kehidupan yang mapan, bisa diduga masih menyimpan kenangan akan budayanya sendiri. Mereka sudah barang tentu ingin menerima informasi mengenai daerahnya sendiri termasuk perkembangan kebudayaannya. Mereka masih mempunyai rasa cinta akan memiliki budaya sendiri dan tidak ingin semuanya itu musnah. Media massa Sunda sebenarnya bisa memanfaatkan keadaan psikologis seperti itu dengan menyajikan tulisan mengenai keadaan daerah di Jawa Barat lengkap dengan kisah manusianya.
Siapakah, golongan manakah yang memenuhi kriteria seperti itu? Dimanakah mereka, bagaimanakah caranya untuk meraih mereka agar menjadi pembaca media massa Sunda? Semua ini tentu bisa dilacak bila kebijakan pemasaran telah ditetapkan dengan jelas.
Keempat, arus globalisasi tidak melemahkan tetapi justru memperkuat keinginan masyarakat mencari jati diri. Meluasnya pengaruh globalisasi menimbulkan kecemasan di sementara pihak, bahwa kekhasan setiap bangsa, baik di bidang etika, pergaulan sosial, maupun ekspresi seni dan bidang lainnya, akan terlindas. Di bidang mode,misalnya, begitu derasnya mode terakhir dari Amerika Serikat, Eropa dan negara maju lainnya masuk ke negara kita. Secara serempak muda-mudi di negara kita meniru model (potongan rambut atau pakaian) yang sedang populer di sana. Begitu Demi Moore memangkas pendek rambutnya seperti dapat di tonton dalam film Ghost, maka seperti demam mode rambut seperti itu melanda kaum wanita di negara kita. Dengan derasnya arus globalisasi, bukankah akan terjadi penyeragaman di dunia dan menghilangkan kekhasan budaya di tiap bangsa? Bukankah hal itu merupakan ancaman bagi kekhasan pengucapan bangsa kita di bidang kesenian, perilaku sosial termasuk kreativitas dan selera?
Tetapi, kenyataannya tidak sepenuhnya demikian. Arus globalisasi dalam beberapa hal justru meningkatkan hasrat masyarakat mencari jati diri. Hal ini terjadi baik di negara-negara maju maupun di negara berkembang. Di Amerika serikat, misalnya, hasrat mendalami agama tumbuh dengan kuatnya, demikian pula di negara kita. Mereka yang tadinya acuh tak acuh terhadap agama, sekarang timbul hasratnya untuk mendalami semua itu seperti terlihat di kampus-kampus, khususnya di kota-kota besar.
Hal seperti itu bisa dihubungkan pula dengan tumbuhnya kembali hasrat untuk memajukan budaya etnis. Bahasa daerah yang semula tidak diperhatikan sekarang diangkat ke kongres Bahasa dan dibuka dengan resmi oleh pejabat negara. Makanan tradisional sekarang telah masuk ke restoran, beberapa jenis kesenian telah masuk ke hotel berbintang dan ditayangkan pula di TV. Semua ini sebenarnya merupakan peluang besar bagi pers berbahasa daerah untuk mengembangkan diri.
Kelima, semangat paguyuban untuk memajukan daerah sendiri sangat kuat. Di daerah Sumatra Barat semangat ini bisa dibuktikan dengan suksesnya Gerakan Minang Seribu. Tiap orang Minang di rantau secara serempak mengirimkan uangnya paling sedikit Rp. 1000,- untuk dipakai memajukan daerahnya sendiri. Hal yang sama terjadi ketika majalah Mangle mengajak tokoh-tokoh tertentu di Jawa Barat menyumbangkan uangnya untuk dipakai membeli majalah Mangle yang kemudian disebarkan di desa-desa terpencil. Sambutan ternyata sangat baik.
Semangat paguyuban seperti itu sebenarnya sangat baik bila selamanya ditimbulkan dan diperkuat. Media massa berbahasa Sunda bisa mengajak tokoh-tokoh di Jawa Barat untuk memajukan daerahnya termasuk memajukan kehidupan pers.
MANAJEMEN, REDAKSIONAL, FINANSIAL
Tetapi kelima pijakan itu tidak akan berarti apa-apa bila tidak diikuti dengan persyaratan berupa kesiapan di bidang manajemen, redaksional dan finansial. Kesiapan manajemen akan mampu menggerakkan semua sumber daya baik yang ada diperusahaan maupun di masyarakat untuk mencapai tujuan. Sedangkan kesiapan redaksional akan mampu menyiapkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pembaca, artinya sesuai dengan syarat-syarat jurnalistik yang diharapkan. Kesiapan finansial menjamin persediaan dana agar perusahan dapat memenuhi kebutuhan setiap waktu.
KESIAPAN MANAJEMEN
Perusahaan pers hanya bisa hidup dengan baik bila cukup sumber daya dan mampu memanfaatkannya. Sumber daya itu, manusia, dana, sarana lainnya, bisa berada di perusahaan maupun di luar perusahaan. Manajemen pers yang sangat diharapkan adalah manajemen yang bisa mendayagunakan sumber daya di perusahaan (manusia, dana dan sebagainya) dan sumber daya di luar perusahaan sehingga semua potensi dapat dikerahkan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Ciri utama manajemen demikian adalah terbuka dan mendorong semua pihak berperan serta (partisipatif). Dengan terciptanya kondisi terbuka di perusahaan maka akan memudahkan pengawasan dari satu komponen terhadap komponen lainnya. Direksi, misalnya, tidak akan berbuat semaunya karena mendapat pengawasan dari komisaris, pemegang saham dan serikat karyawan. Akibat dari pengawasan itu maka aturan main di perusahaan bisa bejalan dan penyimpangan dapat ditekan sekecil mungkin. Aturan main sebagai rujukan bersama tidak disusun sepihak tetapi bersama-sama, melibatkan tingkat manajemen dan karyawan. Dengan demikian, sampai batas tertentu, keadilan dapat diwujudkan.
Salah satu penyakit kronis yang merusak pers berbahasa Sunda adalah sering timbulnya konflik antara direksi dan karyawan akibat tidak terwujudnya keadilan. Misalnya saja distribusi pendapatan yang tidak seimbang sehingga menimbulkan kesenjangan pendapatan. Inilah diantaranya yang menyebabkan pers berbahasa Sunda yang telah hidup subur di tahun-tahun 60-an tidak bisa bertahan lama. Kalaupun ada yang bisa bertahan sulit berkembang dengan pesat bak peribahasa “Bagai kerakap tumbuh di batu, hidup tidak mati tak mau”.
Manajemen terbuka dan partisipatif akan menjamin kepentingan semua pihak bertolak dari kesepakatan yang telah di susun bersama. Diperusahaan non pers kesepakatan seperti itu disebut KKB (Kesepakatan Kerja Bersama) yang menjamin hak-hak dan kewajiban baik tingkat manajemen maupun karyawan. Mengingat karyawan pers bukan buruh tetapi pemegang saham, maka ketentuan pihak karyawan memiliki saham sebesar 20 % hendaknya mendapat perhatian seksama baik dari pengelola perusahaan maupun dari pemerintah. Kelemahan dari ketentuan itu adalah sampai sekarang belum ada pegangan yang jelas. Meskipun demikian asal ada kemauan kuat dari tingkat manajemen dan serikat karyawan maka ketentuan itu bisa dilaksanakan. Dengan demikian pihak karyawan akan ikut bersama-sama menentukan jalannya perusahaan. Semangat kerjapun akan timbul karena mereka tahu keuntungan tidak jatuh pada direksi atau pemilik saja tetapi sampai juga ketangan mereka.
KESIAPAN REDAKSIONAL
Terlepas dari kekurangannya, mingguan tabloid Detik telah membuktikan bahwa kepekaan jajaran redaksi terhadap aspirasi yang sedang tumbuh di masyarakat dapat membuat media massa disukai masyarakat. Patut dicatat, mingguan Detik terbit disaat pemerintah sedang gencar melancarkan keterbukaan di segala bidang: politik, ekonomi, dan sebagainya. Disaat koran-koran lain ragu-ragu bagaimana mengisi ajakan keterbukaan itu, mingguan Detik secara gesit tampil dengan penyajian isi yang lugas dan menggigit. Penyajian isi seperti itulah yang disukai pembaca mengingat mereka telah sekian lama hanya disuguhi tulisan koran-koran yang terlalu hati-hati penyajiannya. Ternyata penyajian tulisan sekitar politik dapat menarik perhatian pembaca yang mungkin telah jenuh disuguhi tulisan hiburan sekitar gosip kehidupan artis.
Memang kemudian mingguan Detik tidak lama hidupnya karena larangan terbit dari pemerintah. Meskipun demikian, sebagai mana di bahas dalam tajuk rencana koran Kompas, kepekaan redaksi terhadap aspirasi pembacalah yang membuat mingguan tabloid itu disenangi pembaca. Kemampuan redaksi sepertin itulah yang masih kurang dimiliki jajaran redaksi pers berbahasa Sunda. Isu-isu penting apakah yang menarik perhatian masyarakat Sunda? Bagaimanakah caranya isu-isu dituangkan dalam penulisan agar menarik untuk dibaca? Semua ini tetap merupakan permasalahan yang harus dijawab redaksi pers berbahasa Sunda.
Hal lain yang sangat penting tetapi kurang ditangani adalah penguasaan jajaran redaksi terhadap penggunaan bahasa. Masih sering timbul salah anggapan bahwa ragam bahasa junalistik seolah-olah bahasa yang tidak punya aturan. Dengan demikian tumbuh sikap menganggap enteng penguasaan bahasa. Padahal ragam bahasa jurnalistik tetap bertolak dari penggunaan bahasa yang baik dan benar. Sebagaimana seorang sastrawan harus mampu menggali potensi bahasa agar dapat dituangkan menjadi karya sastra yang unggul, demikian pulalah wartawan harus mampu menggali potensi bahasa agar dapat disajikan menjadi karya jurnalistik yang unggul pula. Bagaimanakah penyajian tulisan dalam koran atau majalah bisa disenangi pembaca bila bahasa sebagai “bahan baku” tidak dikuasai penggunaannya?
Dalam penggunaan bahas Sunda memang ada masalah yaitu menyangkut pengunaan undak usuk bahasa. Masalah ini sungguh pelik bila dikaitkan dengan ragam bahasa jurnalistik. Di satu pihak bahasa pers menyaratkan demokratisasi pengunaan bahasa, karena tanpa itu tidak akan tercipta komunikasi yang komunikatif dan akrab, tetapi di pihak lain undak usuk bahas justru mensyaratkan ada tingkatan-tingkatan dalam pemakaian bahasa. Misalnya saja terhadap Bapak Gubernur, Bapak Bupati, mesti memakai kata gumujeung (artinya:tertawa), tetapi kata itu terlalu halus bila dipakai untuk tukang becak, misalnya. Nah, bagaimana jalan keluar dari pada permasalahan bahasa seperti itu?
Namun karena undak usuk bahasa telah menjadi kenyataan dalam penggunaan bahasa di masyarakat Sunda, maka tidak ada jalan lain dari pada tetap menggunakannya. Tentu saja dalam hal ini wartawan diminta dapat kreatif, artinya meskipun tetap menggunakan undak usuk bahasa tetapi harus mampu menyajikannya secara komunikatif dan akrab.
KESIAPAN FINANSIAL
Pengelolaan perusahaan pers secara profesional akan banyak membutuhkan dana baik untuk biaya peliputan tulisan maupun untuk membeli teknologi cetak. Penyajian tulisan yang lengkap dan akurat tentu saja membutuhkan biaya yang tidak sedikit, terlebih lagi harus didukung tenaga wartawan yang jumlahnya memadai. Teknologi cetak juga selayaknya mengikuti jaman, oleh karena pembaca sekarang bukan saja menyenangi isi yang aktual tetapi juga lebih suka bila isi yang baik disertai dengan tata rupa yang indah.
Darimanakah dana dapat diperoleh?
Perusahaan pers yang statis umumnya hanya mengandalkan pemasukan dana dari penjualan produk penerbitannya dan tidak menggali dana yang baru. Kebijakan seperti ini akan menyulitkan bila oplag tetap saja tidak meningkat. Oleh karena itu, mestilah diterapkan kebijakan pendanaan yang dinamis. Artinya segala sumber dana harus digali. Misalnya saja melalui kredit bank, berbagai macam bentuk kerja sama (mengundang investor untuk menanamkan modalnya di perusahaan) dan bantuan-bantuan lainnya. Semua kemungkinan ini tentu saja harus digali dan jangan dilewatkan. Hanya manajemen yang dinamis dan mempunyai akses luas terhadap sumber dana bisa memenuhi kebutuhan tersebut.
SEKARANG DAN MASA YANG AKAN DATANG
Bagaimanakah keadaan pers berbahasa Sunda sekarang?
Sebagaimana telah disinggung di awal tulisan ini, keadaan pers berbahasa Sunda masih banyak kekurangannya, baik dalam aspek permodalan, manajemen, maupun teknologi cetak. Dari semua kekurangan itu, langkanya sumber daya manusia yang unggul benar-benar merupakan penghalang.
Jadi perencanaan yang harus dimulai dari sekarang adalah mendidik sumber daya manusia yang akan mengelola perusahaan pers Sunda di masa yang akan datang. Sementara itu, pengelola yang sudah ada sekarang sudah barang tentu harus meningkatkan kecakapannya baik di bidang manajemen maupun redaksional. Namun yang lebih penting adalah menyiapkan regenerasi agar dalam waktu 10-20 tahun kedepan pers berbahasa Sunda mencapai kemantapannya.
Semua jalur hendaknya ditempuh. Pertama, menata perusahaan pers berbahasa Sunda itu sendiri. Kedua, menciptakan kondisi di masyarakat agar kehadiran pers Sunda mendapat sambutan yang baik. Rasa memiliki terhadap pers berbahasa Sunda hendaknya terus ditumbuhkan. Tokoh masyarakat baik secara informal maupun formal bisa diajak turut serta memajukan pers berbahasa Sunda.
Masyarakat dan pemerintah akan tumbuh perhatiannya terhadap pers Sunda bila pers itu sendiri giat menumbuhkan dirinya sendiri. Dengan demikian, pengelola pers berbahasa Sunda sudah seharusnya bekerja keras, tidak henti-hentinya bergumul meraih segala kemungkinan agar perusahaannya berkembang.
RANGKUMAN DAN SARAN-SARAN
Masyarakat Sunda jumlah penduduknya sangat besar dan tingkat pendidikan serta kemakmurannya juga makin meningkat. Keadaan seperti ini merupakan lahan subur bagi perusahaan pers berbahasa Sunda untuk mengembangkan kegiatannya. Selain itu masih banyak peluang lain, seperti kuatnya kecintaan masyarakat Sunda terhadap budaya sendiri, kentalnya semangat paguyuban dan hasrat yang tidak pernah padam untuk memajukan etnis sendiri. Kongres Bahasa Sunda telah diadakan beberapa kali dan mendapat perhatian besar dari masyarakat serta pemerintah membuktikan dugaan di atas. Demikian juga sambutan positif dari tokoh-tokoh masyarakat Sunda ketika mereka diajak membeli majalah MANGLE untuk disebarkan ke desa-desa tertinggal.
Namun peluang besar seperti itu belum dimanfaatkan secara maksimal mengingat pers berbahasa Sunda sampai sekarang masih dililit banyak kesulitan baik dalam aspek permodalan, manajemen maupun teknologi cetak. Dengan demikian pers berbahasa Sunda harus terus memantapkan dirinya sendiri agar siap di bidang manajemen redaksional dan finansial. Untuk itu diperlukan upaya perbaikan, pertama menata perusahaan pers itu sendiri agar setiap komponen mencapai kemantapannya, kedua, menyiasati ke luar agar masyarakat mempunyai apresiasi yang baik terhadap kehadiran pers berbahasa Sunda.
Dari sekian faktor yang perlu diperbaiki, sumber daya manusia menempati kedudukan sentral. Hanya sumber daya manusia unggullah yang akan mampu membawa pers berbahasa Sunda keluar dari kesulitan yang sedang dialami sekarang ini.
Beberapa saran di bawah ini perlu mendapat perhatian :
- Pendidikan dan latihan bagi pengelola pers berbahasa Sunda baik di bidang manajemen,redaksional, pemasaran dan bidang lainnya perlu diselenggarakan secara sistematis dan kontunyu. SPS dan PWI hendaknya menaruh perhatian terhadap pendidikan dan pelatihan ini.
- Kesejahteraan hidup karyawan pers sangat perlu diperhatikan dan terus diupayakan perbaikannya. Oleh karena itu, ketetapan bahwa karyawan pers mendapat bagian saham sebanyak 20% hendaknya dilaksanakan di setiap perusahaan pers.
- Pers berbahasa Sunda hanya dapat hidup dengan pesat bila masyarakat Sunda mempunyai apresiasi yang baik terhadap kebudayaannya. Oleh karena itu, upaya memajukan kebudayaan Sunda perlu mendapat perhatian dan bantuan dari semua pihak khususnya dari pemerintah.
- Upaya memberi motivasi seperti hadiah-hadiah untuk karya jurnalistik yang baik (hadiah jurnalistik Adinegoro dsb.) hendaknya diikuti juga di lingkungan pers berbahasa Sunda. Ada baiknya bila di Jawa Barat, PWI misalnya memberi hadiah jurnalistik Moh. Kurdi untuk jurnalistik berbahasa Sunda yang berkualitas.
- Kegiatan Hari Pers Nasional selain membahas kehidupan pers nasional ada baiknya juga membahas kehidupan pers berbahasa daerah. Media massa berbahasa Sunda sangat baik sekali bila setiap bulan Pebruari bertepatan dengan Hari pers Nasional mengadakan forum pembahasan mengenai permasalahan yang dihadapi pers berbahasa Sunda. Dalam pembahasan itu setiap permasalahan dicari jalan keluarnya sehingga diharapkan permasalahan Sunda akan mencapai kemajuan.
DAFTAR PUSTAKA
- Soebagio IN, Sebelas Perintis Pers Indonesia, Jambatan, Jakarta, 1976.
- Djuarsa Sendjaja, Ekologi Media : Analisis dan Aplikasi Teori “Niche” dalam penelitian tentang Kompetisi Antar industri Media, dalam Jurnal Ikatan ssarjana Komunikasi Indonesia, Oktober, 1993.
*) Wakil Pimpinan Redaksi Majalah MANGLE, Jl. Lodaya No. 19 Bandung. Tulisan ini merupakan makalah yang disampaikan pada Kongres Bahasa Sunda tahun 2001.